jurnalistik.co.id – Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendadak menarik perhatian setelah seorang pria bernama Sutrimo ditemukan tewas di sebuah klinik di wilayah itu. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (23/7/2026), dan lokasi yang disebut sudah lama tidak beroperasi justru masih menyisakan sejumlah tanda yang menunjukkan klinik itu terbengkalai.
Saat Kompas.com meninjau lokasi pada Minggu (26/7/2026), gerbang klinik berwarna hitam terlihat tertutup rapat dan terkunci. Pengunjung hanya bisa melihat bagian dalam dari balik pagar yang mengurung area klinik.
Di halaman dalam, tampak hamparan daun kering berserakan. Di sela paving block, rumput liar serta tanaman kecil tumbuh, seakan menegaskan bahwa area tersebut tidak lagi dirawat dalam waktu yang lama.
Meskipun halaman menunjukkan kondisi yang ditinggalkan, ada satu benda yang masih terlihat berada di tempatnya: sebuah sepeda motor Yamaha Mio berwarna hitam dengan pelat nomor A 4412 NA yang terparkir di dalam area klinik.
Bangunan klinik juga terlihat mengalami kerusakan di beberapa bagian. Pada area depan, plafon tampak hancur di dua titik, sementara cat di dinding terlihat mulai memudar akibat kondisi yang kurang terjaga.
Namun demikian, sejumlah lampu di halaman masih menyala. Tiga lampu yang terpasang di area klinik tetap aktif meski bangunan terlihat tidak terurus.
Di bagian atas gedung, masih terpasang papan nama bertuliskan “Mordent Aesthetic Clinic”. Papan tersebut menjadi penanda identitas tempat di mana Sutrimo ditemukan meninggal dunia.
Di lokasi yang sama, terlihat seorang petugas yang mengenakan pakaian polisi berjaga di depan klinik. Pada lengan kirinya terdapat tulisan babinkamtibmas, menandai petugas yang mengamankan area tersebut.
Kompas.com juga berupaya menanyakan kabar kematian Sutrimo kepada warga sekitar. Sebagian besar warga yang ditemui mengaku tidak mengetahui peristiwa itu.
Berita Terkait
Meski tidak mengetahui kabar penemuan tersebut, warga menyampaikan bahwa klinik itu memang sudah lama tidak beroperasi. Aziz (bukan nama sebenarnya) misalnya, mengaku tidak mendapatkan informasi detail terkait kabar tewasnya korban.
Aziz mengatakan, “Kurang tahu kalau kabar itu, saya mah di dalam warung aja. Sudah lama tutup,”. Ia juga menuturkan belum bisa memastikan sejak kapan persis klinik tersebut berhenti beroperasi.
Dengan kondisi yang tampak tertinggal seperti itu, penemuan jenazah Sutrimo lantas mengundang perhatian karena kontras antara aktivitas yang masih terlihat di halaman dan keterbengkalaiannya bangunan serta lingkungan klinik.
Hingga saat ini, polisi masih menyelidiki penyebab kematian korban. Penegak hukum telah melakukan olah tempat kejadian perkara serta mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di sekitar lokasi.
Pihak kepolisian kemudian akan menindaklanjuti hasil pemeriksaan untuk memastikan kronologi dan faktor yang menyebabkan Sutrimo meninggal dunia. Sementara proses penyelidikan berjalan, kondisi klinik yang tertutup dan terkunci membuat akses ke area dalam tetap terbatas.
Penutupan akses di klinik itu membuat area sekitarnya terasa terpisah dari aktivitas warga. Dari luar, pagar yang mengurung bangunan menjadi batas utama yang menentukan apa yang bisa dilihat, sedangkan bagian dalam hanya tersingkap lewat celah pandangan yang terbatas.
Di antara sisa-sisa keterbengkalaiannya, keberadaan sepeda motor Yamaha Mio dengan pelat A 4412 NA menjadi elemen yang relatif mudah dikenali. Di saat halaman tampak tak lagi dikelola, detail kendaraan tersebut justru memberi kesan bahwa ada benda-benda yang masih tertinggal di lokasi.
Kerusakan bangunan juga tampak tidak hanya pada satu titik. Plafon yang hancur di bagian depan dan kondisi dinding yang memudar memperlihatkan bahwa pemeliharaan tidak berjalan sebagaimana mestinya, namun papan nama “Mordent Aesthetic Clinic” masih terpasang pada struktur gedung.
Di tengah kondisi yang tertutup itu, penyelidikan tetap dilakukan oleh polisi melalui olah tempat kejadian perkara dan pengumpulan keterangan saksi di sekitar lokasi. Pemeriksaan lanjutan akan mengarah pada penetapan kronologi serta faktor yang menyebabkan Sutrimo meninggal dunia, dengan akses ke area dalam yang tetap dibatasi oleh kondisi klinik yang terkunci.












