jurnalistik.co.id – Benjamin Netanyahu akhirnya berbicara di depan publik setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang. Dalam konferensi pers pada Senin (15/6/2026), perdana menteri Israel itu menyampaikan klaim keberhasilan operasi militer, sekaligus mengakui ia tidak mengetahui detail isi perjanjian Washington–Teheran.
Netanyahu menyatakan, perang tersebut telah mencapai tujuan utama Israel: mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Ia kemudian menekankan bahwa, meski kesepakatan sudah terbentuk, Israel tetap memandang ancaman nuklir sebagai sesuatu yang harus dihalau.
“Dengan kesepakatan atau tanpa kesepakatan, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir — tidak hari ini dan tidak besok. Selama saya menjadi perdana menteri Israel, itu tidak akan terjadi,” kata Netanyahu, seperti dikutip The Times of Israel. Pernyataan itu disampaikannya dalam konteks penilaian pribadinya atas arah kebijakan setelah perang.
Netanyahu juga menggambarkan pencegahan agar Iran memperoleh senjata nuklir sebagai “misi hidupnya”. Menurutnya, ancaman nuklir yang ditujukan kepada Israel merupakan “bahaya langsung” yang berhasil dihapus oleh Israel bersama Amerika Serikat.
“Kami meluncurkan operasi serangan terbesar dalam sejarah Israel,” ujar Netanyahu. Ia menyebut upaya tersebut sebagai rangkaian tindakan yang dilakukan secara bersama dengan AS, dengan target yang diarahkan pada komponen kunci program nuklir dan kemampuan militer Iran.
Dalam konferensi pers yang sama, Netanyahu kemudian menguraikan serangkaian klaim keberhasilan operasi gabungan AS dan Israel yang dilancarkan ke Iran sejak 28 Februari. Ia mengatakan, “Kami menargetkan para ilmuwan nuklir; kami menghilangkan para pemimpin rezim; kami menghancurkan fasilitas nuklir; kami menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik yang memproduksi rudal,”
Ia melanjutkan, “Kami menyerang industri militer dan infrastruktur yang tak terhitung jumlahnya. Kami menghancurkan angkatan laut mereka, angkatan udara mereka. Kami menghabisi para komandan pangkalan yang membantai rakyat Iran,” kata Netanyahu. Pernyataan itu menjadi bagian dari argumen bahwa perang telah menimbulkan dampak strategis.
Netanyahu juga menilai serangan tersebut turut menyebabkan kerusakan besar terhadap perekonomian Iran. Selain aspek militer, ia menempatkan kerugian ekonomi sebagai konsekuensi lain yang, menurut klaimnya, mengikuti operasi yang disebut paling besar dalam sejarah Israel.
Meski menyampaikan rangkaian klaim tersebut, Netanyahu mengaku belum mengetahui isi detail perjanjian antara Washington dan Teheran. Dalam penuturannya, pengakuan itu muncul bersamaan dengan keyakinan bahwa Iran tidak akan memperoleh senjata nuklir dalam waktu yang ia sebut.
Menurut laporan The Times of Israel, Israel sepenuhnya tersisih dari proses negosiasi damai AS–Iran. Netanyahu menyebut bahwa Iran tetap tidak akan memiliki senjata nuklir, sementara kabar mengenai keterlibatan Israel dalam proses perundingan berada pada posisi yang berbeda.
Kesepakatan itu rencananya akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat. Sebelumnya, penandatanganan digital dilakukan pada Minggu (14/6/2026) malam, sehingga proses menuju penandatanganan fisik dipaparkan sebagai tahapan berurutan.
Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu ditanya mengenai tujuan awal Israel yang disebut ingin menghilangkan ancaman dari rezim Iran. Pertanyaan itu mengemuka karena pemerintah Iran masih tetap bertahan setelah perang berakhir, yang memunculkan pandangan bahwa tujuan tersebut mungkin belum tercapai.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Netanyahu menolak anggapan bahwa operasi militer gagal mencapai tujuannya. Ia memposisikan serangan gabungan sebagai upaya yang, menurut penilaiannya, sudah menghapus “bahaya langsung” terkait ancaman nuklir, meski kondisi politik Iran pascaperang dinilai masih berjalan.
Berusia 76 tahun, Netanyahu menyampaikan pernyataannya di Tel Aviv dalam dinamika politik regional yang tetap menempatkan Iran sebagai fokus utama kebijakan keamanan. Serangkaian klaim keberhasilan operasi dan penolakan narasi kegagalan itu menjadi satu paket pesan yang ia sampaikan saat AS dan Iran mengarah pada penghentian perang melalui kesepakatan damai.












