Peristiwa

Lumba-lumba Berlukanya Terdampar di Balikpapan, Penyelamatan Dua Kali Berujung Kematian

×

Lumba-lumba Berlukanya Terdampar di Balikpapan, Penyelamatan Dua Kali Berujung Kematian

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Lumba-lumba Penuh Luka Terdampar di Balikpapan, Diselamatkan 2 Kali Akhirnya Mati

jurnalistik.co.id – Seekor lumba-lumba sepanjang sekitar dua meter ditemukan terdampar dengan kondisi penuh luka di Pantai Swadaya, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur, Minggu (28/6/2026) sore.

Warga bersama aparat gabungan sempat melakukan upaya penyelamatan dua kali. Namun, mamalia laut itu akhirnya mati.

Babinsa Kelurahan Teritip, Serka Sukamto, mengatakan penyelamatan dimulai tak lama setelah hewan tersebut terlihat di bibir pantai. Saat itu, warga mencoba mendorong tubuh lumba-lumba ke bagian tengah perairan, tetapi satwa kembali terdampar ke pinggir pantai.

“Upaya penyelamatan pertama dilakukan tak lama setelah ditemukan pada sore hari. Warga mencoba mendorongnya ke tengah, tapi lumba-lumbanya kembali terdampar ke pinggir pantai,” ujar Sukamto kepada Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Operasi penyelamatan kedua di malam hari

Melihat kondisi lumba-lumba yang semakin lemah, warga kemudian berkoordinasi dengan instansi terkait. Malam harinya, operasi penyelamatan kedua dilakukan dengan melibatkan sejumlah warga, Babinsa, dan Bhabinkamtibmas.

Pada tahap ini, tubuh lumba-lumba diangkat menggunakan bentangan terpal. Mereka kemudian membawanya menuju area laut yang lebih dalam sebelum dilepaskan.

Sukamto menuturkan, tak lama setelah dilepaskan ke tengah laut, mamalia laut tersebut mengembuskan napas terakhirnya.

“Akhirnya setelah dipastikan mati, bangkainya kami bawa lagi ke pinggir pantai untuk menghindari pembusukan di laut. Tadi pagi (Senin) baru saja dikuburkan,” kata Sukamto.

Ketua RT setempat, Sri Hartini, membenarkan bahwa sejak awal ditemukan, kondisi fisik lumba-lumba memang sudah memprihatinkan. Menurutnya, luka-luka yang terlihat berjumlah banyak dan terjadi di beberapa bagian tubuh.

“Banyak sekali lukanya. Ekornya tinggal separuh seperti terpotong, dan badannya penuh luka-luka menganga,” ungkap Sri.

Ia menambahkan, peristiwa hewan terdampar seperti ini tidak terjadi untuk pertama kalinya di wilayah tersebut. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, tercatat ada tiga kasus mamalia laut ditemukan terdampar dan mati di sepanjang pantai wilayah Balikpapan Timur.

Hingga kini, penyebab pasti luka pada lumba-lumba tersebut masih belum dijelaskan secara resmi oleh pihak berwenang. Sukamto dan warga setempat menduga satwa mengalami hantaman keras atau jeratan alat tangkap di laut lepas.

“Diduga kuat, satwa tersebut mengalami hantaman keras atau jeratan alat tangkap di laut lepas,” kata Sri.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak terkait penyebab pasti luka tragis pada mamalia tersebut.

Peristiwa ini menegaskan pentingnya respons cepat saat temuan satwa laut terjadi di area pesisir, sekaligus kebutuhan investigasi lebih lanjut untuk memahami faktor penyebab, termasuk kemungkinan keterlibatan alat tangkap di perairan terbuka.

Sore itu, lumba-lumba pertama kali terlihat terdampar di area Pantai Swadaya, Kelurahan Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur. Begitu laporan muncul, warga bersama petugas gabungan bergerak cepat untuk mencoba mengupayakan pemindahan ke perairan, sebelum kondisi tubuhnya makin memburuk.

Pada upaya penyelamatan pertama, warga mendorong tubuh mamalia tersebut ke bagian tengah perairan. Namun, upaya itu tidak bertahan lama karena lumba-lumba kembali masuk dan terdampar di tepi pantai, sehingga tindakan lanjutan perlu segera disusun dengan pendekatan yang berbeda.

Setelah koordinasi berlanjut hingga malam, operasi penyelamatan kedua dilakukan dengan melibatkan warga serta unsur Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Kali ini, tubuh lumba-lumba diangkat menggunakan bentangan terpal, kemudian dibawa menjauh dari bibir pantai menuju perairan yang lebih dalam sebelum akhirnya dilepaskan.

Menurut keterangan Sukamto, setelah dilepaskan ke tengah laut, mamalia tersebut hanya sempat bertahan dalam waktu singkat sebelum mengembuskan napas terakhirnya. Untuk mengantisipasi dampak pembusukan di perairan, bangkai kemudian dibawa lagi ke pesisir dan dikuburkan pada pagi hari.

Ketua RT setempat, Sri Hartini, menyebut sejak awal kondisi fisik lumba-lumba memang sangat memprihatinkan. Luka yang terlihat disebut banyak dan tersebar di beberapa bagian tubuh, termasuk bagian ekor yang tinggal separuh. Ia juga menuturkan bahwa temuan serupa tidak muncul pertama kali di wilayah itu; dalam dua tahun terakhir tercatat tiga kasus mamalia laut ditemukan terdampar dan mati di sepanjang pantai Balikpapan Timur, sementara penyebab pastinya masih belum ada penjelasan resmi. Dugaan warga mengarah pada kemungkinan hantaman keras atau jeratan alat tangkap di laut lepas.