jurnalistik.co.id – Lionel Messi terus menegaskan posisinya sebagai mesin gol yang sulit tergeser, bahkan ketika usianya memasuki akhir 30-an. Rekor-rekor di Piala Dunia yang ia susun bukan sekadar angka, melainkan rangkaian konsistensi yang bertahan dari turnamen ke turnamen.
Messi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia setelah mencetak gol dalam pertandingan melawan Austria. Ia kini telah mengemas 17 gol dalam 28 pertandingan Piala Dunia, melampaui rekor sebelumnya milik striker Jerman Miroslav Klose yang mencatat 16 gol.
Catatan itu muncul saat Argentina sedang mempertahankan gelar mereka. Pada awal turnamen, Messi langsung mencetak hat-trick di pertandingan pembuka, lalu rekor besar terjadi pada laga kedua ketika ia kembali mencetak gol. Untuk laga berikutnya, ia masih menunggu pertandingan ketiga melawan Jordan.
Di Piala Dunia, Messi juga membuktikan produktivitasnya lewat rangkaian yang jarang terjadi. Ia mencetak gol di enam pertandingan Piala Dunia beruntun, sebuah pencapaian yang sebelumnya hanya pernah dilakukan dua pemain lain: Just Fontaine (Prancis) dan Jairzinho (Brasil) pada tahun 1958. Tidak ada pemain yang sanggup mencetak gol dalam tujuh laga Piala Dunia beruntun.
Selain sebagai pemburu gol, Messi juga tercatat sebagai pemain yang menciptakan peluang terbanyak dalam sejarah Piala Dunia. Menurut Opta, ia hanya membutuhkan satu assist lagi untuk memberikan kontribusi assist yang lebih banyak daripada pemain mana pun sejak pencatatan dimulai pada 1966. Messi saat ini berbagi rekor tersebut dengan idolnya, Maradona.
Usia akhir 30-an tak memadamkan daya ledak
Ketika Messi masih berusia 31 tahun, Argentina pernah tersingkir oleh Prancis dalam “classic” tujuh gol di Rusia pada 2018. Banyak pihak bisa saja mengira era performa yang mendefinisikan Piala Dunia Messi sudah berakhir, tetapi kenyataannya tidak demikian.
Empat tahun kemudian, Messi menjadi kapten yang mengantarkan negaranya meraih trofi di Qatar, dengan total tujuh gol. Setelah itu, dalam siklus berikutnya, ia mencatatkan diri sebagai pemain pertama yang mencetak gol dalam enam pertandingan Piala Dunia secara beruntun.
Olivier Giroud, yang pernah menjadi bagian skuat Prancis peraih juara 2018 dan kini masih bermain di Ligue 1 pada usia 39, mengatakan situasi Messi berkaitan erat dengan kompetisi internal. Menurutnya, “It’s clear just how passionate Messi still is for football and you can tell it’s in his DNA to always be a competitor, and to try and outdo himself more than anyone else,” ujar Giroud.
Giroud juga menekankan pentingnya kebersihan hidup saat bermain pada level tinggi di usia yang lebih tua. Ia menambahkan, “Playing at a high level at our age, you have to pay close attention to your life hygiene – how you sleep, your diet, and taking care of your body, because that’s the thing you rely on for work.”
Intinya, Giroud menegaskan bahwa kunci utama tetap pada “desire, the motivation, the passion, to keep going.” Ia memandang kedisiplinan sebagai fondasi agar kemampuan tetap relevan di panggung sebesar Piala Dunia.
Pengalaman seperti itu juga terlihat pada bintang olahraga lain yang terus menantang generasi muda, terutama Novak Djokovic di tenis. Namun, melakukannya memerlukan kombinasi dedikasi fisik tanpa henti dan keyakinan diri yang kokoh.
Dedikasi fisik dan ketangguhan mental
Michael Caulfield, psikolog olahraga yang bekerja dalam sepak bola profesional selama lebih dari 20 tahun, menjelaskan bahwa dari sisi fisik, atlet usia matang dapat memanfaatkan setiap terobosan sains olahraga. “From a physical point of view, they take advantage of every breakthrough in sports science.”
