Internasional

Somalia Mencekam: Konflik Bersenjata Pecah Usai Presiden Tak Turun Jabatan

0
×

Somalia Mencekam: Konflik Bersenjata Pecah Usai Presiden Tak Turun Jabatan

Sebarkan artikel ini
Somalia Membara, Konflik Bersenjata Pecah usai Presiden Ogah Turun Global 5 Juni 2026
Ilustrasi: Somalia Membara, Konflik Bersenjata Pecah usai Presiden Ogah Turun

jurnalistik.co.id – Mogadishu, Somalia, kembali diliputi ketegangan setelah bentrokan bersenjata meletus di ibu kota. Pertarungan antara pasukan pemerintah dan milisi sekutu oposisi berlangsung sengit, sementara protes yang semula direncanakan berubah menjadi pertempuran.

Menurut laporan wartawan AFP pada 4 Juni 2026, tembakan hebat terdengar sepanjang malam di Mogadishu. Asap juga mengepul di atas area pemukiman setelah dilaporkan terjadi penembakan di distrik Howl Wadaag pada 4 Juni.

Konflik dilaporkan mulai meletus sejak Rabu (3/6/2026) dan berlanjut hingga Kamis (4/6/2026) dini hari. Bentrokan akhirnya mereda pada Kamis sekitar pukul 09.30 waktu setempat seiring dimulainya negosiasi antara pemerintah dan pihak oposisi.

Perpanjangan masa jabatan memicu krisis politik

Akar konflik berasal dari rencana protes untuk menentang keputusan Presiden Hassan Sheikh Mohamud yang memperpanjang masa jabatannya. Pengumuman itu dilakukan setelah masa jabatan presiden yang seharusnya berakhir pada 15 Mei diperpanjang selama satu tahun.

Oposisi dan para pemimpin regional menolak langkah tersebut. Mereka menilai kebijakan itu menunda pemilihan umum sekaligus memicu kemarahan kubu oposisi yang menuduh presiden memusatkan kekuasaan.

Di sisi lain, pemerintah membantah tudingan tersebut. Pemerintah juga merespons penolakan oposisi dengan menyatakan ada bantahan terhadap klaim bahwa presiden tengah berupaya memperkuat kendali.

Konflik yang mengemuka beriringan dengan rencana aksi yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis. Oposisi awalnya menyerukan demonstrasi damai, namun situasi berkembang cepat menjadi kekerasan.

Polisi menilai kekerasan terkait serangan terorganisir

Al Jazeera melaporkan bahwa bentrokan terjadi menjelang aksi protes antipemerintah. Kepolisian, dalam laporan tersebut, menuding kekerasan yang terjadi berasal dari serangan terorganisir.

Polisi juga mengaitkan serangan itu dengan kelompok-kelompok politik yang disebut berupaya merebut kekuasaan. Tuduhan ini berkelindan dengan ketegangan politik yang sudah mengeras sejak keputusan perpanjangan masa jabatan diumumkan.

Associated Press (AP) melaporkan adanya kerumunan massa dalam jumlah besar di jalanan yang diiringi dengan kehadiran aparat keamanan dalam skala masif. AP juga menyebut patroli polisi berlangsung ketat selama situasi semakin panas.

Warga mendengar tembakan berat dan dampak ledakan

Suara tembakan dan ledakan terdengar di berbagai sudut Mogadishu. Dalam kondisi seperti itu, warga sipil berada dalam risiko tinggi menjadi korban tak sengaja di tengah perseteruan dua faksi politik.

Abdullahi Mohamed, salah seorang warga, mengatakan kepada AP, “Kami mendengar rentetan tembakan senjata berat, dan orang-orang melarikan diri dari rumah mereka,” ungkapnya. Pernyataan ini menggambarkan situasi panik yang terjadi ketika tembakan terdengar sepanjang malam.

Ahmed Ismail, warga lainnya di Mogadishu, menyampaikan keterangan kepada Reuters yang menyinggung dampak langsung ledakan terhadap lingkungan tempat tinggal. Ia mengatakan, “Sebuah peluru mortir jatuh di rumah tetangga saya, melukai seorang ibu. Sebuah rumah besar di dekat kami juga terbakar. Mortir dan senjata lainnya berjatuhan di sana,” tuturnya.

Di tengah laporan kerusakan, Mohamud Farah menyebutkan adanya dua kendaraan lapis baja yang dibakar dalam insiden tersebut. Keterangan ini memperlihatkan bahwa bentrokan tidak hanya melibatkan pertempuran di lokasi-lokasi tertentu, tetapi juga menimbulkan kebakaran dan kerusakan di area yang dilalui kendaraan militer.

Belum ada angka korban resmi

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai jumlah korban jiwa. Ketiadaan data resmi ini membuat rincian dampak kemanusiaan belum dapat dipastikan secara menyeluruh.

Meski begitu, seorang analis keamanan yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kepada AFP bahwa terdapat korban sipil di beberapa wilayah. Pernyataan itu menekankan bahwa kekerasan berdampak pada warga, meski angka pastinya belum dirilis oleh otoritas.

Kecaman oposisi terhadap pemerintah

Selain menghadapi kekerasan di lapangan, ketegangan politik juga bergulir melalui sikap saling menyalahkan. Mantan Perdana Menteri Somalia Hassan Ali Khaire, yang mengaku turut menjadi target pasukan keamanan, mengecam keras pemerintah.

Dalam kecamannya, Hassan Ali Khaire menyatakan ketidaksetujuan terhadap langkah pemerintah sekaligus menempatkan tindakan keamanan sebagai bagian dari upaya menekan kubu yang menolak perpanjangan masa jabatan. Sikap ini sejalan dengan penolakan oposisi yang sejak awal menilai keputusan presiden berpotensi mengubah arah politik negara.

Meski negosiasi kemudian mulai berjalan setelah bentrokan mereda pada pukul 09.30 waktu setempat, rangkaian peristiwa yang dimulai dari protes hingga pertempuran menunjukkan betapa rapuhnya situasi politik Somalia. Keputusan memperpanjang masa jabatan menjadi pemicu utama, sementara respons dan tudingan yang saling bertentangan terus mengiringi konflik.

Dalam waktu yang singkat, demonstrasi yang semula diarahkan menuju aksi di Kamis berubah menjadi pertempuran sengit yang membuat warga sipil harus mencari perlindungan. Laporan tembakan berat, ledakan, hingga pembakaran kendaraan lapis baja menggambarkan bahwa perselisihan politik berujung pada kekerasan yang sulit dikendalikan.