jurnalistik.co.id – Ancaman mogok kerja besar-besaran dari serikat pekerja Samsung di divisi chip akhirnya mereda setelah manajemen sepakat mengalokasikan 10,5% laba operasional tahunan perusahaan untuk bonus. Kesepakatan itu membuat rencana aksi mogok selama 18 hari yang semula dijadwalkan mulai 21 Mei 2026 ditunda, sekaligus memicu proses pemungutan suara bagi karyawan yang memenuhi syarat terkait skema gaji dan bonus.
Namun, meredanya ketegangan di satu sisi justru membuka gesekan baru di sisi lain. Serikat pekerja Samsung yang mewakili divisi elektronik konsumen meminta pengadilan Korea Selatan membatalkan pemungutan suara atas kesepakatan pembayaran tersebut karena menilai hasilnya hanya menguntungkan pekerja di divisi chip, bukan seluruh karyawan Samsung Electronics.
Permintaan itu dilaporkan Reuters pada Selasa (26/5/2026). Serikat tersebut adalah Samsung Electronics Co Union atau SECU, yang beranggotakan 13.000 orang dan umumnya terdiri dari pekerja di divisi smartphone, TV, serta perangkat rumah tangga. Dalam proses negosiasi, SECU memilih keluar lebih dulu dari tim perunding sebelum kesepakatan dengan manajemen tercapai.
Negosiasi tersebut dipimpin oleh Samsung Electronics Labor Union atau SELU. Dari total 57.290 anggota SELU, sekitar 90% berhak ikut dalam pemungutan suara. Aturan pengesahan menuntut mayoritas dari anggota yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi, lalu mayoritas dari suara yang masuk harus mendukung kesepakatan. Jika tidak tercapai, perundingan harus dimulai kembali dari awal.
Di tengah proses itu, pemungutan suara dimulai sejak Jumat (22/5) dan dijadwalkan berakhir pada Rabu (27/5) besok. Harapannya, hasilnya dapat mengesahkan kesepakatan antara manajemen dan serikat pekerja divisi chip yang selama ini menjadi sumber utama tekanan.
Friksi antar-serikat
Tak semua pihak di dalam Samsung menyambut kesepakatan itu dengan lega. Serikat pekerja terpisah, National Samsung Electronics Union atau NSEU, juga menyatakan kekecewaan atas isi perjanjian tersebut. Pejabat NSEU, Lee Ho-seok, mengatakan kepada Reuters bahwa serikatnya memberikan suara menentang kesepakatan itu.
Ia juga menyebut sebagian pekerja pabrik di divisi chip ikut frustrasi dan berharap kesepakatan itu ditolak, meski kemungkinan tersebut dinilai kecil. Menurut situs web NSEU, serikat ini memiliki sekitar 20.000 anggota dan mayoritas di antaranya adalah pekerja chip.
Perselisihan ini menunjukkan bahwa konsensus di tubuh buruh Samsung belum sepenuhnya terbentuk. Kesepakatan yang semula diharapkan menjadi jalan keluar justru memunculkan perbedaan pandangan tentang siapa yang paling berhak menikmati manfaat dari lonjakan bisnis chip perusahaan.
Tekanan mogok kerja sebelumnya muncul setelah bisnis chip Samsung tumbuh pesat, seiring tingginya permintaan global di tengah krisis chip memori akibat ledakan kecerdasan buatan atau AI. Nilai pasar Samsung bahkan sempat menembus US$1 triliun berkat pertumbuhan besar bisnis chip tersebut.
Meski begitu, para pekerja di divisi chip menilai kenaikan kinerja perusahaan tidak diikuti perbaikan kesejahteraan yang sepadan. Dari situlah ancaman mogok massal muncul, dengan potensi melibatkan 48.000 pekerja. Pemerintah Korea Selatan bahkan ikut turun tangan memediasi perundingan karena mogok dalam kondisi seperti itu dinilai bisa membahayakan ekonomi nasional.
Bonus besar, tapi tak merata
Kesepakatan yang sudah dicapai menyebut sebagian pekerja chip memori akan menerima total bonus sekitar US$416.000 tahun ini. Adapun pekerja di unit pabrik dan desain chip logika Samsung akan memperoleh bonus yang lebih kecil, tetapi tetap tergolong besar. Sementara itu, pekerja di divisi lain seperti smartphone dan peralatan rumah tangga akan menerima bonus yang lebih kecil lagi.
Perbedaan besaran bonus inilah yang kemudian memperdalam rasa tidak puas di internal perusahaan. Bagi sebagian serikat, skema tersebut dianggap tidak mencerminkan pembagian manfaat yang setara di antara unit-unit bisnis Samsung.
Dari luar serikat pekerja, polemik ini juga menyentuh ranah pemegang saham. Sekelompok kecil pemegang saham individu menyatakan akan menggugat apabila kesepakatan itu diratifikasi oleh anggota serikat pekerja. Mereka beralasan sebagian dari perjanjian tersebut melanggar hukum kecuali disetujui oleh pemegang saham.
Di pasar saham, respons investor terhadap meredanya ancaman mogok terbilang positif. Saham Samsung ditutup naik 2,2% pada Selasa (26/5). Sejak kesepakatan dicapai pekan lalu, saham itu sudah menguat 8%, meski kenaikan tersebut masih di bawah lonjakan 18% yang dicatat pesaingnya, SK Hynix.
Samsung sendiri menyumbang sekitar seperempat dari ekspor Korea Selatan. Karena itu, kesepakatan mengenai bonus dan potensi mogok kerja ini mendapat perhatian besar di dalam negeri. Di satu sisi, banyak pihak merasa lega karena ancaman gangguan pasokan chip mereda. Namun di sisi lain, perpecahan di antara serikat pekerja menunjukkan bahwa perdebatan mengenai pembagian keuntungan dari ledakan AI masih jauh dari selesai.












