Internasional

Klaim Menang atas Iran, Netanyahu Dikritik Habis-habisan di Israel karena Rezim Teheran Tetap Bertahan

0
×

Klaim Menang atas Iran, Netanyahu Dikritik Habis-habisan di Israel karena Rezim Teheran Tetap Bertahan

Sebarkan artikel ini
Gagal Tumbangkan Rezim Iran, Netanyahu Dikritik Habis-habisan di Israel Global 16 Juni 2026
Ilustrasi: Gagal Tumbangkan Rezim Iran, Netanyahu Dikritik Habis-habisan di Israel

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kritik keras setelah menyampaikan klaim bahwa perang melawan Iran telah mencapai tujuan utama Israel, meski rezim Teheran tetap bertahan. Kritik itu datang dari sejumlah tokoh oposisi di Israel yang menilai Netanyahu tidak memenuhi sasaran serangan militer tersebut.

Kritik mengemuka setelah Netanyahu menggelar konferensi pers pertamanya dalam tiga bulan. Ia menyampaikan pernyataan itu setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang. Dalam konteks itulah, penilaian oposisi kembali menguat terhadap hasil yang dijanjikan pemerintah.

Menurut tokoh oposisi, Netanyahu gagal memenuhi tujuan serangan militer ke Iran sejak 28 Februari bersama Amerika Serikat. Mereka menyoroti bahwa serangan tersebut tidak hanya ditujukan untuk mengurangi ancaman keamanan, tetapi juga untuk menciptakan kondisi guna mendorong perubahan rezim.

Netanyahu kemudian menegaskan narasi keberhasilan tersebut. Ia menyatakan bahwa serangan selama enam minggu terhadap Iran telah menghilangkan ancaman nuklir dan rudal yang, menurutnya, membahayakan Israel. Ia juga menempatkan hasil itu sebagai jaminan yang akan berlaku terlepas dari dinamika kesepakatan.

Dalam konferensi pers itu, Netanyahu mengutip keyakinannya mengenai kemampuan nuklir Iran. Ia mengatakan, “Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjadi perdana menteri Israel, itu tidak akan terjadi,” ujar Netanyahu.

Netanyahu juga menyebut pencegahan Iran memperoleh senjata nuklir sebagai “misi hidupnya”. Pernyataan tersebut melanjutkan klaimnya bahwa Israel, bersama Amerika Serikat, berhasil menghapus ancaman nuklir Iran.

“Kami meluncurkan operasi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” katanya. Ia kemudian merinci sasaran yang disebutnya sebagai bagian dari operasi tersebut, termasuk penargetan pada pihak terkait program nuklir.

Netanyahu menyatakan, “Kami menargetkan para ilmuwan nuklir; kami menghilangkan para pemimpin rezim teroris; kami menghancurkan fasilitas nuklir; kami menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik yang memproduksi rudal,” ujar Netanyahu. Ia juga menyampaikan bahwa serangan tidak berhenti pada satu bidang, tetapi menjangkau berbagai aspek yang digambarkannya sebagai dukungan militer.

“Kami menyerang industri militer dan infrastruktur yang tak terhitung jumlahnya. Kami menghancurkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka. Kami menghabisi para komandan pangkalan yang membantai rakyat Iran,” lanjutnya. Dalam penjelasannya, ia menyatakan operasi tersebut menimbulkan dampak luas, termasuk terhadap kapasitas dan struktur yang terkait aktivitas militer.

Menurut Netanyahu, serangan itu juga menyebabkan kerusakan besar terhadap ekonomi Iran. Klaim dampak ekonomi ini disampaikan sebagai bagian dari argumentasi bahwa serangan telah memberikan hasil strategis sesuai tujuan yang ia rumuskan.

Namun, pernyataan Netanyahu kemudian dipertanyakan setelah muncul pertanyaan dari seorang wartawan. Wartawan tersebut menyinggung tujuan Israel sebelumnya untuk menghilangkan ancaman dari “rezim Iran”. Pertanyaan itu mengemuka karena pemerintahan Iran masih tetap bertahan setelah perang berakhir.

Dalam menanggapi pertanyaan itu, Netanyahu menolak anggapan bahwa kampanye yang dijalankan gagal. Ia menegaskan adanya perbedaan definisi tujuan antara yang disampaikan dirinya dan penilaian wartawan.

“Itu sama sekali tidak gagal. Saya mendefinisikan tujuan — dan kabinet juga mendefinisikan tujuan — secara berbeda dari yang Anda katakan,” kata Netanyahu. Dengan jawaban tersebut, Netanyahu berusaha menjaga konsistensi narasi keberhasilan, sekaligus merespons pertanyaan yang menyoroti kelanjutan rezim.

Kendati demikian, kritik oposisi tetap diarahkan pada kesenjangan antara klaim hasil dan tujuan yang dipermasalahkan publik. Sejumlah tokoh oposisi menilai serangan yang dilancarkan sejak 28 Februari bersama Amerika Serikat tidak mencapai sasaran perubahan rezim yang sebelumnya dipandang penting, terutama ketika rezim Teheran masih bertahan.

Rentang waktu yang disebut Netanyahu—serangan selama enam minggu—serta konteks konferensi pers pertamanya dalam tiga bulan menjadi titik rujukan ketika sejumlah pihak kembali menilai klaim perang tersebut. Di saat Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk mengakhiri perang, pernyataan Netanyahu justru memunculkan pertanyaan ulang mengenai sejauh mana tujuan yang dicanangkan telah benar-benar tercapai.

Pada akhirnya, perdebatan yang muncul menempatkan dua narasi dalam sorotan yang sama: klaim Netanyahu mengenai berkurangnya ancaman nuklir dan rudal, serta penilaian oposisi yang mempertanyakan efektivitas serangan terhadap sasaran perubahan rezim. Netanyahu tetap mempertahankan kesimpulan bahwa misinya tidak gagal, sementara kritik menilai tujuan tersebut tidak sejalan dengan hasil akhir yang terlihat.