jurnalistik.co.id – KUPANG β Rumah duka di Blok I RSS Baumata, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, dipenuhi kerabat, warga, dan rekan sejawat saat almarhumah dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni, S.Ked, atau yang akrab disapa dr. Icha, dimakamkan pada Senin (29/6/2026).
Simbol berkabung terlihat jelas dari puluhan dokter yang hadir dengan jas putih mereka, sementara pita hitam diikatkan pada lengan kanan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Upacara dukacita dan doa Katolik
Suasana duka mendalam menyelimuti lokasi pemakaman sejak pagi. Misa pemakaman requiem secara Katolik dipimpin langsung oleh paman almarhumah, Romo Valens Boy.
Rangkaian doa dimulai sekitar pukul 11.00 WITA dan berlangsung hingga pukul 13.00 WITA. Sepanjang misa, isak tangis dari keluarga serta sekitar 30 teman seangkatan dr. Icha terdengar di sela nyanyian liturgi.
Dalam suasana itu, solidaritas juga tampak dari kehadiran rekan sejawat yang memadati rumah duka untuk mengiringi dokter muda tersebut ke peristirahatan terakhir.
Menurut keluarga, prosesi tersebut menjadi penegasan penghormatan sekaligus solidaritas atas peristiwa kemanusiaan yang menyertai meninggalnya dr. Icha.
Sebelum jenazah diberangkatkan menggunakan ambulans menuju Tempat Pemakaman Umum (TPU) Liliba, Kota Kupang, sekitar pukul 15.15 WITA, keluarga terlebih dahulu menggelar upacara adat Biboki.
Langkah adat tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada almarhumah, sebelum seluruh rangkaian pemakaman dilanjutkan.
Identitas dr. Icha dan perhatian publik
dr. Icha lahir di Cirebon pada 21 Juli 1998 dan meninggal dunia pada usia 27 tahun. Namanya belakangan menjadi perhatian luas dari kalangan tenaga medis dan masyarakat.
Perhatian itu muncul terkait dugaan adanya perlakuan yang menekan dr. Icha saat bertugas, yang kemudian disebut menimbulkan beban psikologis berat.
Kronologi dugaan intimidasi saat bertugas
Paman almarhumah, Victor Manbait, mengungkapkan bahwa kronologi insiden bermula pada 13 Juni 2026. Saat itu, dr. Icha sedang bertugas sebagai dokter jaga di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu.
Victor menyebut dr. Icha menangani pasien anak korban gigitan ular berbisa yang dirujuk dari RSUD Kefamenanu ke RS Leona. Ia menyatakan seluruh tindakan medis yang dilakukan dr. Icha telah sesuai dengan standard operating procedure (SOP) rumah sakit serta arahan dokter spesialis.
Namun, situasi berubah ketika keluarga pasien memaksa meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut Victor tidak direkomendasikan secara medis dan tidak tersedia di rumah sakit tersebut.
Dalam kondisi tersebut, dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) masuk ke ruang pelayanan medis dengan nada tinggi. Victor mengatakan salah satu di antaranya dilaporkan sempat menunjuk wajah dr. Icha.
Victor juga menjelaskan bahwa tekanan psikologis yang dialami dr. Icha bersumber dari bentakan saat bertugas. βDokter Icha mengaku masih ketakutan dan mengalami tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,β ujar Victor saat memberikan keterangan kepada pihak media.
Victor menegaskan, situasi yang memanas tersebut kemudian memicu gelombang solidaritas nasional mengenai pentingnya jaminan keselamatan dan perlindungan bagi tenaga kesehatan yang berada di garis depan pelayanan kemanusiaan.
Bantahan anggota DPRD TTU
Di sisi lain, dua anggota DPRD TTU yang disebut terseret dalam peristiwa itu, yakni Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan tindakan intimidasi terhadap dr. Icha maupun tenaga kesehatan lainnya di IGD RS Leona Kefamenanu.
Therensius mengakui bahwa ia sempat berbicara dengan nada tinggi kepada nakes yang bertugas. Namun, ia berdalih hal itu terjadi secara spontan karena situasi yang panik, bukan karena maksud untuk mengintimidasi.
Sementara itu, Norbertus menyatakan keduanya hanya berniat meminta penjelasan mengenai kondisi terkini penanganan pasien anak tersebut. Ia juga menambahkan bahwa setelah memperoleh penjelasan dari tim medis, mereka langsung menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, serta perawat yang berjaga.
Rangkaian pemakaman dr. Icha pun berlangsung dalam duka, sementara perbedaan pandangan terkait insiden saat bertugas terus menjadi bagian dari perhatian publik setelah kabar meninggalnya dokter muda tersebut beredar.












