Teknologi

Jensen Huang Sebut China Tetap Pasar Strategis Nvidia Senilai Rp 3.500 Triliun

0
×

Jensen Huang Sebut China Tetap Pasar Strategis Nvidia Senilai Rp 3.500 Triliun

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ditolak China Mentah-Mentah, AS Tak Malu Ngarep Rp 3.500 Triliun

jurnalistik.co.id – CEO Nvidia Jensen Huang menegaskan China masih masuk dalam proyeksi pasar CPU senilai US$200 miliar atau sekitar Rp3.500 triliun yang dibidik perusahaan. Pernyataan itu kembali menempatkan China sebagai pasar strategis jangka panjang bagi Nvidia, di tengah ketegangan teknologi yang belum mereda antara Amerika Serikat dan Negeri Tirai Bambu.

Huang menyampaikan komentar tersebut saat tiba di Taipei pada Sabtu (23/5/2026), menjelang pameran teknologi Computex bulan depan. Ketika ditanya apakah proyeksi pasar CPU senilai US$200 miliar itu juga mencakup China, Huang menjawab singkat, “Saya rasa iya.”

Jawaban singkat itu muncul di tengah perubahan arah bisnis Nvidia yang mulai memperluas fokus dari chip grafis atau GPU ke pasar CPU. Langkah tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan terhadap teknologi agentic AI, yakni sistem kecerdasan buatan yang mampu menjalankan fungsi secara mandiri.

Dalam paparan kinerja perusahaan pekan ini, Huang sebelumnya mengatakan prosesor terbaru Nvidia bernama Vera membuka akses perusahaan ke pasar baru senilai US$200 miliar. Ia juga menyebut lini produk terbaru akan menopang pertumbuhan agresif Nvidia dan mendorong penjualan chip AI andalan mereka melampaui proyeksi US$1 triliun.

China masih penting, tetapi akses belum mulus

Di sisi lain, peluang Nvidia di China masih menghadapi hambatan besar. Perusahaan memang telah mengantongi lisensi dari pemerintah AS untuk menjual chip AI H200. Namun sampai saat ini, Nvidia belum memperoleh persetujuan dari otoritas China yang tengah mempercepat pengembangan industri chip lokal.

Situasi itu membuat China tetap menjadi pasar yang besar sekaligus sulit ditembus. Nvidia sebelumnya juga tampak pasrah dengan ketidakpastian yang terus membayangi bisnisnya di negara tersebut. Huang bahkan mengakui perusahaan kehilangan pangsa di pasar chip AI China yang kini jatuh ke tangan raksasa lokal, Huawei.

Kondisi itu tak lepas dari pembatasan ekspor chip AI yang dilancarkan pemerintah Amerika Serikat ke China. Namun, kebijakan tersebut justru dinilai memicu dorongan baru bagi para pemain lokal, termasuk Huawei, untuk mengembangkan chip AI secara mandiri. Alih-alih melemah, ekosistem chip China justru terdorong untuk bergerak lebih agresif.

Dalam berbagai kesempatan, Huang juga kerap menyinggung risiko kemajuan China terhadap dominasi Amerika Serikat dalam pengembangan chip dan AI. Meski Presiden AS Donald Trump belakangan mulai melunak terhadap China, perkembangan industri chip di bawah kekuasaan Xi Jinping tampak sudah tidak terlalu bergantung pada teknologi AS.

Pasar China sendiri pernah menyumbang setidaknya seperlima dari pendapatan data center Nvidia. Namun, perusahaan itu secara efektif telah tersingkir dari pasar setelah pemerintahan Trump memberi tahu Nvidia pada April lalu bahwa mereka memerlukan lisensi untuk mengekspor chip ke China dan beberapa negara lain.

Huang minta investor jangan berharap banyak

Dalam wawancara dengan CNBC International, Huang menyampaikan nada hati-hati soal prospek pembukaan kembali pasar China dalam waktu dekat. Ia mengatakan Nvidia sudah memberi tahu investor untuk “tidak mengharapkan apa pun” terkait persetujuan penjualan chip canggih ke negara tersebut.

“Saya tidak memiliki ekspektasi apa pun. Itulah sebabnya kami menyampaikan semua panduan, angka, dan ekspektasi kepada semua analis dan investor kami, untuk tidak mengharapkan apa pun,” kata Huang.

Pernyataan itu memperlihatkan posisi Nvidia yang berada di dua sisi sekaligus. Di satu sisi, perusahaan masih melihat China sebagai pasar yang sangat besar dan strategis. Di sisi lain, jalur untuk masuk ke pasar tersebut masih tertahan oleh persaingan geopolitik, aturan ekspor, serta percepatan kemampuan industri chip lokal China.

Dengan demikian, komentar Huang di Taipei bukan sekadar jawaban singkat atas pertanyaan soal proyeksi pasar. Pernyataan itu juga menegaskan bahwa, meski akses ke China belum terbuka lebar, Nvidia belum mencoret negara itu dari rencana pertumbuhan jangka panjangnya.

Di tengah persaingan teknologi yang makin tajam, Nvidia tetap mencoba menjaga ruang gerak bisnisnya. Perusahaan melihat pasar baru lewat CPU dan agentic AI, sementara China tetap disebut dalam proyeksi besar yang bernilai ratusan miliar dolar AS. Namun sampai ada kejelasan dari otoritas China, peluang itu masih berada di wilayah yang penuh tanda tanya.