Bisnis & Ekonomi

Kementan dan UGM Sepakati Kerja Sama Tanam 2.000 Hektare Kedelai Lokal Unggulan

×

Kementan dan UGM Sepakati Kerja Sama Tanam 2.000 Hektare Kedelai Lokal Unggulan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kementan-UGM Kerja Sama Tanam 2.000 Hektare Kedelai Lokal Unggulan

jurnalistik.co.id – JAKARTA—Kementerian Pertanian (Kementan) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) sepakat menjalankan kerja sama penanaman kedelai varietas lokal unggulan seluas 2.000 hektare. Kesepakatan ini diputuskan setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyimak temuan serta pengembangan kedelai lokal yang dilakukan akademisi Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Pertemuan tersebut berlangsung di kediaman Amran di Kalibata, Jakarta Selatan, pada Senin (29/6/2026) pagi. Atris Suyantohadi selaku akademisi/mahasiswa yang mengembangkan riset, sejumlah puluhan akademisi, hingga Rektor UGM Ova Emilia turut hadir dalam sesi penyampaian hasil kerja.

Usai pertemuan, Andi Amran menyampaikan bahwa kedelai lokal yang dikembangkan UGM dinilai sudah menunjukkan produktivitas yang memadai. Ia mengatakan, “Kedelai kita kerjasama karena sudah mendapatkan produktivitas 3 ton per hektare,” saat ditemui.

Berdasarkan penjelasan Amran, proses kerja sama berawal dari permintaannya untuk menguji coba skala tertentu terlebih dahulu. Amran mulanya meminta Atris melakukan uji coba penanaman di lahan seluas 1.000 hektare, sebelum melihat pertimbangan untuk memperluas area pengembangan.

Amran kemudian mengubah rencana setelah menyaksikan langsung sampel biji yang dibawa Atris beserta produk olahan dari hasil pengembangan tersebut. Setelah evaluasi langsung, Amran menyebut pengujian perlu diperbesar menuju skala yang lebih luas, “Uji sampai 1000 hektar 2000 hektare untuk kedelai.”

Dari sisi metode budidaya, Amran menekankan bahwa kedelai lokal tersebut dibudidayakan secara alami tanpa rekayasa genetika dan tanpa pendekatan non-GMO. Ia menilai karakter tersebut menjadi nilai tambah, sekaligus bagian dari alasan kualitas kedelai lokal dianggap lebih kompetitif.

Dalam penilaian Amran, kedelai lokal yang dikembangkan UGM juga unggul dibanding kedelai impor. “Jadi ini sangat bagus. Apalagi kedelai lokal tapi butirannya lebih besar daripada impor. Ini sangat bagus,” ujarnya, dengan menyoroti ukuran butiran sebagai salah satu pembeda yang terlihat.

Kementan dan UGM merancang pengembangan produksi kedelai tersebut di Jawa Tengah. Nilai proyek disebut berada pada kisaran sekitar Rp 20 miliar, sebagaimana disampaikan Amran, “Kurang lebih Rp 20 miliar.”

Selain rencana pengembangan produksi, dukungan juga diarahkan untuk memastikan kesiapan lapangan dalam proses budidaya. Amran menyebut Kementan akan memberikan bantuan lima unit traktor dan mesin pompa guna menopang pengembangan komoditas tersebut di area yang ditetapkan.

Amran juga menjelaskan bentuk kerja samanya tidak dituangkan dalam memorandum of understanding (MoU). Menurutnya, Kementan akan membeli produk yang dikembangkan UGM dan menjalankan uji coba bersama dalam skala yang dinilai cukup besar, sehingga tahapan pengembangan dapat berjalan terukur.

Dengan demikian, kerja sama yang disepakati berfokus pada perluasan uji tanam dari tahap awal menuju skala 2.000 hektare, sekaligus mengarahkan pengembangan di Jawa Tengah melalui kombinasi dukungan produksi dan pengujian di lapangan. Keputusan ini diambil setelah Kementan melihat langsung temuan dan contoh hasil pengembangan kedelai lokal UGM, termasuk data produktivitas yang disebut mencapai 3 ton per hektare.

Penegasan kerja sama tersebut juga menekankan pentingnya uji yang dapat diukur. Setelah tahap awal dilakukan pada skala lebih kecil, evaluasi dilakukan dengan melihat langsung bahan yang dikembangkan, termasuk sampel biji serta produk olahan yang dihasilkan. Dari proses penilaian itu, Amran kemudian memandang perluasan pengujian layak dilanjutkan agar perkembangan pengembangan kedelai bisa dipahami secara lebih komprehensif di lapangan.

Dalam arah pengembangan, Kementan dan UGM selanjutnya mengarahkan fokus pengujian serta produksi ke Jawa Tengah. Amran menyebut kisaran nilai proyek sekitar Rp 20 miliar, sekaligus menggambarkan bahwa dukungan diarahkan bukan hanya pada aspek penanaman, tetapi juga pada kesiapan operasional budidaya. Untuk memperlancar pelaksanaan di area yang ditetapkan, bantuan lima unit traktor dan mesin pompa disebut akan disiapkan guna mendukung proses produksi.

Selain aspek skala dan dukungan sarana, Amran juga menyoroti karakter kedelai lokal yang dikembangkan UGM. Menurutnya, kedelai tersebut dibudidayakan secara alami tanpa rekayasa genetika, sehingga memiliki keunggulan tersendiri ketika dibandingkan dengan kedelai impor. Ia menilai ukuran butiran menjadi salah satu pembeda yang terlihat, dan temuan terkait produktivitas menjadi dasar bahwa kerja sama ini bertujuan memperluas pengujian dari tahap awal hingga mencapai 2.000 hektare.