jurnalistik.co.id – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mengakhiri rangkaian kunjungan kerja ke wilayah timur Indonesia pada 21 Juni 2026. Selama empat hari, ia bergerak dari Ende di Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga berakhir di Asmat, Papua Selatan.
Pantauan di lapangan menyebutkan, Gibran bertolak ke Jakarta dari Lanud Yohanis Kapiyau, Timika, Papua Barat, sekitar pukul 17.26 WIT. Penutup kunjungan kerja tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan program pemerintah berjalan sampai ke daerah-daerah yang dikunjungi.
Kunker beruntun dari NTT hingga Papua
Gibran memulai kunjungannya di Ende, NTT, pada pertengahan rangkaian kegiatan 18-21 Juni 2026. Dari lokasi awal itu, ia melanjutkan perjalanan ke beberapa daerah lain di kawasan timur, lalu menyelesaikan agenda di Asmat, Papua Selatan.
Selama kunjungan kerja, Gibran membawa lima mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI), Universitas Sanata Dharma, Universitas Indonesia (UI), Universitas Pelita Harapan (UPH), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Institut Seni Budaya Indonesia (IBSI). Kehadiran rombongan mahasiswa menjadi bagian dari agenda pendampingan selama rangkaian kunjungan berlangsung.
Dalam setiap kunjungan, ia menekankan agar program pemerintah hadir dan dapat dirasakan masyarakat setempat. Penilaian lapangan dilakukan melalui peninjauan langsung ke berbagai titik kegiatan dan fasilitas.
Meninjau MBG dan kondisi sekolah di Ende
Di NTT, Gibran melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Ende untuk mengecek pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta kondisi sejumlah sekolah yang rusak. Ia meninjau langsung situasi di lapangan sebagai bahan evaluasi terhadap pelaksanaan program.
Dalam kesempatan tersebut, Gibran menyampaikan pandangannya mengenai penempatan MBG. Ia menilai program akan lebih tepat sasaran jika difokuskan pada wilayah 3T.
“Jadi saya kira MBG ini akan lebih tepat sasaran kalau difokuskan di area 3T,” kata Gibran saat mengunjungi SDM Wolomoni, Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) Kamis (18/6/2026). Menurutnya, anak-anak di daerah 3T sangat membutuhkan MBG, sekaligus untuk meringankan beban para orang tua.
Peninjauan di Gorontalo dan agenda PENAS Petani Nelayan
Setelah NTT, agenda Gibran berlanjut ke Gorontalo. Di provinsi itu, ia meninjau beberapa titik, mulai dari sekolah proyek pembangunan bendungan, hingga mengikuti pelaksanaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo.
Kunjungan ke berbagai titik kegiatan tersebut menunjukkan fokus pada keberlanjutan program pembangunan dan keterkaitan kegiatan ekonomi daerah. Kehadiran pada agenda PENAS juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang tersusun selama masa kunjungan.
Upaya afirmasi kegiatan di Papua Barat
Di Papua Barat, Gibran melakukan penanaman bibit pohon kokoa. Ia juga membuka acara perlombaan Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIV Nasional, yang digelar sebagai salah satu agenda kebudayaan dan kegiatan masyarakat.
Rangkaian kegiatan di Papua Barat memperlihatkan bahwa kunjungan kerja tidak hanya diarahkan pada pembangunan fisik, tetapi juga pada ruang-ruang kegiatan sosial-budaya. Penanaman bibit dan pembukaan acara menjadi bagian dari agenda yang langsung bersinggungan dengan masyarakat setempat.
Fokus fasilitas umum di Papua Selatan hingga Asmat
Berikutnya, pada Papua Selatan, Gibran meninjau berbagai fasilitas umum mulai dari museum, sekolah, hingga rumah sakit yang ada di Agats. Peninjauan mencakup kebutuhan layanan publik yang menjadi perhatian dalam penguatan penyelenggaraan program di wilayah tersebut.
Pada bagian ini, Gibran juga menyelesaikan rangkaian kunjungan hingga tiba di Asmat. Setelah serangkaian peninjauan di beberapa titik, ia kemudian bertolak kembali ke Jakarta.
Evaluasi MBG dan perbaikan tata kelola
Selain menilai aspek sasaran program, Gibran juga mengakui masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaan MBG. Karena itu, ia menekankan perlunya perbaikan tata kelola agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih efektif.
“Tata kelolanya diperbaiki, biar lebih efisien, jangan lagi ada pengadaan-pengadaan barang yang tidak sesuai, dan yang paling penting praktek-praktek korupsinya harus dihilangkan,” kata Gibran. Pernyataan itu menegaskan bahwa perbaikan tidak hanya pada sisi operasional, tetapi juga pada aspek pengawasan dan tata kelola.
Dengan rangkaian kunjungan 18-21 Juni 2026 dari NTT hingga Papua, Gibran membawa berbagai peninjauan lapangan ke beberapa area, termasuk Ende, Gorontalo, Papua Barat, hingga Papua Selatan. Penutup kunjungan dilakukan pada 21 Juni 2026 saat ia bertolak ke Jakarta dari Lanud Yohanis Kapiyau, Timika.
Keseluruhan agenda tersebut memperlihatkan bahwa fokus kunjungan kerja mencakup peninjauan program pemerintah, evaluasi pelaksanaan MBG, serta respons terhadap kondisi fasilitas publik yang ditemui di sejumlah daerah. Melalui rangkaian tersebut, Gibran menempatkan aspirasi dan kebutuhan daerah sebagai bagian dari refleksi untuk langkah kebijakan berikutnya.












