Teknologi

Soft Opening Museum Sains dan Teknologi Solo 25 Juli 2026: Gibran Tak Hadir, Pemkot Sebut Agenda di Jakarta

×

Soft Opening Museum Sains dan Teknologi Solo 25 Juli 2026: Gibran Tak Hadir, Pemkot Sebut Agenda di Jakarta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Soft Opening Museum Sains dan Teknologi Solo Batal Dihadiri Gibran, Pemkot Ungkap Alasannya

jurnalistik.co.id – Soft opening Museum Sains dan Teknologi Solo dijadwalkan berlangsung pada Sabtu (25/7/2026) di Kecamatan Jebres. Agenda tersebut dipastikan tidak dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka karena ada kegiatan lain yang akan ia jalani di Jakarta.

Penjelasan mengenai ketidakhadiran Gibran disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Murtono. Ia mengatakan, pembatalan itu sudah berhubungan langsung dengan agenda Wakil Presiden pada hari yang sama.

Budi menyampaikan bahwa Wakil Presiden sempat dijadwalkan hadir, namun akhirnya tidak bisa datang. “Pak Wapres tidak bisa hadir ada agenda lain. Katanya ada acara lain di Jakarta,” kata Budi kepada wartawan di Solo, Jawa Tengah, Jumat (24/7/2026).

Menurut Budi, komunikasi soal perubahan jadwal itu menjadi alasan utama mengapa soft opening berlangsung tanpa kehadiran Gibran. Kendati demikian, Pemkot tetap menjalankan rangkaian acara sesuai jadwal yang sudah ditetapkan.

Dalam kesempatan itu, Budi juga menegaskan bahwa pihaknya sudah menyampaikan permintaan agar Wakil Presiden dapat hadir pada agenda peresmian awal. “Makanya kita mengharapkan beliau (Wapres Gibran) bisa hadir untuk acara soft launching ini, tapi ada acara lain,” ungkap dia.

Soft opening Museum Sains dan Teknologi yang kini berlangsung merupakan salah satu wujud proyek yang telah lama ditunggu. Proses rencana pembukaan mengalami beberapa kali penyesuaian, mulai dari rencana awal hingga jadwal yang akhirnya dipercepat menjadi Sabtu (25/7/2026).

Perencanaan pembukaan lebih dulu sempat mengemuka pada Agustus 2025. Namun, jadwal tersebut kemudian mundur lagi hingga memasuki periode Maret 2026 sebelum akhirnya dinyatakan resmi dibuka pada hari berikutnya, Sabtu (25/7/2026).

Bangunan museum sendiri dibangun di atas lahan seluas 5 hektar. Pendanaan proyek itu berasal dari dana hibah Tahir Foundation.

Dengan lokasi dan skala yang disiapkan, museum diharapkan dapat menjadi ruang edukasi sekaligus daya tarik wisata. Meski tanpa kehadiran Gibran, Pemkot tetap memandang acara pembukaan awal ini sebagai penanda dimulainya tahapan pengenalan fasilitas kepada publik.

Rangkaian gagasan Museum Sains dan Teknologi

Menurut informasi yang telah diberitakan sebelumnya, gagasan museum ini berkaitan dengan pengisian materi pameran yang berfokus pada tema tertentu. Dato Sri Tahir menyebut museum tersebut nantinya akan menghadirkan pengalaman belajar yang dapat menjadi destinasi baru bagi warga Solo.

Tahir juga menyinggung harapannya agar proyek dapat selesai sesuai target waktu yang ditetapkan pada periode awal. Ia berharap proyek rampung pada akhir tahun 2024, sebagaimana disampaikannya dalam pemberitaan sebelumnya.

Dalam pernyataannya, Tahir menekankan semangat penyelesaian proyek. “Semua harus kebut, semua kerja keras. Kita puas, ini proyek yang besar, kebanggaan Solo,” ujar Tahir.

Tahir menjelaskan ada dua topik utama yang akan menjadi fokus pengisian museum. Dua topik tersebut berkaitan dengan ruang angkasa dan sejarah purbakala.

Ia menyebut, “Dua topik, satu ruang angkasa. Kami sudah bicara sama China. Satu topik lagi kami mau sejarah purbakala,” ucap Tahir. Pernyataan itu menandai bahwa persiapan konten pameran diarahkan agar tema-tema tersebut dapat dipresentasikan secara terstruktur.

Selain merancang konsep, Tahir juga mengungkap rencana menghadirkan peninggalan purbakala untuk menarik minat belajar pengunjung. Informasi itu menunjukkan bahwa museum tidak hanya menampilkan pengetahuan umum, melainkan juga materi visual atau objek yang relevan dengan tema yang disiapkan.

Ia menambahkan, pihaknya berencana mendatangkan peninggalan yang dapat menjadi daya tarik sekaligus bahan edukasi. “Kami mau cari tulang yang besar untuk ditaruh di sini. Visinya jelas, dua topik ini akan kami tempatkan di Solo,” jelasnya.

Pernyataan Tahir tersebut menggambarkan arah besar pengelolaan museum, yaitu menempatkan dua tema utama secara konsisten. Dengan demikian, pengunjung diharapkan mendapatkan pengalaman yang menyambungkan rasa ingin tahu pada sains, khususnya ruang angkasa, serta pembelajaran sejarah purbakala.

Dalam konteks acara soft opening yang berlangsung pada 25 Juli 2026, rangkaian informasi sebelumnya tersebut turut memberi gambaran tentang bagaimana museum dirancang untuk memadukan edukasi dan pengalaman kunjungan. Jadwal pembukaan yang akhirnya dipastikan maju ke hari Sabtu menjadi titik awal untuk memperkenalkan fasilitas kepada publik.

Meski jadwal kunjungan Wakil Presiden Gibran tidak berjalan, penjelasan Pemkot menegaskan bahwa ketidakhadiran disebabkan agenda lain di Jakarta. “Katanya ada acara lain di Jakarta,” seperti yang disampaikan Budi Murtono.

Soft opening ini lantas menjadi penanda bahwa proses pembukaan museum, yang sempat bergeser dari rencana Agustus 2025 hingga Maret 2026, kini memasuki tahap pelaksanaan. Dengan dana hibah Tahir Foundation dan lahan seluas 5 hektar, museum memasuki fase awal yang diharapkan dapat memperluas pilihan destinasi edukatif di Solo.