jurnalistik.co.id – Seorang ibu hamil, Melkiana Dwitau, meninggal dunia bersama bayinya setelah diduga terkena peluru nyasar di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Koops TNI Habema kemudian merilis penjelasan mengenai kronologi kejadian tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (2/7/2026) malam. Menurut laporan yang disampaikan, korban sempat menjalani operasi darurat dengan tujuan menyelamatkan bayi yang masih berada dalam kandungan.
Namun, bayi tersebut juga dinyatakan meninggal dunia. Koops TNI Habema menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya warga sipil itu.
“Setiap korban sipil merupakan duka yang tidak diharapkan. Perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap pelaksanaan tugas Koops TNI Habema ,” kata Kepala Penerangan Koops TNI Habema Letkol Inf Wirya Arthadiguna dalam keterangan tertulis pada Sabtu (4/7/2026).
Wirya menegaskan, penjelasan tersebut disusun berdasarkan laporan lapangan, analisis kronologi, dan pemetaan lokasi kejadian. Dari rangkaian data itu, gangguan tembakan disebut dilakukan kelompok bersenjata yang dipimpin Peles Tigau dari tiga titik berbeda.
Kejadian diperkirakan berlangsung dalam rentang waktu sekitar 15 menit. Dalam analisisnya, Wirya memaparkan bahwa tembakan pertama terjadi sekitar pukul 18.45 WIT dari arah Kampung Wandoga.
Lima menit berselang, suara tembakan kembali terdengar dari kawasan perbukitan di depan Koramil Sugapa. Setelah itu, sekitar pukul 19.00 WIT kelompok bersenjata disebut kembali melepaskan tembakan sebelum melarikan diri ke arah sungai.
Koops TNI Habema menyatakan bahwa selama rangkaian peristiwa tersebut, personel Satgas TNI tidak melakukan tembakan balasan. Wirya menjelaskan alasan pengambilan keputusan itu berkaitan dengan kondisi lapangan.
Menurut keterangan Wirya, hujan turun disertai kabut tebal sehingga jarak pandang sangat terbatas. Dalam kondisi demikian, personel memilih menempati posisi perlindungan (stelling) sambil memantau situasi.
Langkah tersebut disebut diambil untuk menghindari risiko terhadap masyarakat sipil yang berada di sekitar lokasi. Wirya juga menyampaikan bahwa proses analisis masih terus didalami bersama fakta-fakta lapangan lainnya.
Berita Terkait
Kronologi tembakan dari tiga titik
Wirya menambahkan bahwa hasil analisis spasial menunjukkan tiga sumber tembakan berada pada titik yang berbeda. Jarak antar-sumber tersebut diperkirakan sekitar 900 hingga 1.500 meter.
Di sisi lain, lokasi korban disebut berada sekitar 321 meter dari titik gangguan tembakan pertama. Lokasi tersebut juga disebut berjarak lebih jauh dari posisi personel Satgas TNI.
Data jarak itu, menurut Wirya, menjadi salah satu pertimbangan dalam analisis kejadian yang masih terus berlangsung. Koops TNI Habema melihat tembakan yang bersumber dari area berbeda sebagai faktor penting untuk memahami dinamika peristiwa di lapangan.
Risiko bagi warga sipil dan imbauan kepada masyarakat
Koops TNI Habema juga menilai penggunaan kawasan permukiman sebagai tempat aktivitas kelompok bersenjata berpotensi membahayakan warga sipil. Pernyataan itu disampaikan seiring dengan komitmen mereka untuk menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas.
Wirya menekankan bahwa Koops TNI Habema terus mengedepankan langkah-langkah yang terukur dan profesional. Dengan pendekatan tersebut, keselamatan warga sipil diharapkan tetap terjaga meski situasi di lapangan berjalan dinamis.
Di bagian penutup, Koops TNI Habema mengimbau masyarakat agar tetap tenang. Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi.
“Transparansi, akuntabilitas, dan perlindungan masyarakat akan terus menjadi komitmen Koops TNI Habema dalam setiap pelaksanaan tugas,” kata Wirya.
Koops TNI Habema menempatkan penjelasan kronologi ini sebagai upaya memberikan gambaran berdasar pemetaan dan analisis kejadian. Dengan rincian waktu tembakan, sumber lokasi, serta pertimbangan jarak, pihak TNI menyampaikan bahwa respons di lapangan dilakukan dengan mempertimbangkan keterbatasan visibilitas dan keselamatan warga sipil.












