Bisnis & Ekonomi

Mengapa AUM Indonesia Investment Authority (INA) Mendatar Tiga Tahun Terakhir

×

Mengapa AUM Indonesia Investment Authority (INA) Mendatar Tiga Tahun Terakhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alasan Asset Under Management INA Mendatar - Market

jurnalistik.co.id – Aset kelolaan Indonesia Investment Authority (INA) bergerak mendatar dalam tiga tahun terakhir. Hingga akhir 2025, nilainya tercatat Rp146,2 triliun.

Angka tersebut naik tipis dibanding posisi aset kelolaan pada periode sebelumnya, yakni Rp144,3 triliun. Meski demikian, arah pergerakannya tidak benar-benar menguat secara konsisten.

Jika dibandingkan akhir 2023, posisi akhir 2025 justru menunjukkan penurunan sebesar 1,02%. Dengan kata lain, kenaikan tipis di sepanjang 2024–2025 tidak menutupi pelemahan relatif terhadap kondisi awal rentang tiga tahun itu.

Tren “mendatar” ini menjadi gambaran paling menonjol dari dinamika nilai aset yang dikelola INA. Nilai AUM yang relatif stabil mengindikasikan bahwa perubahan yang terjadi lebih banyak dipengaruhi fluktuasi pasar ketimbang dorongan pertumbuhan yang kuat.

Pada akhir 2025, INA mencatat AUM mencapai Rp146,2 triliun. Nilai tersebut menyiratkan bahwa pergerakan nilai aset berada dalam pola yang cenderung menahan laju pertumbuhan.

Namun, koreksi pada bagian tertentu dari portofolio juga ikut menentukan hasil akhirnya. Karena itu, AUM yang tampak bergerak naik dari tahun ke tahun tetap dapat berakhir lebih rendah bila dibandingkan dengan akhir 2023.

Direktur bidang keuangan INA, Eddy Porwanto, menuturkan bahwa tren pendataran tersebut terkait dengan kondisi pasar modal yang berfluktuasi sepanjang 2025. Penjelasan ini disampaikan saat temu media di Jakarta pada Rabu (1/7/2026).

Menurut Eddy, tahun 2025 berlangsung dengan volatilitas yang menonjol di pasar. Ia menekankan bahwa struktur portofolio INA memiliki porsi saham tertentu yang relatif besar di neraca.

“Tahun 2025 itu kan sebetulnya pasar modal volatil, porsi dari saham BBRI dan BMRI itu cukup besar di neraca kita,” kata Eddy saat ditemui di Jakarta.

Dengan mempertimbangkan pernyataan tersebut, pendataran AUM dapat dipahami sebagai hasil dari benturan antara pergerakan naik dan tekanan turun yang silih berganti. Ketika volatilitas meningkat, nilai aset yang ditopang instrumen berbasis pasar cenderung lebih rentan berubah.

Volatilitas 2025 dan pengaruh saham BBRI-BMRI

Eddy mengaitkan tren yang terjadi dengan kondisi pasar modal yang tidak bergerak satu arah. Saat harga aset bergerak fluktuatif, nilai aset kelolaan ikut mengalami penyesuaian sesuai dinamika tersebut.

Dalam konteks INA, porsi saham BBRI dan BMRI disebut memiliki peran penting. Komposisi ini membuat perubahan pada saham-saham itu lebih cepat tercermin dalam posisi AUM.

Core argument-nya, pendataran bukan semata-mata akibat kinerja yang lemah atau pertumbuhan yang kuat, melainkan dipengaruhi proses penilaian ulang nilai di pasar. Ketika harga saham bergerak mengikuti sentimen dan arus transaksi, nilai AUM akan ikut terpengaruh.

Pernyataan Eddy juga memberi penekanan bahwa besarnya porsi di neraca INA membuat dampak pergerakan saham menjadi lebih terasa. Dengan demikian, fluktuasi di instrumen tersebut berkontribusi langsung pada perubahan AUM yang terlihat pada laporan akhir periode.

