jurnalistik.co.id – Di Amerika Serikat, nama David Beckham identik dengan cara sepak bola hadir—bukan sekadar lewat pertandingan, tetapi juga lewat perhatian publik yang terus bergulir. Pada Piala Dunia, figur yang kini berusia 51 tahun itu terasa hadir di berbagai ruang: lapangan, iklan, hingga momen budaya populer.
Selama edisi Piala Dunia 2026 ini, turnamen memang dimiliki para bintang seperti Kylian Mbappe, Jude Bellingham, Lamine Yamal, dan Lionel Messi. Namun di luar rumput hijau, Beckham justru menjadi wajah yang sulit dilewatkan, tampil di kampanye iklan untuk 11 merek sekaligus.
Di berbagai periode tayang, ia muncul untuk McDonald’s dan Major League Soccer, juga untuk Stella Artois, Home Depot, serta Bank of America. Jika penonton tidak sempat melihatnya lewat jeda komersial, ia tetap bisa dijumpai saat pertandingan pembuka Amerika Serikat di Los Angeles, menyaksikan laga bersama Tom Cruise.
Hanya beberapa jam sebelum momen itu, Beckham mencatat capaian berbeda. Ia menjadi pemain sepak bola profesional pertama yang menerima bintang di Hollywood Walk of Fame, dengan Cruise berada di sisinya lagi.
Beckham juga terlihat menyanyikan Wonderwall dan Hey Jude saat merayakan dua gol Jude Bellingham atas Norwegia yang mengantar Inggris ke semifinal. Ia bahkan pernah mengunjungi skuad Inggris di Miami sebelum perempat final Piala Dunia, ketika ia mendapatkan legacy cap.
Dalam pandangan Stacy Jones, pendiri dan CEO agensi pemasaran Hollywood Branded, Beckham berbicara kepada beragam lapisan audiens. “I think that’s what’s unique about him,” katanya, menekankan bahwa Beckham mampu menarik perempuan dan sekaligus tetap diminati laki-laki.
Jones menilai Beckham bukan tipe figur yang membuat orang merasa tersinggung karena sikapnya yang “honest, good, authentic, down-to-earth type of individual.” Menurutnya, perpindahan Beckham yang mulus antara sepak bola, dunia mode, hiburan, bisnis, hingga kultur selebritas adalah pencapaian yang jarang dimiliki tokoh terkenal.
Daya tarik yang menyambung lintas generasi
Di Hermosa Beach, kawasan selatan Los Angeles, ratusan penggemar berkumpul untuk menonton Spanyol melaju ke final Piala Dunia. Acara tersebut digelar oleh LA Galaxy, klub yang Beckham kenal erat sejak ia bergabung pada 2007 setelah era di Real Madrid.
Ketika penggemar ditanya apa yang langsung terlintas tentang David Beckham, jawaban mereka datang cepat. Sebagian menyebut “Bending it.” atau “His free-kicks.” yang merujuk pada gaya khas tendangan bebas, sementara yang lain menyebut “Victoria Beckham,” “Handsome,” “The Spice Girls,” hingga “The McDonald’s advert.”
Namun tidak semua melihatnya hanya dari sisi performa lapangan. Seorang penggemar sepak bola mengungkapkan, “David Beckham was a really good player for England, but he’s doing too many commercials now,”
Megan Hapeman punya cerita yang lebih spesifik terkait kampanye. Ia menyoroti iklan McDonald’s terbaru, di mana Beckham berharap mendapatkan piala dengan wajahnya sendiri, seperti yang dibicarakan dalam materi promosi.
Berita Terkait
Hapeman bercerita bahwa putranya, Oliver yang berusia enam tahun, masih menyimpan salah satu piala serupa. Oliver mengatakan, “When I got it, I was pretty proud,” lalu menambahkan alasannya: “Because Mommy liked it, I liked it too.”
Bagi Jones, pola seperti itu menunjukkan apa yang sebenarnya dibeli para merek: sosok yang mampu melampaui klub, lintas generasi, bahkan melampaui sepak bola itu sendiri. Beckham menjadi semacam “bahasa bersama” yang dipahami publik tanpa harus menunggu penjelasan panjang.
Legasi di Amerika: dari stadion penuh hingga daya tarik bagi Messi
Perubahan citra itu, menurut artikel, tidak terjadi tanpa landasan. Beckham dibangun dari warisan sepak bolanya di Amerika: ia dikenal sebagai pemain dengan tendangan bebas khas, bagian dari skuad Manchester United yang meraih Treble pada 1999, pernah menjadi kapten timnas Inggris, serta termasuk salah satu Galácticos awal Real Madrid.
Dan Courtemanche, eksekutif vice-president sekaligus chief communications officer Major League Soccer, menyebut pengaruh Beckham tidak bisa dilebih-lebihkan. “I always tell people he changed the fate of American soccer. Not once, but twice,” ucapnya.
Ketika Beckham menandatangani kontrak bersama LA Galaxy 19 tahun lalu, stadion-stadion di seluruh Major League Soccer ludes terjual sebelum ia bermain dalam laga kompetitif. MLS, menurut Courtemanche, membutuhkan kredibilitas, dan Beckham memberi sesuatu yang lebih luas lagi: ketenaran yang benar-benar mainstream.
Enam belas tahun kemudian, pengaruh itu disebut berlanjut hingga keputusan besar terkait pemain bintang. Courtemanche menyatakan Beckham membantu mendorong ikon Argentina, Lionel Messi, memilih Inter Miami ketimbang tawaran rival di berbagai tempat—dan ia menilai momen tersebut ikut mengubah MLS.
Courtemanche menegaskan, “Lionel Messi decided to make Major League Soccer his league of choice and Inter Miami his club of choice,” lalu menambahkan, “Again, it took us to a whole other level.”
Tom Braun, presiden dan chief operating officer LA Galaxy, juga melihat pengaruh Beckham menjangkau lebih dari sekadar permainan. “David’s an iconic figure in our sport and our culture,” katanya, menekankan bahwa Beckham membangun bisnis di sekitar merek pribadinya dan tetap “resonate with people.”
Perjalanan karier Beckham—yang juga sempat bermain untuk AC Milan dan Paris St-Germain sebelum pensiun pada 2013—dianggap paling pas tergambar pada musim panas ini. Di Hollywood Boulevard, saat menerima bintang Walk of Fame, ia menyinggung bahwa ia tak pernah membayangkan seorang “a working-class English footballer” bisa mendapatkan penghormatan seperti itu.
Menurut Jones, pengakuan tersebut tidak hanya merayakan kehidupan Beckham sebagai pemain, melainkan juga Beckham sebagai figur budaya. “David Beckham, to America, is the World Cup,” ujarnya, dan melanjutkan, “He is soccer to us.”
Beckham datang ke Los Angeles dengan janji untuk mengembangkan permainan, dan hingga kini ia masih membantu menjual sepak bola kepada Amerika. Kini caranya bukan lewat tendangan bebas, melainkan lewat sebuah merek.












