jurnalistik.co.id – Ekonomi Kanada, salah satu negara anggota G7, sedang menunjukkan tanda-tanda tekanan yang makin terasa. Prospek pertumbuhan melandai, sementara kelompok usia muda menghadapi kesulitan yang lebih menonjol, mulai dari peluang kerja hingga akses perumahan.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan berupaya menghidupkan kembali ekonomi. Dalam setahun terakhir, ia menghabiskan waktu bepergian ke luar negeri untuk membangkitkan minat bisnis agar memandang Kanada sebagai tujuan investasi.
Namun, kondisi di lapangan tidak sepenuhnya membaik. Sejumlah masalah dinilai bertaut pada dampak tarif di industri tertentu, serta hambatan yang dialami warga Kanada muda untuk mendapatkan pekerjaan dan membeli rumah.
Melihat proyeksi dari lembaga internasional, Dana Moneter Internasional (IMF) memprakirakan pertumbuhan ekonomi Kanada sebesar 1,6 persen. Angka itu memang lebih rendah dibanding Amerika Serikat, tetapi masih berada di atas negara-negara anggota G7 di Eropa.
Di saat yang sama, Organization for Economics Co-operation and Development (OECD) menilai pemulihan ekonomi Kanada akan bergerak secara moderat. OECD memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) meningkat 1,7 persen pada 2027, setelah perekonomian pulih dari perlambatan yang dipicu tarif AS.
Kanada jatuh ke resesi teknis
Di awal periode yang lebih baru, data dari badan statistik Kanada menyebutkan negara itu telah mengalami resesi teknis. Kanada tergelincir ke dalam penurunan PDB selama dua kuartal berturut-turut, yakni pada akhir 2025 dan awal tahun 2026.
Menanggapi kondisi tersebut, juru bicara Menteri Keuangan François-Philippe Champagne, John Fragos, menyampaikan bahwa pemerintah merespons secara langsung perubahan volatilitas ekonomi global sekaligus gangguan rantai pasokan yang meluas. Ia menekankan pendekatan kebijakan untuk menjaga arah pemulihan.
Fragos mengutip rencana pemerintah, “Dengan rencana serius untuk meningkatkan ekspor, menciptakan lapangan kerja, dan berinvestasi dalam proyek-proyek yang mendorong produktivitas,” kata dia dikutip dari BBC , Senin (29/6/2026).
Dengan kerangka itu, pemerintah berharap mampu meredam dampak gejolak eksternal yang selama ini berpengaruh pada aktivitas ekonomi domestik. Dalam pandangan pejabat fiskal, perubahan yang terjadi tidak berdiri sendiri, melainkan terkait pada gangguan yang menyebar dan memengaruhi berbagai sektor.
Ekonom mengingatkan agar tidak panik
Meski indikator menunjukkan pelemahan, para ekonom mengingatkan publik agar tidak langsung mengambil kesimpulan yang berlebihan. Mereka menilai pentingnya menempatkan pergerakan ekonomi dalam konteks yang lebih luas, termasuk melihat besarnya penurunan serta kemungkinan arah pemulihan berikutnya.
Jeremy Kronick, presiden lembaga kajian ekonomi non-partisan CD Howe Institute, menilai Kanada kemungkinan dapat menghindari kemunduran ekonomi yang berkepanjangan. Menurutnya, terutama karena penurunan yang terjadi dinilai tidak terlalu besar.
Ia menyampaikan, “Apakah seseorang memilih untuk menyimpulkan, kita sedang mengalami resesi atau tidak, sebenarnya itu mengabaikan inti permasalahannya,” ucap dia.
Pernyataan itu menekankan bahwa penilaian publik terhadap istilah ekonomi tidak selalu cukup untuk menjelaskan arah sesungguhnya. Para ekonom cenderung melihat faktor-faktor fundamental, termasuk dinamika kebijakan dan respons sektor-sektor produktif.
Inflasi naik dan kekhawatiran biaya hidup menguat
Di tengah perlambatan tersebut, perhatian warga Kanada terutama tertuju pada biaya hidup. Dalam jajak pendapat baru-baru ini yang dilakukan Angus Reid Institute, sekitar 61 persen responden menyatakan biaya hidup adalah kekhawatiran utama mereka.
Angka itu berada di urutan teratas dibanding isu lain seperti keterjangkauan perumahan, kejahatan, dan tarif dari AS. Dengan demikian, tekanan ekonomi tidak hanya tercermin pada indikator makro, tetapi juga pada pengalaman sehari-hari masyarakat.
Inflasi Kanada pada Mei 2026 mencapai 3,2 persen. Angka ini naik dari 2,8 persen pada April 2026, menunjukkan adanya kenaikan yang relatif nyata dalam waktu singkat.
Kenaikan inflasi tersebut disebut didorong oleh kenaikan harga energi, terutama harga bensin. Dalam penjelasannya, kondisi itu berkaitan dengan dampak perang Iran yang ikut mengerek harga bahan bakar dan komponen terkait.
Gabungan antara proyeksi pertumbuhan yang melambat, resesi teknis, serta kenaikan inflasi membuat lanskap ekonomi Kanada berada dalam fase yang lebih menantang. Di saat yang sama, persoalan ketenagakerjaan—khususnya bagi kaum muda—menambah urgensi kebijakan untuk memperluas peluang kerja dan memastikan akses ekonomi tetap terjaga.
Dengan latar tersebut, pemerintah menempatkan peningkatan ekspor, penciptaan lapangan kerja, dan investasi pada proyek yang mendukung produktivitas sebagai bagian dari respon kebijakan. Sementara itu, publik tetap memerlukan kepastian mengenai stabilitas biaya hidup, terutama karena inflasi dan harga energi menjadi faktor yang langsung memengaruhi daya beli.