Koreksi pada saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) disebut ikut menekan nilai aset. Karena saham-saham itu berada dalam struktur yang berpengaruh, perubahan harga di pasar akan memengaruhi hasil akhir pengukuran AUM.

Situasi ini menjelaskan mengapa AUM akhir 2025 hanya naik tipis dari posisi tahun sebelumnya. Di saat yang sama, arah yang lebih besar bila dibandingkan dengan akhir 2023 tetap menunjukkan penurunan.

Dalam narasi tren tiga tahun terakhir, angka Rp146,2 triliun pada akhir 2025 menjadi titik yang menggambarkan stabilisasi nilai. Stabil itu terbentuk di tengah kondisi pasar yang tidak seragam, sehingga pertumbuhan yang berkelanjutan menjadi lebih sulit muncul.

Jika nilai AUM dapat bergerak naik dari Rp144,3 triliun menjadi Rp146,2 triliun, berarti ada komponen yang mendukung peningkatan. Tetapi, besarnya volatilitas membuat faktor koreksi tetap ikut menghitung hasil akhirnya, sehingga penurunan dibanding 2023 tetap terjadi.

Secara prinsip, perbedaan antara kenaikan tipis dan penurunan terhadap basis akhir 2023 menunjukkan bahwa perubahan nilai aset lebih banyak dipengaruhi momen pasar. Perubahan nilai pada periode tertentu bisa mengangkat angka AUM, namun di sisi lain koreksi di periode lain akan menekan kembali.

Itulah sebabnya, ketika melihat rentang waktu yang berbeda, arah pergerakan AUM dapat terlihat berbeda. Dari sudut pandang year-on-year, AUM masih naik tipis, sementara dari sudut pandang basis dua tahun sebelumnya, AUM justru berada di bawah posisi akhir 2023.

Gambaran “mendatar” bagi nilai aset kelolaan INA

Dengan capaian akhir 2025 yang Rp146,2 triliun, pola mendatar terlihat lebih jelas dibanding lonjakan pertumbuhan yang cepat. Pola ini memperlihatkan bahwa nilai aset kelolaan INA berada pada fase konsolidasi nilai akibat dinamika pasar.

Dalam laporan yang menekankan volatilitas, pendataran tidak harus dibaca sebagai stagnasi tanpa perubahan. Sebaliknya, perubahan tetap terjadi, tetapi magnitudenya lebih terbatas dan lebih sering saling meniadakan.

Di saat pasar modal bergerak tidak stabil, nilai aset kelolaan akan mengikuti gerak instrumen yang mendominasi neraca. Ketika instrumen-instrumen tersebut mengalami tekanan, AUM bisa tertahan, bahkan bila sebelumnya sempat mengalami kenaikan.

Bagi INA, penyebab yang diuraikan Eddy Porwanto memberi kerangka yang lebih terukur untuk memahami tren tersebut. Paparan mengenai porsi saham BBRI dan BMRI di neraca membantu menjelaskan jalur transmisi perubahan pasar menuju AUM.

Karena itu, ketika investor melihat angka AUM yang cenderung mendatar, penjelasan yang merujuk pada volatilitas 2025 dan koreksi saham perbankan relevan untuk konteksnya. Nilai yang tampak stabil merupakan hasil dari pergerakan naik-turun yang beradu dalam periode yang sama.

Pada akhirnya, AUM INA yang Rp146,2 triliun pada akhir 2025 sekaligus mencerminkan dua hal: kenaikan tipis dibanding Rp144,3 triliun pada posisi sebelumnya, dan penurunan 1,02% dibanding akhir 2023. Kombinasi dua indikator itu memperjelas bahwa tren tiga tahun terakhir lebih didominasi fluktuasi pasar ketimbang pertumbuhan linear.

Kesimpulannya, pendataran AUM INA menurut penuturan manajemen terkait erat dengan volatilitas pasar modal sepanjang 2025 dan besarnya porsi saham BBRI serta BMRI di neraca. Koreksi pada saham-saham tersebut disebut menjadi faktor yang menekan nilai aset, sehingga hasil akhirnya tampak mendatar.