Olahraga

Piala Dunia 2026: Kanada mencatat sejarah usai lolos ke 16 Besar

×

Piala Dunia 2026: Kanada mencatat sejarah usai lolos ke 16 Besar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: World Cup 2026: Canada making history as they reach last 16

jurnalistik.co.id – Beberapa menit setelah peluit akhir pertandingan, Jesse Marsch langsung menghimpun pemain dan seluruh stafnya dalam satu huddle besar. Di momen itu, ia menyebut mereka “Canadian heroes” setelah Kanada untuk pertama kalinya menembus fase gugur dan memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Menurut Marsch, kemenangan ini bukan sekadar hasil turnamen, melainkan juga pembuka babak baru bagi sepak bola di Kanada. Ia menyampaikan, “The future of the sport in this country is huge because of you.” Pernyataannya terdengar berani, tetapi atmosfer yang berubah di Kanada membuat nada tersebut terasa relevan bagi banyak pihak.

Perubahan itu juga terlihat dalam cara orang membicarakan olahraga di negara tersebut. Seorang penggemar mengatakan, “It is starting to become known as football now, not soccer,” dan menambahkan, “Canada is becoming a football nation.” Marsch sendiri menjadikan tujuan itu sebagai arah kerja sejak ia resmi menangani timnas Kanada dua tahun lalu.

Ia menyadari bahwa Kanada selama ini lebih identik dengan hoki es. Namun, sejak turnamen dimulai, perhatian yang terkumpul di sekitar timnas justru menunjukkan bahwa minat terhadap sepak bola terus bertumbuh. Hal ini diakui juga oleh kapten tim, Alphonso Davies, yang merasakan perubahan langsung ketika turnamen bergulir.

Davies bercerita bahwa ia sampai menangis saat melihat banyak suporter mengenakan warna merah-putih di Toronto untuk pertandingan pembuka melawan Bosnia-Herzegovina. “It was surreal because I’ve never seen so many Canadians at a football match before,” ujarnya sebelum laga melawan Afrika Selatan, dan ia menambahkan, “It brought tears to my eyes.”

Kinerja Kanada di turnamen ini memang patut dicatat. Sebelum Piala Dunia 2026, rekor mereka tercatat “played six and lost six,” tetapi mereka langsung mengubah narasi itu dengan satu poin bersejarah lewat hasil imbang melawan Bosnia-Herzegovina. Setelah itu, Kanada meraih kemenangan pertama Piala Dunia mereka dengan menghancurkan Qatar 6-0 untuk memastikan tempat di fase knockouts.

Meski demikian, jalan mereka tidak seluruhnya mulus. Kekalahan dari Swiss membuat Kanada gagal memainkan laga terakhir-32 di kandang sendiri. Karena tuan rumah tidak selalu bermain di depan pendukungnya, para fans tetap berangkat dalam jumlah besar ke Los Angeles untuk menyaksikan pertandingan melawan Afrika Selatan.

Laga di Los Angeles pun terasa seperti pertandingan kandang bagi Kanada. Ini juga menjadi catatan sejarah: “This was the first time in history a World Cup host had played a match outside their own country.” Dengan dukungan yang besar dan lantang dari tribun, tim Kanada mendapat dorongan atmosfer yang kuat saat berusaha mengakhiri tantangan Afrika Selatan.

Dari awal, Afrika Selatan tampak bertekad mendorong laga hingga adu penalti. Meski demikian, Kanada menjaga ritme permainan dan tetap tenang. Pada akhirnya, Stephen Eustaquio menjadi pembeda lewat gol pada waktu tambahan, memastikan Kanada menang dan mencapai babak 16 besar.

Usai pertandingan, Marsch menjelaskan bagaimana ia memaknai momen huddle di akhir laga. Ia berkata, “People will say it is performative to meet in the middle of the pitch,” lalu menegaskan fokusnya: “All I care about is our team and what we do together.”

Marsch juga menyebut tantangan untuk meluangkan waktu bersama pemain tidak selalu mudah, terutama karena banyak pengalihan saat pertandingan selesai. Ia menuturkan, “At full-time it is hard to be with your team as everyone is pulled in a million different directions with the media, and you don’t really have time to take that moment unless you take it right there.”

Namun ia memastikan pesan itu tetap tersampaikan di tempat dan waktu yang tepat. “I wanted to be able to voice to them how important a moment this will prove to be for the sport in the country,” katanya. Ia juga menambahkan penyesalan yang muncul karena laga tidak bisa berlangsung di Vancouver: “It is a shame we couldn’t do it in Vancouver, in front of our fans, but nevertheless I think you saw the character of the team, the quality of the team, the mentality of the team and the togetherness of the team.”

Langkah berikutnya akan menghadirkan ujian yang lebih berat. Kanada akan menghadapi salah satu dari lawan yang tersisa: Belanda atau Maroko. “Next up for Canada will be a tricky test in the shape of either the Netherlands or Morocco,” demikian rangkaian tantangannya, dengan peringkat yang membuat kedua opsi tersebut tak mudah.

Maroko berada di peringkat keenam dunia, sedangkan Belanda menempati posisi ketujuh. Meski menghadapi tim-tim berlabel besar, keyakinan tetap menjadi modal penting. Marsch menyebut ini sebagai kesempatan yang juga layak dipandang secara besar oleh para pemain dan negara. “In general my goal in this tournament, apart from inspiring our nation, was to make a run [so] that we could get to see one of the giants of the world,” ujarnya.

Ia lantas menjelaskan cara ia memandang Maroko sebagai “modern giant” dan Belanda sebagai “traditional giant.” Marsch berkata, “Given Morocco’s last six years they are a modern giant and given the success of the Dutch team for what feels like centuries that is a traditional giant.” Setelah itu, ia merangkum sikap tim: “I feel like it is a free hit and we will go after it and do whatever we can to get a win.”

Di sisi suporter, respons juga menunjukkan bahwa kemenangan ini memberi efek psikologis dan energi baru. Harry mengingat masa 1990-an ketika ia pergi menonton pertandingan Kanada bersama ayahnya, saat suporter Kanada masih menjadi minoritas di laga kandang. “I remember going to Canada games in the 1990s with my father and the Canadian fans were in the minority in their home matches,” ujarnya, lalu menambahkan, “It is incredible to see how many fans have come down into the USA to watch us, hopefully that energy can help improve us back home.”

Sean menyoroti perubahan konsentrasi dukungan. Ia berkata, “Places like Toronto have always had that much more following for soccer but hopefully it expands now to some of the cities and provinces outside of the major hubs, where typically Canada can be more of a big hockey country.”

Meski peluang selalu menuntut perjuangan, pencapaian Kanada hingga babak 16 besar sudah mengubah cara banyak orang memandang sepak bola di dalam negeri. Terlepas dari siapa pun lawan yang dihadapi setelah ini, langkah Kanada dinilai berpotensi meninggalkan jejak jangka panjang bagi perkembangan olahraga tersebut di negara mereka.