Peristiwa

Bina Marga Jelaskan Mengapa Evakuasi JPO Tendean Berlangsung Lama

×

Bina Marga Jelaskan Mengapa Evakuasi JPO Tendean Berlangsung Lama

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Bina Marga Ungkap Alasan Evakuasi JPO Tendean yang Berlangsung Lama

jurnalistik.co.id – Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan menjelaskan proses evakuasi jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan Kapten Tendean, Mampang Prapatan, yang disebut berlangsung lama setelah ditabrak truk pengangkut alat berat. Menurut mereka, waktu penanganan dipengaruhi kondisi di lokasi dan kepadatan lalu lintas pada jam pagi.

Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan Rifki Rismal mengatakan, pembongkaran tidak bisa langsung dilakukan karena truk yang menabrak masih tersangkut pada konstruksi JPO. “Bukan lama (evakuasi). Memang kan kejadiannya Selasa dini hari ya,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Rabu (15/7/2026).

Rifki menyampaikan bahwa pihaknya baru menerima informasi kejadian pada pagi hari. Setelah memperoleh kabar tersebut, petugas melakukan pemeriksaan kondisi JPO untuk memahami dampak tabrakan terhadap konstruksi.

Namun, proses berikutnya tetap harus menyesuaikan situasi di lapangan. Rifki menjelaskan truk tidak dapat bergerak karena “ketiban” oleh JPO dan konstruksi tersebut menjadi penghalang, sehingga penanganan truk menjadi tahapan yang lebih dulu harus diselesaikan.

Dalam kondisi seperti itu, Bina Marga tidak bisa langsung menurunkan bagian JPO begitu saja. Petugas perlu memastikan langkah evakuasi dapat dilakukan dengan aman, sekaligus mencegah masalah baru saat konstruksi dibongkar.

Rifki menambahkan, setelah dipastikan kondisi JPO harus dibongkar, proses penurunan konstruksi tetap tidak bisa dilakukan secara instan. Salah satu pertimbangannya adalah kondisi arus lalu lintas pada pagi hari yang sangat padat.

Menurutnya, takedown baru diputuskan setelah situasi lalu lintas lebih memungkinkan untuk dimasuki alat berat. “Kami datang pagi, kita periksa segala macam, bahwa itu tertahan sama JPO segala macam ya putuskan kita akan takedown (dilepas). Cuma memang kita mau takedown kondisi lalu lintas,” ucap Rifki.

Ia menyebut bahwa pihaknya kemudian berkoordinasi dengan Satuan Lalu Lintas dan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Koordinasi tersebut dilakukan untuk menentukan waktu yang paling tepat agar kendaraan dan alat yang dibutuhkan bisa masuk lokasi tanpa mengganggu arus kendaraan secara berlebihan.

Rifki menyampaikan bahwa dari hasil komunikasi dengan pihak terkait, penanganan direkomendasikan dilakukan setelah peak hour selesai. Alasannya, bila dilakukan saat kepadatan masih tinggi, alat dan kendaraan operasional akan sulit masuk ke area terdampak.

Koordinasi itu menjadi bagian dari strategi penanganan di lapangan, sekaligus memastikan proses pembongkaran dapat berjalan sesuai tahapan yang dibutuhkan. Dengan demikian, meski tabrakan terjadi pada dini hari, pembongkaran dilakukan ketika kendaraan berat dapat dioperasikan dengan lebih efektif setelah jam sibuk berakhir.

Truk pengangkut alat berat menabrak JPO di Jalan Kapten Tendean Nomor 85, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Selasa (14/7/2026) dini hari. Berdasarkan pantauan di lokasi, truk yang tersangkut di bawah JPO menyebabkan kepadatan lalu lintas menuju Blok M.

Kepadatan juga terlihat pada jalan layang dari arah Pancoran serta kawasan Kantor Transvision. Kondisi itu menunjukkan area terdampak bukan hanya di titik tabrakan, tetapi juga pada jalur-jalur penghubung yang terpengaruh arus kendaraan di sekitar lokasi.

Dalam keterangan yang disampaikan sopir truk bernama Andre (28), ia mengaku tidak fokus saat mengemudi karena memperhatikan peta digital di telepon genggam untuk mencari rute. “Kami 2 kilometer lagi nyampe nih, fokus lihat maps,” ujarnya saat ditemui di lokasi pada Selasa.

Andre juga menyatakan itu merupakan pertama kali ia melintasi Jalan Kapten Tendean. Ia mengaku tidak mengetahui adanya batas ketinggian kendaraan yang diperbolehkan melintas di ruas jalan tersebut.

Alur penanganan dan alasan penundaan

Dari penjelasan Bina Marga, urutan penanganan menjadi kunci mengapa pembongkaran tidak dilakukan segera setelah tabrakan. Ketika truk masih tersangkut pada konstruksi JPO, petugas perlu mengutamakan penanganan agar kendaraan operasional dan langkah pembongkaran berikutnya dapat dilakukan dengan aman.

Setelah kondisi JPO diputuskan harus dibongkar, pertimbangan berikutnya adalah keterbatasan ruang dan waktu akibat kepadatan lalu lintas. Bina Marga memilih menunggu berakhirnya jam sibuk pagi agar alat berat dapat masuk ke lokasi, sekaligus mengurangi hambatan di jalan-jalan yang menjadi dampak kepadatan.

Koordinasi dengan pihak terkait lalu lintas dan perhubungan memperjelas bahwa keputusan waktu pembongkaran bukan semata urusan teknis, melainkan juga soal pengaturan arus kendaraan. Penjelasan ini, menurut Bina Marga, menjadi alasan mengapa evakuasi JPO Tendean berlangsung hingga pembongkaran dilakukan setelah jam sibuk pagi berakhir.