Hukum & Kriminal

Misteri Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn: Kisah Cinta yang Ditolak Keluarga

×

Misteri Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn: Kisah Cinta yang Ditolak Keluarga

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Di Balik Dugaan Penculikan Atlet Golf Jesslyn, Ada Cinta yang Tak Direstui

jurnalistik.co.id – Kasus dugaan penculikan yang menimpa atlet golf Jesslyn Wijaya (32) perlahan memperlihatkan adanya konflik keluarga yang diduga menjadi akar masalah. Penjemputan paksa yang terjadi di sebuah restoran di Jakarta Pusat kini disebut terkait penolakan keluarga terhadap hubungan asmara Jesslyn.

Peristiwa itu bermula pada Senin (13/7/2026) di kawasan Mangga Besar, Jakarta Pusat. Saat itu, Jesslyn diduga dijemput secara paksa oleh sekelompok pria tak dikenal.

Menurut AKBP Roby Hery Saputra, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat, terdapat lima pria berbadan besar yang menjemput Jesslyn. Roby menyebut para penjemput tersebut merupakan orang suruhan ibu Jesslyn.

Setelah dijemput dari Restoran Saung Kita di Mangga Besar, Jesslyn lalu dibawa melalui jalur darat menuju Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah. Dari titik keberangkatan itu, perjalanan berlanjut ke luar negeri.

Keesokan harinya, Selasa (14/7/2026), Jesslyn diberangkatkan ke Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah tiba di Malaysia, ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bangkok, Thailand.

Hasil penyelidikan polisi menyebut Jesslyn berada di Thailand bersama ibu dan bibinya. Dalam konteks ini, polisi menilai rangkaian pergerakan tersebut berkaitan dengan masalah internal keluarga yang belum sepenuhnya tuntas.

Polisi menduga penjemputan paksa berawal dari ketidaksetujuan keluarga terhadap hubungan asmara Jesslyn dengan calon suaminya, Evan. Dugaan yang muncul adalah Jesslyn dibawa ke luar negeri agar tidak dapat melangsungkan pernikahan.

“Ya, dugaan sementara karena ada masalah internal keluarga, ketidaksetujuan atas hubungan Jesslyn dengan pacarnya,” kata Roby saat dikonfirmasi melalui panggilan telepon, Jumat (31/7/2026). Pernyataan tersebut merujuk pada dugaan awal yang masih diproses dalam penyelidikan.

Di sisi lain, Evan membantah klaim bahwa rencana pernikahan mereka adalah sesuatu yang belum matang. Evan mengatakan persiapan menuju pernikahan mereka bahkan sudah hampir rampung, meski ia tidak menyampaikan waktu pasti.

Evan menuturkan, “Saya sebagai calon suaminya Jesslyn dan seharusnya memang kami melaksanakan pernikahan dalam waktu dekat, kami sudah membeli gaun dan mendaftarkan pernikahan ke gereja,” ucap Evan. Ia menyampaikan hal tersebut sebagai bentuk klarifikasi atas dugaan yang menyertai kasus Jesslyn.

Konflik yang disebut berkaitan dengan hubungan Evan dan Jesslyn tidak, menurut Evan, muncul dalam waktu singkat. Evan mengungkapkan bahwa pada April hingga Oktober 2025, Jesslyn pernah diisolasi di rumah ibunya.

Evan menyebut selama periode tersebut, Jesslyn tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun secara bebas. Ia mengatakan handphone Jesslyn dirampas, laptopnya disita, dan iPad juga diambil sehingga Jesslyn tidak memiliki alat komunikasi untuk menghubungi Evan maupun teman-temannya.

Selain keterbatasan komunikasi, Evan juga menyatakan Jesslyn tidak boleh keluar sendiri. Menurutnya, Jesslyn hanya diperbolehkan beraktivitas di luar rumah apabila didampingi oleh ibunya.

Evan menambahkan, tekanan yang ia ceritakan membuat Jesslyn kehilangan pekerjaan. Ia juga mengatakan Jesslyn mengalami tekanan psikologis berat akibat perlakuan tersebut.

Pengaduan itu disampaikan Evan di Kantor Komnas Perempuan pada Jumat. Dengan demikian, rangkaian dugaan masalah keluarga yang memengaruhi komunikasi dan kebebasan Jesslyn sudah pernah dilaporkan sebelum peristiwa penjemputan di Mangga Besar terjadi.

Dalam perkembangan penyelidikan, polisi juga menyiapkan pemeriksaan virtual sebagai bagian dari upaya melengkapi keterangan. Pemeriksaan tersebut diarahkan untuk memastikan kronologi dan keterkaitan peristiwa dengan konflik internal keluarga.

Sampai saat ini, penyelidikan terus berjalan untuk menelusuri dugaan penjemputan paksa dan peran pihak-pihak yang disebut terlibat. Fokusnya tetap pada verifikasi fakta di lapangan, termasuk pemetaan peristiwa dari penjemputan awal hingga perpindahan Jesslyn ke luar negeri.