Pendidikan

Jauh dari Keramaian Mal, Vina (34) Pilih Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang untuk Anak

×

Jauh dari Keramaian Mal, Vina (34) Pilih Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang untuk Anak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saat Libur Sekolah Tak Melulu ke Pantai dan Mal, Perpustakaan Padang Jadi Alternatif

jurnalistik.co.id – Libur sekolah sering dibayangkan identik dengan jalan-jalan ke mal atau tempat rekreasi berkerumun. Namun, di Padang, Vina (34) memilih jalan yang berbeda: membawa dua anak perempuannya ke Perpustakaan Umum Daerah Kota Padang sejak sekitar dua bulan terakhir.

Selasa (7/7/2026), suasana tenang di sekitar rak buku menjadi bagian dari rutinitas Vina bersama buah hatinya. Di tempat itu, barisan koleksi bacaan dan lingkungan yang minim gangguan membuat anak-anaknya lebih mudah betah beraktivitas.

Bagi Vina, perpustakaan bukan sekadar tempat singgah. Ia menjadikannya ruang untuk membangun kebiasaan baru, terutama ketika mayoritas orang tua sedang merencanakan waktu libur. Pada masa libur sekolah, pilihan itu terus ia pertahankan, dan menjelang akhir pekan pun lokasinya kembali jadi alternatif yang sama.

“Kalau di sini (perpustakaan) anak dapat lingkungan baru dan kebiasaan baru,” ujar Vina. Ia menyampaikan kalimat itu sambil sesekali menoleh ke kedua anaknya yang masih bergerak di sekitar area baca.

Begitu memasuki Perpustakaan Daerah Kota Padang, kedua anak Vina langsung melihat pemandangan yang berbeda dari tempat ramai. Di lorong-lorong rak, orang dewasa tampak sibuk dengan tumpukan buku atau perangkat laptop masing-masing. Tidak ada teriakan, tidak ada suara yang dominan, hanya batuk kecil dan langkah kaki bergantian di antara deretan rak.

Perbedaan pola suasana tersebut membuat anak-anaknya cepat beradaptasi. Pada awalnya, Vina masih perlu memberi pengingat agar mereka tidak terlalu banyak bersuara, misalnya dengan gestur telunjuk di hidung untuk menenangkan. Namun, perlahan, anak-anaknya memahami batasan yang berlaku.

“Akhirnya lambat laun mereka mengerti. Terlebih di sini ada ruang anak. Walaupun ada permainan, tetapi tidak membuat anak ribut,” kata Vina. Ia menekankan bahwa keberadaan ruang khusus anak menjadi penentu kenyamanan, karena bermain tetap dapat berlangsung tanpa mengganggu suasana membaca orang lain.

Ruang main yang dekat dengan buku

Di area bermain, anak-anak dapat mengisi waktu dengan permainan menyusun balok dan potongan puzzle. Mereka juga tersedia meja dan kursi kecil yang disesuaikan untuk aktivitas anak. Dengan fasilitas itu, waktu kunjungan tidak hanya diisi oleh kegiatan membaca pasif, melainkan juga aktivitas yang memberi kesempatan bereksplorasi secara lebih bebas.

Sambil bermain, anak-anak dapat mengamati ratusan koleksi buku bergambar yang tersedia. Pilihan visual yang beragam membuat mereka tidak cepat bosan. Dari situ, kebiasaan yang akhirnya tumbuh adalah meniru ritme orang-orang di sekitarnya: membolak-balik halaman buku dengan cara yang mereka pahami sendiri.

Vina mengakui, proses tersebut tidak terjadi dalam sekali waktu. Anak-anaknya pada akhirnya mulai meniru, mengikuti kebiasaan orang dewasa yang membaca dan memerhatikan susunan kata dalam buku. Kegiatan kecil itu, menurutnya, perlahan membantu anak membangun fokus dan rasa ingin tahu.

Selain menyediakan ruang dan waktu, Vina juga menyiapkan perlengkapan sederhana agar anak-anaknya bisa mengekspresikan diri. Ia menaruh kertas kosong dan pensil di dekat anak, sehingga mereka dapat menggambar atau menuliskan hal yang ingin mereka coba ungkapkan setelah melihat buku.

“Akhirnya, anak bisa belajar dari lingkungannya. Setiap buku bergambar yang mereka baca memunculkan imajinasi baru dan pertanyaan baru,” tutur Vina. Bagi dia, perpustakaan memberi lebih dari sekadar hiburan saat libur; tempat itu menjadi wadah untuk merangsang diskusi dan pemikiran dari hal-hal yang mereka temui di halaman-halaman bacaan.

Dengan demikian, perpustakaan hadir sebagai pilihan yang menjaga anak tetap berada dalam lingkungan yang tertib, sementara kebutuhan bermain tetap dapat difasilitasi. Di tengah berbagai opsi rekreasi, Vina menemukan bahwa kebiasaan sederhana—membaca, membolak-balik halaman, hingga bertanya—bisa tumbuh dari rutinitas yang konsisten di satu tempat yang sama.