jurnalistik.co.id – Spanyol dan Argentina masih bertahan pada skor 0-0 ketika laga memasuki menit ke-62 di New York New Jersey Stadium (Stadion MetLife), Amerika Serikat, Senin (20/7/2026) dini hari WIB.
Memasuki babak kedua, kedua tim sama-sama melakukan pergantian pemain untuk mengubah ritme permainan dan menambah variasi serangan di tengah kebuntuan yang berlangsung hingga paruh akhir pertandingan.
Argentina lebih dulu bergerak pada menit ke-58. Nahuel Molina masuk menggantikan Gonzalo Montiel di posisi bek kanan.
Perubahan tersebut dilakukan meski Montiel tidak terlihat mengalami cedera selama momen pergantian itu berlangsung.
Upaya Albiceleste belum langsung membuka peluang bersih. Hingga mendekati tanda satu jam pertandingan, tim asuhan Scaloni masih kesulitan menghadirkan ancaman nyata ke gawang Unai Simon.
Spanyol juga tidak sepenuhnya tanpa kerja, tetapi pola serangan yang sempat dirangkai belum cukup untuk mengubah dominasi tempo menjadi peluang berbahaya.
Salah satu momen yang sempat mendekat terjadi pada menit ke-55. Mikel Oyarzabal dan Fabian Ruiz sempat membangun kerja sama di kotak penalti.
Namun, umpan terakhir yang seharusnya mengarah pada peluang tidak berbuah karena bola dipotong pertahanan Argentina sebelum menjadi kesempatan yang benar-benar menganga.
Ketika pertandingan memasuki menit-menit awal penggalan akhir, tensi mulai meningkat melalui sejumlah insiden di area sekitar kotak penalti.
Pada menit ke-60, Leandro Paredes menerima kartu kuning setelah melanggar Pedro Porro sekitar 25 meter di depan kotak penalti Argentina.
Setelah pelanggaran itu, Spanyol mendapatkan tendangan bebas. Lamine Yamal sebagai eksekutor masih harus berhadapan dengan pagar hidup, sehingga eksekusinya membentur blok pemain Argentina.
Berita Terkait
Bersamaan dengan upaya untuk kembali menemukan celah, Spanyol kemudian melakukan dua pergantian sekaligus pada menit-menit berikutnya.
Pelatih Luis de la Fuente menarik Fabian Ruiz dan Mikel Oyarzabal, lalu memasukkan Pedri serta Ferran Torres.
Pedri dikerahkan untuk menambah kreativitas dalam merangkai serangan, sementara Ferran Torres diplot guna meningkatkan ancaman di lini depan.
Dengan perubahan tersebut, komposisi kedua tim berubah di tengah upaya saling mengimbangi. Hingga menit ke-62, skor tetap tidak berubah, 0-0.
Pergantian yang dilakukan Argentina pada menit ke-58 dan respon cepat Spanyol melalui dua penggantian di sekitar menit ke-62 memperlihatkan usaha yang sama untuk memecah kebuntuan, meski peluang bersih yang benar-benar tajam belum muncul.
Di sisa waktu permainan, laga masih bergantung pada bagaimana setiap tim bisa mengubah momen-momen menekan menjadi kesempatan mencetak gol, setelah berbagai serangan sebelumnya belum menemukan penyelesaian yang efektif.
Hingga saat pelaporan pada menit ke-62, jalannya pertandingan masih menunjukkan pertarungan yang rapat dan berhitung, dengan peluang terbaik sejauh ini belum cukup untuk menembus pertahanan kedua tim.
Selepas menit ke-62, tensi pertandingan masih terasa naik turun, tetapi fokus kedua tim tetap sama: mencari celah di sekitar kotak penalti sambil menjaga ruang agar tidak memberi kesempatan lawan bergerak bebas.
Rentetan upaya Spanyol mencoba menata serangan dari tempo yang lebih cepat, termasuk ketika bola sempat mengarah pada skema tendangan bebas. Namun, tembakan dari eksekusi Lamine Yamal masih kandas karena blok pemain Argentina.
Masuknya Pedri dan Ferran Torres membuat ritme permainan Spanyol lebih variatif di fase penguasaan. Pedri diandalkan untuk mengalirkan bola dengan kreativitas, sedangkan Ferran Torres diarahkan agar lebih sering berada di posisi untuk mengubah tekanan menjadi ancaman di depan.
Bagi Argentina, respon setelah pergantian pada menit ke-58 juga terlihat dari cara tim mempertahankan jarak dan menutup akses ke ruang berbahaya. Montiel yang sempat digantikan tetap menjadi bagian dari momen perubahan, tetapi kebuntuan tetap bertahan karena peluang yang muncul belum benar-benar bersih.
Dengan skor masih 0-0 hingga catatan menit ke-62, akhir pertandingan pada dasarnya bergantung pada siapa yang lebih cepat menemukan momen penentu. Serangan yang sebelumnya hanya mendekat masih perlu peningkatan penyelesaian, sementara pertahanan kedua tim terus diuji dari duel dan insiden di area sekitar kotak penalti.












