Olahraga

Luis de la Fuente Sebut Spanyol, Inggris, dan Prancis Jadi Favorit Juara Piala Dunia 2026

7
×

Luis de la Fuente Sebut Spanyol, Inggris, dan Prancis Jadi Favorit Juara Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Prediksi Luis de la Fuente, 3 Negara Jadi Favorit Juara di Piala Dunia 2026

jurnalistik.co.id – Timnas Spanyol masuk ke dalam daftar kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Status itu mereka bawa setelah menjuarai Eropa pada 2024, dan pelatih Luis de la Fuente menilai La Roja memang layak berada di papan atas perburuan trofi dunia.

Keyakinan tersebut tidak datang sendirian. Dalam sebuah podcast berjudul La estrella que nos une, de la Fuente berbincang dengan Vicente del Bosque, sosok yang pernah membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Sampai saat ini, gelar dunia itu tetap menjadi satu-satunya milik Spanyol yang diraih di bawah rezim Del Bosque.

Di hadapan Del Bosque, Luis de la Fuente tidak menutup-nutupi pandangannya soal peluang Spanyol. Ia justru menegaskan bahwa timnya memang pantas diperhitungkan sebagai juara, selama tetap menjaga kaki tetap menapak tanah.

“Kita harus tetap membumi. Saya tidak menghindarinya, kita adalah favorit,” kata Luis de la Fuente dikutip dari World Soccer Talk.

Namun, bagi de la Fuente, Spanyol bukan satu-satunya tim yang layak disebut favorit. Ia juga memasukkan Inggris dan Prancis ke dalam kelompok yang sama, seraya menyetujui peringatan Del Bosque tentang ancaman dari tim-tim CONMEBOL. Dalam pandangannya, peta persaingan juara di Piala Dunia 2026 tidak hanya mengarah ke satu atau dua negara saja.

“Tetapi sama favoritnya dengan Inggris atau Prancis,” tambahnya.

De la Fuente menjelaskan alasan mengapa Prancis dan Inggris berada di level yang sama dengan Spanyol. Prancis dianggap layak diunggulkan karena penampilan mereka yang baru-baru ini serta kualitas skuad yang mereka miliki. Sementara itu, Inggris disebut sebagai tim yang wajib diwaspadai karena melaju mulus dalam babak kualifikasi.

Ia bahkan menilai The Three Lions lebih siap dibandingkan kekuatan tradisional lain seperti Argentina, Brasil, dan Jerman. Menurut de la Fuente, keseimbangan kekuatan di level tim nasional saat ini membuat persaingan semakin terbuka, dan status klub tidak lagi menentukan segalanya.

“Orang-orang tidak menyadari betapa seimbang tim nasional saat ini. Ini tidak ada hubungannya dengan klub. Setiap negara memiliki 11 pemain bagus,” sambungnya.

Di sisi lain, tantangan yang dihadapi de la Fuente bersama Spanyol juga tidak kecil. Berbeda dari era Vicente del Bosque yang cukup banyak mengandalkan pemain Barcelona dan Real Madrid, tim Spanyol saat ini dihuni sebagian besar pemain muda yang tersebar di beberapa klub. Situasi itu membuat Spanyol tetap menjanjikan, tetapi sekaligus menuntut konsistensi agar status favorit yang disematkan kepada mereka benar-benar terbayar di Piala Dunia 2026.

Meski berstatus unggulan, de la Fuente tampak ingin menjaga agar ruang ganti Spanyol tidak terjebak euforia berlebihan. Baginya, label favorit hanya berguna jika dibarengi sikap tenang dan kerja yang rapi. Karena itu, pengakuan soal peluang juara tidak diposisikan sebagai jaminan, melainkan sebagai pengingat bahwa ekspektasi besar harus dijawab dengan performa yang stabil.

Pandangan seperti itu juga memperlihatkan bahwa Spanyol kini berada dalam fase yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Jika dulu kekuatan tim banyak bertumpu pada inti pemain dari klub-klub besar yang sudah sangat saling mengenal, kali ini de la Fuente menghadapi komposisi yang lebih menyebar. Kondisi tersebut bisa menjadi keunggulan, tetapi juga menuntut kemampuan menjaga ritme dan kebersamaan dalam jangka panjang.

Dengan persaingan yang menurutnya semakin merata, Spanyol tetap harus mengelola status favorit itu secara hati-hati. Di satu sisi, kepercayaan diri penting untuk menunjukkan bahwa mereka pantas berada di barisan terdepan. Di sisi lain, kewaspadaan tetap dibutuhkan agar predikat tersebut tidak berhenti sebagai pujian semata. Bagi de la Fuente, jalan menuju Piala Dunia 2026 baru akan berarti jika Spanyol mampu membuktikan kata-kata itu di lapangan.