Otomotif

Jaga Kesigapan Berkendara: Istirahat Setiap 3 Jam untuk Cegah Microsleep

×

Jaga Kesigapan Berkendara: Istirahat Setiap 3 Jam untuk Cegah Microsleep

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Hindari Microsleep, Pengemudi Disarankan Istirahat Tiap 3 Jam

jurnalistik.co.id – Microsleep menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang kerap muncul saat perjalanan jauh. Kondisi ini membuat pengemudi tertidur dalam hitungan detik tanpa disadari, sehingga bahayanya meningkat ketika kendaraan melaju cepat, termasuk di jalan tol.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pengemudi disarankan tidak memaksakan diri berkendara terlalu lama tanpa jeda. Istirahat secara berkala dinilai menjadi cara penting agar konsentrasi tetap terjaga sepanjang perjalanan.

Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menekankan bahwa waktu istirahat sebaiknya dilakukan setiap tiga jam berkendara, dengan durasi yang disesuaikan. Menurutnya, pola jeda ini membantu tubuh dan pikiran kembali “reset” sebelum pengemudi masuk ke fase mengantuk yang lebih serius.

Pola istirahat setiap 3 jam

Sony menjelaskan ada tiga metode istirahat yang bisa diterapkan pengemudi, yakni 15 menit, 30 menit, dan 1 jam. Ia menegaskan bahwa pilihan durasi perlu mengikuti akumulasi waktu berkendara, bukan sekadar kebiasaan berhenti di rest area.

“Jadi metode beristirahat itu ada tiga. Yang pertama metode 15 menit, yang kedua 30 menit, yang ketiga 1 jam. Nah, istirahat 15 menit kan dibagi lagi, 5 menit pertama yang harus di-refresh adalah motoriknya, stretching, itu cukup 5 menit,” ucap Sony, kepada Kompas.com, Minggu (26/7/2026).

Dalam penjelasan lanjutan, Sony menambahkan pembagian waktu di dalam jeda 15 menit agar pemulihan lebih terasa. “Yang kedua adalah merefresh sensoriknya, menstimulasi sensoriknya, pendengaran, penglihatan, penciuman, dan sebagainya, cukup 5 menit. 5 menit yang ketiga adalah otaknya supaya dia lebih fokus. Jadi sebenarnya metode 15 menit ini relevan untuk perjalanan berikutnya,” lanjutnya.

Ia menegaskan bahwa metode 15 menit bukan sekadar berhenti, tetapi harus dimanfaatkan untuk memulihkan kondisi tubuh dan pikiran. Pada praktiknya, jeda tersebut bekerja sebagai persiapan untuk perjalanan berikutnya sehingga pengemudi tidak melanjutkan dengan kondisi yang menurun.

Menurut Sony, pengemudi yang dalam kondisi bugar, cukup tidur, serta memiliki asupan makanan yang baik dapat menerapkan pola istirahat itu selama perjalanan. Artinya, kualitas tidur dan pola makan tetap menjadi faktor pendukung agar jeda benar-benar efektif menekan risiko microsleep.

Setelah 6 jam: istirahat diperpanjang

Sony juga memberi aturan saat total waktu berkendara sudah mencapai enam jam. Setelah menempuh waktu tersebut, waktu istirahat sebaiknya ditambah menjadi 30 menit.

“Nah, setelah menempuh 6 jam, baru dia menerapkan 30 menit. Tapi ini asumsi si pengemudi fit, tidur yang cukup, makan asupannya juga yang sehat-sehat. Nah, 6 jam berikutnya adalah 30 menit, kelipatannya 10 menit, 10 menit, 10 menit,” ujarnya.

Durasi 30 menit ini, dengan demikian, tetap mempertimbangkan pembagian waktu agar pemulihan tidak terasa “instan”. Walau jeda diperpanjang, prinsip dasarnya tetap sama: pengemudi tidak boleh menganggap waktu enam jam sebagai periode tanpa berhenti.

Jangan lewatkan jeda tiap 3 jam

Meski total perjalanan mengarah ke enam jam dan istirahat menjadi lebih panjang, Sony menegaskan bahwa pengemudi tetap harus menyelingi waktu istirahat setiap tiga jam. Ia mengingatkan agar pola berkendara tidak berubah menjadi non-stop dalam rentang yang panjang.

“Maksimal 3 jam berkendara, istirahat 15 menit, 3 jam lagi berkendara, istirahat 30 menit, dan seterusnya. Jadi enggak non-stop 9 jam atau 6 jam, enggak. Tiap 3 jam diselingi istirahat,” kata Sony.

Pengingat ini penting karena microsleep dapat muncul ketika tubuh dan perhatian sudah turun, meski pengemudi merasa “masih bisa jalan”. Dengan jeda terstruktur, pengemudi memberi ruang untuk tubuh kembali siaga sebelum melanjutkan mengemudi.

Jika sudah 9 jam: wajib tidur

Sony juga menggarisbawahi aturan berbeda ketika total waktu berkendara mencapai sembilan jam. Pada kondisi ini, pengemudi wajib tidur sebelum melanjutkan perjalanan lagi.

“Kemudian setelah berkendara 9 jam, dia wajib tidur. 1 jam jangan lebih, supaya passion dia berkendara itu tidak hilang,” ucap Sony.

Durasi tidur ideal sekitar satu jam dan sebaiknya tidak lebih lama, agar semangat berkendara tetap terjaga. Dengan mengikuti pengaturan 3 jam–jeda yang tepat, lalu eskalasi ke 30 menit setelah enam jam dan tidur setelah sembilan jam, pengemudi memiliki kontrol yang lebih baik terhadap kondisi kewaspadaan di jalan.