jurnalistik.co.id – Kain bersulam Bayeux Tapestry kembali ke Inggris untuk pertama kalinya dalam lebih dari 900 tahun. Kini, karya hampir berusia 1.000 tahun itu akan dipamerkan di British Museum mulai 10 September 2026 hingga 11 Juli 2027.
Dengan panjang sekitar 70 meter, Bayeux Tapestry tersusun seperti “papan cerita” bergambar yang merunut peristiwa penting menjelang dan selama Penaklukan Norman. Rentetan adegannya membahas perebutan kekuasaan yang berujung pada Pertempuran Hastings pada 1066, saat William Sang Penakluk menghadapi Raja Harold.
Menurut Dr David Musgrove, penulis bersama The Story of the Bayeux Tapestry sekaligus content director HistoryExtra, permadani ini juga menampilkan dinamika politik yang terasa dramatis—dari kesetiaan, pengkhianatan, sampai pertempuran berdarah—dengan cara yang sangat rinci.
William memberi persenjataan kepada Harold
Bagian awal Bayeux Tapestry berlatar pada 1064 atau 1065. Saat itu, Harold—yang digambarkan sebagai earl paling berpengaruh di Inggris dan sekaligus saudara ipar Raja Edward the Confessor—dikirim ke Normandy, wilayah di utara Prancis.
Di Normandy, Harold bergabung dengan William, Duke of Normandy, dalam pertempuran di Brittany. Pada paruh pertama kain tersebut, Harold dipotret dengan cara yang positif, seolah menempatkannya pada posisi tokoh yang layak dihormati.
Musgrove menekankan makna adegan persenjataan ini: “He’s being given arms and armaments by Duke William, and this is really important because the subtext of the first half of the tapestry is essentially to present Harold as a heroic figure.” Ia menilai, isyarat yang ditanam di bagian awal sengaja membentuk pembaca untuk melihat Harold sebagai figur heroik.
Sumpah Harold di hadapan relik suci
Dalam salah satu adegan paling penting, Harold digambarkan merentangkan kedua lengannya untuk menyentuh dua kotak berisi relik suci sambil mengucapkan sumpah. Musgrove menyebut adegan ini sebagai momen ketika Harold seolah membuat ikrar, yakni kesetiaan kepada William sebagai penerus Raja Edward.
Namun, ekspresi tubuh Harold memperlihatkan ketegangan. Musgrove mengatakan, “He actually looks physically contorted and conflicted,” lalu menambahkan, “At least that’s my take on it. He looks as if he’s kind of a bit anguished about having to make this oath.” Ia membaca Harold seperti seseorang yang terpaksa berada dalam posisi rumit.
Lebih jauh, Musgrove merangkum pergeseran karakter dalam kain tersebut: “This scene is basically where Harold goes from hero in the first part to zero in the second part.” Bagi Musgrove, adegan sumpah itu menjadi titik balik, dari figur yang dipandang layak dihargai menuju sosok yang kehilangan simpati.
Edward wafat, Harold mengklaim takhta
Berita Terkait
Setelah kembali ke Inggris, kisah bergeser ketika Raja Edward the Confessor meninggal pada Januari 1066. Setelah peristiwa itu, Harold mengklaim takhta untuk dirinya sendiri.
Musgrove menilai momen tersebut sebagai perubahan besar dalam narasi: “So he’s gone against this supposed oath, and this is where he becomes the villain of the piece. This is a really important moment.” Menurutnya, keputusan Harold diposisikan sebagai pelanggaran terhadap sumpah yang semula digambarkan.
Tanda buruk dari kemunculan Halley’s Comet
Di bagian berikutnya, Bayeux Tapestry menampilkan penanda yang dianggap membawa pertanda buruk. Komet Halley muncul di langit—fenomena yang, menurut sumber, hanya bisa terlihat dari Bumi kira-kira setiap 75 tahun.
Musgrove mengaitkan adegan langit itu dengan konsekuensi dari rangkaian peristiwa sebelumnya, terutama setelah “pengkhianatan” yang disebut-sebut dalam narasi kain. Ia menjelaskan: “You can see all the people staring up and pointing at it.”
Lalu, Musgrove menafsirkan maksud visual adegan tersebut: “That is basically saying, ‘Something’s gone wrong here, Harold having himself crowned is going to lead to a bad result.’ And that is what happens.” Dengan demikian, kemunculan komet berfungsi sebagai isyarat dramatis bahwa arah peristiwa akan berakhir buruk.
Hastings: Harold dikalahkan dengan anak panah
Bagian akhir Bayeux Tapestry merapat pada klimaks konflik bersenjata. William mengumpulkan pasukan besar untuk merebut mahkota, dan kedua pihak bertemu dalam Pertempuran Hastings.
Dalam adegan paling terkenal, Harold—disebut kemungkinan besar—tertembak anak panah di bagian mata. Ia digambarkan memegangi dirinya pada momen-momen terakhir. Musgrove menyebut, “This is the most famous scene in the tapestry.”
Di teks kecil yang menyertai adegan tersebut, tertulis: “Here King Harold is killed.” Setelah pemimpin Inggris wafat, pasukan mereka digambarkan mundur dan kalah.
Namun, sumber yang sama juga menyampaikan adanya perdebatan. Ada silang pendapat apakah anak panah itu benar-benar merupakan bagian asli dari Bayeux Tapestry atau kemudian ditambahkan saat restorasi pada abad ke-19. Perbedaan pandangan lain juga muncul mengenai identitas sosok yang terluka: apakah benar itu Harold, atau sosok di sebelahnya yang tewas oleh seorang prajurit berkuda—bahkan kemungkinan keduanya menunjukkan Harold pada waktu yang berbeda.
Meski demikian, Musgrove menegaskan hal yang tidak diperselisihkan: “It’s undeniable that Harold is dead – the text says it – but the manner of his death is somewhat debated.” Bagi Musgrove, apa pun variasi detail kematian yang diperdebatkan, kemunculan adegan itu tetap menjadi puncak dramatis yang menandai periode yang mengubah arah sejarah Inggris.
Keseluruhan kisah tersebut kini kembali hadir bagi publik melalui pameran di British Museum, sekaligus menghidupkan kembali intrik dan pertempuran yang pernah merombak peta kekuasaan di Inggris abad pertengahan.






