jurnalistik.co.id – Pergantian kepemimpinan di Inggris terjadi setelah Sir Keir Starmer digantikan oleh Andy Burnham sebagai perdana menteri. Burnham juga baru saja memimpin Partai Buruh, sehingga ia menempati No 10 setelah perubahan besar di lingkar kekuasaan dalam beberapa pekan terakhir.
Di pidato pertamanya di Downing Street, Burnham menegaskan bahwa upaya untuk mengakhiri rough sleeping menjadi salah satu prioritas utamanya. Ia menyatakan pemerintahannya akan “end rough sleeping in our country”.
Langkah tersebut segera diikuti pengumuman dari pihak No 10 yang menjanjikan tambahan dana sebesar ÂŁ340m untuk pekerjaan itu dalam rentang lima tahun ke depan. Komitmen ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya yang lebih terstruktur, bukan program seremonial sesaat.
Burnham juga memaparkan rencana nasional berdurasi panjang melalui “new 10-year plan for Britain” yang akan diperkenalkan belakangan pada tahun ini. Dalam arah kebijakannya, ia menekankan gagasan membangun ekonomi baru dengan mengembalikan “life’s essentials back under public control”.
Sambil menyampaikan agenda jangka panjang, Burnham mengatakan perlunya ruang bernapas saat ini. Ia menyebut masyarakat membutuhkan “breathing space now”, dan karenanya pengumuman terkait penanganan cost of living akan mulai pada hari Selasa.
Selain fokus pada rough sleeping dan biaya hidup, Burnham menyebut perubahan dalam sejumlah bidang yang menyentuh keseharian warga. Ia menyatakan akan mengubah sistem pendidikan untuk membantu anak muda masuk ke dunia kerja, serta berkomitmen membangun lebih banyak council homes.
Di saat yang sama, ia juga menekankan konsistensi terhadap aturan fiskal pemerintahan. Burnham menjelaskan bahwa komitmen pendanaan pertahanan akan dihormati, dengan tetap “sticking to the UK’s spending and debt rules”.
Susunan kabinet dan proses pergantian tim
Penunjukan anggota kabinet diperkirakan mulai dilakukan pada Senin sore, setelah Burnham melakukan pemecatan terhadap menteri-menteri yang berasal dari pemerintahan sebelumnya. Menurut laporan, langkah ini dilakukan agar ia bisa membentuk “top team” sesuai pilihan dan strategi pemerintahannya.
Momentum paling dinantikan adalah siapa yang akan menduduki posisi chancellor. Rachel Reeves disebut sudah mengonfirmasi bahwa ia akan meninggalkan pemerintahan setelah menolak tawaran peran kabinet lainnya.
Selain Reeves, beberapa menteri dari kabinet Starmer juga disebut akan menanggalkan jabatan mereka. Peter Kyle, David Lammy, dan Richard Hermer termasuk di antara nama yang menyatakan mereka akan berhenti dari pekerjaan masing-masing.
Dalam konteks pergantian yang cepat, kebiasaan pemimpin baru biasanya dimulai dari langkah internal yang dikerjakan sebelum pengumuman publik. Perdana menteri juga lazim melaksanakan proses tersebut secara tertutup, sebelum mengundang pihak yang akan bergabung untuk mendatangi Downing Street.
Berita Terkait
Pidato tanpa catatan dan ajakan kestabilan politik
Dalam penyampaian pidatonya, Burnham memilih pendekatan yang berbeda dari tradisi yang belakangan dianggap lazim. Ia tidak menggunakan lectern, dan berbicara di depan pintu No 10 yang berwarna hitam, dengan suasana yang dipenuhi staf serta pendukung.
Pidatonya juga disampaikan tanpa catatan atau podium. Burnham tampak ingin menunjukkan bahwa situasi politik yang selama ini sering diwarnai “lectern moments” merupakan tanda ketidakstabilan, sehingga ia memilih cara yang lebih langsung.
Ia menyatakan bahwa ia “acutely conscious” terhadap dinamika di kantor di belakangnya, sekaligus menekankan kebutuhan mendesak untuk memulihkan kestabilan. Menurut Burnham, Inggris membutuhkan arah yang lebih stabil agar kebijakan bisa berjalan tanpa gangguan berkepanjangan.
Untuk mewujudkan itu, ia mengajak politik bekerja lebih baik dan menguatkan kapasitas tim. Burnham menekankan perlunya “make politics work better” serta “raise our game and rise to the new challenge”.
Perpisahan Starmer dan prosesi penunjukan oleh Raja
Di sisi lain, Sir Keir Starmer juga menyampaikan pidato perpisahan singkat dari Downing Street. Dengan pendukung yang berbaris di luar, ia mengulang tema-tema utama dari pidato pengunduran dirinya pada bulan Juni, termasuk upaya membalikkan nasib Partai Buruh serta menurunkan child poverty.
Walau baru berada di kursi pemerintahan selama dua tahun setelah kemenangan meyakinkan pada pemilu 2024, Starmer menyatakan ia bangga pada catatan kinerjanya. Ia mengatakan Inggris “now stronger and fairer”, sembari menunjukkan bahwa ia melepaskan jabatan dengan sikap penuh penerimaan.
Starmer juga menyampaikan kalimat yang menegaskan suasana tersebut: “I go with good grace, I go with a smile,”. Setelah itu, ia sempat berpelukan dengan Rachel Reeves yang saat itu masih menjabat sebagai chancellor sekaligus tetangga Downing Street selama masa jabatannya.
Hari yang sama turut diwarnai proses formal penunjukan perdana menteri oleh Raja. Starmer dan Burnham dikabarkan bertemu King Charles III di Buckingham Palace, dengan Starmer terlebih dulu mendapat audiensi privat terakhir sebelum menyapa Burnham.
Prosesi singkat ini dikenal sebagai “kissing hands”. Dalam praktik masa kini, “kissing hands” dimaknai lebih sederhana, dengan perdana menteri pria biasanya membungkuk dan berjabat tangan dengan Raja setelah menerima kesempatan membentuk pemerintahan.
Dengan agenda awal yang menargetkan rough sleeping dan cost of living, serta langkah cepat membentuk tim kabinet, masa pemerintahan Burnham kini berada pada fase yang sangat menentukan. Publik akan menilai bagaimana prioritas yang ia sebutkan diterjemahkan menjadi program konkret dalam waktu-waktu mendatang.












