jurnalistik.co.id – Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional lima Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penghentian itu dilakukan menyusul perbaikan sarana dan prasarana, serta adanya temuan benda asing pada ompreng atau wadah menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koordinator SPPG/BGN Regional Sultra, Maharanny Puspaningrum, menyampaikan hal tersebut dalam Rapat Koordinasi Percepatan Program MBG Tahun 2026 di Balai Kota Kendari pada Senin (3/8/2026). Ia mengatakan, keputusan suspend ditetapkan sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh untuk memastikan layanan berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Maharanny merinci, lima SPPG yang saat ini berstatus suspend adalah SPPG Kadia Anaiwoi, SPPG Kendari Caddi 3, SPPG Kendari Barat Watu-watu, serta SPPG Kendari Barat Tipulu. Menurutnya, keempat SPPG tersebut sedang menjalani perbaikan sarana dan prasarana.
Selain itu, SPPG Kadia Bende 2 diberhentikan sementara setelah ditemukan benda asing di dalam ompreng atau wadah makanan yang diterima salah satu penerima manfaat. Temuan tersebut menjadi dasar untuk melakukan penilaian ulang terhadap proses produksi serta pengendalian mutu yang dijalankan di jaringan SPPG terkait.
Ia menegaskan bahwa penghentian sementara bukan langkah yang diambil secara sepihak tanpa evaluasi. “Penghentian sementara ini merupakan bagian dari evaluasi agar seluruh SPPG yang beroperasi benar-benar memenuhi standar pelayanan, keamanan pangan, dan kualitas yang telah ditetapkan,” kata Maharanny dalam rapat tersebut.
Menurut Maharanny, evaluasi dilakukan dengan menekankan keamanan pangan dan kualitas produk yang sampai kepada penerima. Ia menyebut, kesehatan ratusan ribu penerima manfaat—mulai dari siswa sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga tenaga pendidik—menjadi prioritas yang tidak bisa ditawar.
Sebagai tindak lanjut, BGN memperketat pengawasan di seluruh jaringan dapur MBG. Penguatan pengawasan dilakukan melalui penerapan standar higienis dan sanitasi yang ketat pada seluruh rantai masak hingga distribusi, sehingga potensi kesalahan maupun kontaminasi dapat diminimalkan sejak proses produksi berlangsung.
Berita Terkait
Di Sulawesi Tenggara, program MBG dijalankan melalui jaringan SPPG yang jumlahnya mencapai 41 unit. Maharanny menyatakan, secara umum dari total tersebut sebanyak 40 SPPG sudah beroperasi, sementara lima SPPG berada dalam masa suspend dan satu SPPG lainnya masih melengkapi proses administrasi.
Dalam pelaksanaannya, penyaluran Program MBG di Sulawesi Tenggara mencakup 112.193 penerima manfaat, atau sekitar 90,66% dari total target 123.756 orang. Angka capaian ini menunjukkan program tetap berjalan, meski ada penyesuaian pada beberapa titik pelayanan yang sedang menjalani perbaikan dan audit.
Maharanny berharap proses audit serta perbaikan fasilitas di Kota Kendari dapat rampung secepatnya. Dengan rampungnya proses tersebut, seluruh dapur SPPG diharapkan dapat kembali melayani masyarakat dengan standar keamanan pangan terbaik, sesuai dengan ketentuan yang menjadi acuan BGN.
Dalam rapat tersebut, BGN/BGN Regional Sultra menekankan bahwa status suspend diputuskan setelah dilakukan penelusuran menyeluruh terhadap kondisi fasilitas dan hasil pemeriksaan pada tahapan layanan. Fokus penilaian diarahkan pada kepatuhan terhadap standar operasional, termasuk aspek keamanan pangan sejak proses persiapan hingga makanan siap didistribusikan.
Meski ada beberapa titik layanan yang sedang menjalani perbaikan dan penilaian ulang, program MBG di Sulawesi Tenggara tetap berjalan melalui jaringan yang sudah siap operasional. Maharanny menyebut mayoritas unit sudah beroperasi, sehingga penyaluran kepada penerima manfaat dapat terus berlangsung dengan capaian yang tercatat mencapai 112.193 orang atau sekitar 90,66% dari target.
Untuk memperkecil risiko kesalahan maupun potensi kontaminasi, BGN juga memperketat praktik higienis dan sanitasi pada seluruh rantai proses. Perbaikan tidak hanya menyasar perangkat, tetapi juga pengendalian mutu, termasuk evaluasi ulang ketika ditemukan benda asing pada wadah makanan yang diterima penerima manfaat, agar standar kualitas yang sama benar-benar diterapkan di seluruh jaringan.
Koordinator juga menyampaikan bahwa pemeriksaan dan audit diarahkan agar layanan yang diterima kelompok sasaran—mulai dari siswa sekolah, balita, ibu hamil, ibu menyusui, hingga tenaga pendidik—selalu memenuhi syarat keamanan dan kualitas. Dengan rampungnya perbaikan fasilitas di Kota Kendari, seluruh unit yang sempat ditangguhkan diharapkan dapat segera kembali melayani sesuai ketentuan yang menjadi acuan BGN.