Namun, pada bagian mental, persoalannya lebih rumit. “But mentally, it’s about whether they have the capacity in their minds to deal with the daily grind,” kata Caulfield. Ia menekankan bahwa pemain harus bersedia bekerja keras sepanjang tahun pada hal yang sama, dan jika kebiasaan itu telah dijalani 25 tahun, dibutuhkan disiplin diri yang sangat besar.
Caulfield juga menyebut proses rehabilitasi setelah cedera sebagai ujian nyata. “They have to maintain the sheer will to go through the rehab process after injuries when they know they’ve already won everything.”
Menurutnya, kemauan mencoba satu kali lagi adalah alasan utama mengapa para atlet besar tetap relevan. “All the top athletes I’ve ever known, they’re all willing to try and go back one more time, because they love doing what they do.” Ia menambahkan, “It’s the same reason you still see Bruce Springsteen or Madonna touring – it is completely intrinsic to who these stars are.”
Teknik, kompetisi, dan rasa cinta pada permainan
Meski atletis dapat berubah seiring waktu, kemampuan Messi dengan bola di kakinya membantu menutupi pergeseran itu. Wayne Rooney, yang pernah menjadi bagian Manchester United dan merasakan dua final Liga Champions melawan Barcelona pada 2009 dan 2011, menilai kemampuan mengolah bola adalah hal yang tidak bisa dicabut oleh usia.
Rooney mengatakan, “Coming into this World Cup, I pretty much wrote Argentina’s chances off because I didn’t think he could carry on [at that level] for another one.” Namun, ia kemudian menegaskan alasan utamanya: “The one thing age can never take away from players is their ability with the ball.”
Rooney menambahkan bahwa ketika Messi berada di area kotak penalti, ia mampu melakukan hal-hal yang tidak dimiliki pemain lain. Ia menutup dengan penilaian yang masih menyisakan tanya: “It’ll be interesting to see whether it can last the rest of the tournament. [If it does] then it wouldn’t surprise me if we see him in the next World Cup for Argentina as well.”
Cesc Fabregas, mantan rekan Messi di Barcelona, juga menyoroti karakter di momen tertentu. “When he crosses the white line, he is a very different person,” katanya. “He wants to win at any cost.”
Caulfield menambahkan sisi lain dari motivasi itu. “Athletes always think there’s something left to achieve,” ujar Caulfield. “They’re wondering if there is something they haven’t quite mastered yet.”
Lebih dari sekadar target, Caulfield melihat sumber energi yang lebih dalam. “But more than anything they want to keep feeling that childlike joy of doing what they love,” dan ia menunjuk contoh: “You see Messi still doing keepy-ups or a rondo, and he still loves football like a little boy.”
Bayang-bayang Ronaldo dan persaingan antarbintang
Penampilan Messi juga terasa kontras dengan rival abadinya, Cristiano Ronaldo, yang tengah bermain untuk Portugal di Piala Dunia keenamnya. Ronaldo berusia 41 tahun dan pada laga pembuka melawan DR Congo, ia “made very little impact in his side’s opening draw.”
Rooney memperkirakan penampilan Messi akan menjadi sesuatu yang mengganggu pikiran Ronaldo. Ia berkata, “Ronaldo will have been fuming.” Ia menegaskan harapan Ronaldo, “Even at 41 he will still be expecting to be top goalscorer.”
Rooney menilai sikap itu bagian dari kebesaran Ronaldo sekaligus bahan bakar persaingan. “But that attitude is part of his own greatness. The two of them have spurred each other on.”
Menurut Rooney, keduanya menciptakan tolok ukur yang mendorong generasi berikutnya. “They have this self-belief and arrogance, in a good way, where they know they what they have done, have nothing to prove, and it’s up to the likes of Mbappe and Haaland to prove they can take over.”
Di tengah semua itu, ada satu detail yang menarik: Messi belum pernah memenangkan Golden Boot, penghargaan untuk pencetak gol terbanyak di final Piala Dunia. Namun, dengan rentetan gol dan kontribusi yang terus berjalan, ia tetap menjadi referensi utama bagaimana seorang pemain bisa bertahan di puncak ketika pertandingan terbesar memaksa semua orang untuk terus membuktikan diri.












