Internasional

Calgary Stampede jadi panggung perebutan arah Alberta: tetap di Kanada atau pisah

×

Calgary Stampede jadi panggung perebutan arah Alberta: tetap di Kanada atau pisah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: At the Calgary Stampede, the starting gun is fired in the fight over Alberta separation

jurnalistik.co.id – Di Calgary Stampede, pesta rodeo terbesar di Kanada, gaung politik yang selama ini dibicarakan di ruang rapat kini hadir di tengah gelanggang. Di balik musik karnaval dan keramaian stan, perhatian publik mengerucut pada pemungutan suara Oktober tentang posisi Alberta: tetap menjadi bagian Kanada, atau membuka jalan menuju pemisahan.

Setiap tahun, lebih dari satu juta orang datang untuk menyaksikan rangkaian acara khas Alberta, mulai dari balapan chuckwagon hingga penampilan bareback riders dalam estafet berkuda ala komunitas First Nations. Namun tahun ini, “taruhannya” terasa lebih besar daripada sekadar perayaan budaya barat.

Oktober mendatang, Albertans akan memilih apakah provinsi ingin tetap berada di negara tersebut, atau apakah mereka menghendaki referendum mengikat pada tahap pemisahan berikutnya. Karena itulah, banyak pihak memandang momen ini sebagai awal dari pertarungan yang kemungkinan akan berjalan panjang.

Corey Hogan, anggota parlemen Liberal dari Calgary yang mengundang puluhan koleganya dari berbagai wilayah untuk ikut mempromosikan persatuan, menggambarkan pemungutan suara itu sebagai pusat perhatian dalam setiap diskusi. “The referendum is the cloud over everything,” katanya, menambahkan bahwa “It underpins every other conversation we might want to have.”

Menurut Hogan, kamp yang mendukung Kanada menggunakan Stampede sebagai panggung untuk memperkuat argumen bahwa mereka memiliki lebih banyak kesamaan. Ia juga menyebut separatisme sebagai sesuatu yang memecah belah hubungan keluarga di seluruh provinsi.

Perdana Menteri Mark Carney juga dijadwalkan hadir di Calgary pada akhir pekan ini, dengan membawa pesan persatuan. Sejumlah survei bahkan menunjukkan kubu pro-persatuan berpeluang menang “comfortably” pada Oktober, meski kekhawatiran tetap hidup di kalangan sebagian orang.

Andrew Kemle, mahasiswa di University of Calgary, mengaku bayang-bayang Brexit justru masih terasa kuat pada isu ini. “The shadow of Brexit is hanging over this whole thing,” ujarnya, sebelum menambahkan bahwa “An entire country sleepwalked into an economic disaster.”

Di tengah anggaran waktu dan kerumunan, kegelisahan juga datang dari orang-orang yang merasa identitasnya sering dipertanyakan. Justin Perkins, yang mengungkap pikirannya saat mengisi bahan bakar di pedesaan Alberta, berkata, “I would say I’m 100% Canadian, but every year it is a little less,” dan melanjutkan, “When you’re not respected, it’s hard to respect the people that don’t respect you… I’m the hated redneck, right? That’s me. Not that I did anything wrong, I’m just born here.”

Dari sisi lain, Thomas Lukaszuk—politisi Alberta dari Progressive Conservative yang kini menjadi penggerak kampanye—menekankan bahwa pemisahan akan membawa konsekuensi serius. Ia menilai separasi “would be, from a political, economic, and social perspective, a terrible process to have to go through.”

Lukaszuk memimpin gerakan Forever Canadian yang baru saja meresmikan markas kampanye di Calgary. Ia menyatakan tujuannya bukan mengarahkan pilihan warga, melainkan mengingatkan “what it means to be Canadian,” sekaligus memperingatkan dampak berat bila Alberta memilih jalan keluar.

Selama dua bulan terakhir, ia berkeliling provinsi dengan sebuah camper van berlapis lambang daun maple yang sudah direstorasi, dijuluki “Unity Bus”. Ia membagikan pin dan tanda halaman (lawn signs), berbicara kepada calon pemilih sambil menyuarakan pesan tentang persatuan.

Walau demikian, mereka yang pro-pemisahan sering menyebut pemungutan suara Oktober sebagai “referendum on a referendum”, karena pertanyaannya tidak menanyakan secara langsung apakah Alberta harus berpisah. Namun, di kubu pro-Kanada, banyak orang tetap memperlakukan pemungutan suara itu seolah hasilnya bersifat mengikat.

Hogan menyebut ada kekhawatiran bahwa politik Alberta bisa “consumed” oleh isu ini, seolah menyerap energi seluruh agenda. “I think we’re all very worried that Alberta politics could be consumed by this forever,” katanya.

Di kubu separatis, pendorong utama yang sering muncul adalah keyakinan bahwa Alberta tidak dipahami dan terlalu diabaikan oleh pengambil keputusan di Ottawa. Seorang pendukung kemandirian menyebut Alberta sebagai “the ‘ugly cousin’”, seakan provinsi tersebut tidak punya pilihan lain selain menempuh jalan sendiri.

Alasan mengapa referendum mengikat tidak langsung terjadi berkaitan dengan gugatan ke pengadilan oleh kelompok First Nations. Mereka berargumen bahwa konsultasi tidak berjalan semestinya dan hak-hak perjanjian (treaty rights) berisiko bila independensi Alberta menjadi kenyataan; keputusan itu sekarang diajukan banding.

