Daerah

Menjenguk Rumah Duka Sutrimo di Banyumas, Keluarga Menyampaikan “Kami Sudah Mengikhlaskan”

×

Menjenguk Rumah Duka Sutrimo di Banyumas, Keluarga Menyampaikan “Kami Sudah Mengikhlaskan”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Menyambangi Rumah Duka Sutrimo di Banyumas, Keluarga Buka Suara: Kami Sudah Mengikhlaskan

jurnalistik.co.id – Rumah duka Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, terlihat sepi saat Kompas.com menyambangi lokasi pada Selasa (28/7/2026) malam. Tidak tampak aktivitas yang menonjol di sekitar bangunan tersebut.

Di halaman rumah berukuran relatif kecil itu, hanya terlihat dua sepeda motor matic. Salah satunya berpelat nomor merah.

Rumah Sutrimo berdiri di tepi jalan desa yang hanya bisa dilewati satu mobil. Bangunannya bergaya modern, dengan cat dinding berwarna putih serta ornamen batu alam pada sebagian bagian dinding depan.

Pada bagian depan rumah juga terpasang sebuah CCTV yang menghadap ke arah jalan desa. Perangkat tersebut terlihat berada di area yang mengarah langsung ke akses masuk warga.

Ketika awak media berada di lokasi, keluarga hanya menunjuk satu anggota yang mengaku bernama Ardi untuk menerima keterangan. Ia menjelaskan bahwa orangtua Sutrimo tidak bisa ditemui karena sedang dalam kondisi sakit.

Ardi menyampaikan permintaan maaf sekaligus menjelaskan sikap keluarga dalam menerima kedatangan orang lain.

“Mohon maaf ibu (almarhum Sutrimo) sedang sakit, sekarang kondisinya lagi tenang. Mohon maaf kami tidak bisa menerima (kedatangan wartawan), keluarga sudah mengikhlaskan,” kata Ardi.

Menurut Ardi, situasi yang tengah berlangsung membuat keluarga memilih untuk bersikap tenang. Ia menegaskan bahwa mereka telah menerima kepergian Sutrimo dan tidak menginginkan proses wawancara di rumah duka pada saat itu.

Di lingkungan sekitar, salah seorang tetangga mengungkapkan bahwa jenazah Sutrimo telah dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) desa setempat. Tetangga itu enggan disebutkan namanya.

Ia mengatakan jenazah tiba di lokasi pemakaman pada Kamis (23/7/2026) malam. Berdasarkan keterangan yang ia sampaikan, jenazah sampai sekitar pukul 22.00 WIB.

Setelah proses persiapan selesai, jenazah kemudian dimakamkan sekitar pukul 00.00 WIB. Menurut tetangga tersebut, warga setempat juga ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman.

Dari informasi yang diberitakan sebelumnya, Sutrimo ditemukan tak sadarkan diri di depan Mordent Aesthetic Clinic, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Kamis (23/7/2026) pagi. Saat itu, kondisi korban dilaporkan dalam keadaan tidak merespons.

Sutrimo kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring. Namun, nyawanya tidak tertolong dan Sutrimo meninggal dunia setelah dibawa ke fasilitas kesehatan tersebut.

Usai kematian tersebut, keluarga menyatakan telah mengikhlaskan kepergian Sutrimo. Di rumah duka, suasana yang tampak tenang seolah mencerminkan pilihan keluarga untuk menjalani momen duka tanpa keramaian tambahan.

Pada kunjungan berikutnya, tidak terlihat arus orang yang besar di sekitar rumah. Hanya kendaraan yang terparkir rapi di halaman menjadi penanda bahwa rumah duka berada dalam tahap penyikapan kehilangan.

Bagi warga sekitar, proses pengantaran jenazah ke TPU desa disebut telah melibatkan banyak pihak. Mereka mengaku membantu saat pelaksanaan pemakaman, mulai dari kedatangan jenazah hingga waktu pemakaman dilakukan pada dini hari.

Dalam keterangannya, Ardi menempatkan kondisi sakit ibu Sutrimo sebagai alasan utama keluarga tidak menerima kedatangan wartawan. Ia menyampaikan bahwa keadaan saat itu “lagi tenang” dan keluarga memilih untuk menjaga ketenangan.

Di saat yang sama, kalimat yang disampaikan Ardi juga menjadi bentuk penegasan sikap keluarga. Keluarga menyatakan sudah mengikhlaskan kepergian almarhum dan memaknai momen ini sebagai bagian dari perjalanan duka yang harus dijalani.

Dengan demikian, kabar duka Sutrimo yang bermula dari temuan tak sadarkan diri di Jakarta Selatan berlanjut ke pemakaman di TPU Desa Wlahar, Kecamatan Wangon. Setelah jenazah dimakamkan pada Kamis (23/7/2026) malam hingga mendekati Kamis (23/7/2026) larut hingga Jumat (24/7/2026) dini hari, keluarga tetap memilih menjalani hari-hari setelahnya dengan lebih tenang.

Suasana rumah duka yang minim aktivitas, keberadaan CCTV di area depan, serta keterbatasan jumlah kendaraan yang terlihat di halaman menjadi gambaran yang paling tampak saat kunjungan dilakukan pada Selasa (28/7/2026). Di tengah suasana itu, keluarga menegaskan tidak menambah proses wawancara, sekaligus menyampaikan bahwa mereka telah menerima kepergian Sutrimo.

“Keluarga sudah mengikhlaskan,” kata Ardi, saat menerangkan maksud ketidakterbukaan keluarga terhadap pihak luar pada saat kunjungan berlangsung. Pernyataan tersebut sekaligus menutup keterangan yang disampaikan di rumah duka pada hari itu.