Chief Samuel Crowfoot dari Siksika First Nation, yang berada beberapa kilometer di sebelah timur Calgary, menyatakan masa depan akan lebih aman bila tetap berada di Kanada. “Our future is more secure if we stay in Canada,” ujarnya, tepat di lokasi dekat tempat Treaty 7 ditandatangani pada 1877 antara British Crown dan lima First Nations di wilayah tersebut.

Crowfoot menegaskan peran perjanjian dalam hubungan antara Crown, Kanada secara lebih luas, dan ratusan komunitas First Nations. “Those treaties will be honoured more so if we stay within Canada,” katanya, seraya menambahkan bahwa “There is no guarantee, there’s no talk from the separatists, no outreach from any of the movements to speak with any First Nations about what this new Alberta would look like if we were to separate.”

Chief Troy Knowlton dari Piikani First Nation menyampaikan pandangan yang lebih tajam. Ia mengatakan, ia lebih memilih berhadapan dengan kondisi yang sudah dikenal: “dealing with the devil that we know today”. Crowfoot juga berargumen bahwa sampai saat ini, First Nations-lah yang paling konsisten menjaga agar Kanada tetap utuh.

Sebaliknya, Alberta Premier Danielle Smith menghadapi dilema politik: harus menavigasi basis yang memiliki kecenderungan separatis, sementara ia sendiri dan secara politik mendukung persatuan. Ia berpendapat bahwa “referendum on a referendum” justru menjadi kesempatan untuk mendengar langsung aspirasi Albertans.

Meskipun gagasan Alberta merdeka sudah ada selama puluhan tahun, momentum meningkat tahun lalu setelah kelompok-kelompok pro-pemisahan menggelar town hall di seluruh provinsi. Mereka kemudian mengumpulkan tanda tangan yang cukup untuk mendorong referendum berdasarkan hukum provinsi.

Pandemi turut menguatkan kemarahan yang mengendap. Beberapa Albertans pendukung kemerdekaan menyebut Freedom Convoy pada 2021 sebagai titik balik, ketika ratusan pengemudi truk—banyak di antaranya dari wilayah barat Kanada—bergerak menuju Ottawa untuk memprotes mandat vaksin.

Chris Scott, seorang penyelenggara kemerdekaan Alberta yang ikut dalam Freedom Convoy, mengatakan bahwa pengalaman itu mengubah cara pandangnya tentang Kanada. “I was raised believing that Canada was a free country,” ujarnya, kemudian menyinggung bahwa setelah dua minggu aksi yang mengunci pusat kota Ottawa, Perdana Menteri Justin Trudeau memakai “the never-used Emergencies Act”, sehingga otoritas mendapatkan kewenangan yang diperluas untuk membubarkan demonstrasi.

Scott berbicara di sebuah kafe dan truck stop di wilayah pedesaan yang didekorasi bendera biru Alberta serta gambar-gambar yang menggambarkan suasana Freedom Convoy. Ia menilai penanganan Trudeau atas protes itu secara fundamental mengganti arah pikirannya.

Banyak orang di kedua kubu sepakat bahwa provinsi kaya minyak namun terkurung daratan sering merasa diabaikan Ottawa. Mereka juga menyoroti kesulitan memperoleh dukungan untuk membangun lebih banyak pipa serta membawa sumber daya provinsi itu ke pasar.

Sejauh ini, salah satu daya tarik utama Mark Carney kepada Alberta adalah dorongan agar persetujuan pipa minyak menuju pantai barat bisa terealisasi—sebuah tuntutan lama Alberta. Langkah itu dipuji sebagai langkah pertama untuk “healing the relationship” antara Alberta dan Ottawa, tetapi Scott menilai pendekatan tersebut belum cukup.

Scott menyatakan Alberta tidak punya pilihan selain menetapkan aturan sendiri. Di sisi lain, perdebatan ini digambarkan “divisive” dan “emotional” oleh Albertans yang berbicara kepada BBC. Lukaszuk menyebut adanya ketidakpercayaan antar-tetangga, hingga orang memperhatikan bendera mana yang berkibar di rumah—bendera Alberta atau Kanada—dan jika bendera Alberta yang terpasang, ada kecurigaan bahwa pemiliknya adalah separatis. Ia menutup dengan, “This has to end.”

Di kamp persatuan, dorongan separatis kerap dianggap berasal dari “fringe minority”. Survei menunjukkan sekitar 20% Albertans mendukung kemerdekaan, namun Scott di Mirror—kota berpenduduk sekitar 400 orang, dua jam perjalanan dari Calgary—mengaku bisa menghitung dengan jari orang yang benar-benar menolak independensi. Menurutnya, pembelahan terasa kuat antara wilayah perkotaan dan pedesaan.

Menjelang akhir perhelatan Stampede yang berlangsung 10 hari, kedua pihak menyatakan bahwa pertarungan baru dimulai. Scott membeli camper van pribadinya sebagai tandingan bagi “Unity Bus” milik Lukaszuk, dan menyebut independensi Alberta “inevitable” terlepas dari hasil Oktober.

Bagi Lukaszuk, kehilangan bukan pilihan. “We will do everything we possibly can to win this referendum.”