Politik & Parlemen

Prabowo Menyampaikan Pesan Masa Depan Bangsa pada 1.177 Perwira Remaja TNI-Polri

×

Prabowo Menyampaikan Pesan Masa Depan Bangsa pada 1.177 Perwira Remaja TNI-Polri

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saat Prabowo Menitipkan Masa Depan Bangsa di Pundak 1.177 Perwira Muda

jurnalistik.co.id – Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pesan masa depan bangsa kepada 1.177 perwira remaja TNI-Polri dalam upacara Prasetya Perwira (Praspa) di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (22/7/2026).

Pelantikan itu menjadi penanda awal pengabdian para lulusan tahun 2026 dari Angkatan Militer (Akmil) dan Akademi Kepolisian (Akpol). Ribuan perwira muda tersebut terdiri dari TNI Angkatan Darat (AD) sebanyak 512 orang, TNI Angkatan Laut (AL) sebanyak 229 orang, TNI Angkatan Udara (AU) sebanyak 154 orang, serta Polri sebanyak 282 orang.

Proses pengangkatan perwira ini merujuk pada Keputusan Presiden (Keppres) RI Nomor 69/TNI/2025 dan Keppres Nomor 70/Polri/2025 tentang pengangkatan Taruna-Taruni Akademi TNI dan Akademi Kepolisian menjadi Perwira TNI dan Perwira Polri. Dalam upacara, Prabowo mengucapkan selamat kepada para calon perwira remaja (capaja) yang telah berhasil lulus dan menerima pangkat letda/ipda.

Prabowo menegaskan bahwa momen pelantikan tidak berhenti pada seremoni. Ia menyampaikan, “Hari ini bukan sekadar upacara, hari ini bukan garis akhir, hari ini adalah awal sebuah pengabdian kepada bangsa dan negara,”

Menurut Prabowo, para capaja telah menyatakan sumpah untuk memberi jiwa dan raga bagi bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. Ia juga menekankan bahwa pangkat pertama yang diterima para perwira remaja bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah dari masyarakat Indonesia.

“Pangkat adalah kepercayaan rakyat Indonesia. Pangkat adalah harapan rakyat Indonesia,” tegas Prabowo dalam pidatonya. Ia melanjutkan dengan penegasan yang mengubah cara pandang para perwira sejak hari tersebut, “Mulai hari ini, Saudara bukan lagi milik dirimu sendiri. Mulai hari ini, sesungguhnya Saudara bukan lagi milik keluargamu lagi,”

Prabowo kemudian menegaskan bahwa para perwira remaja sudah menjadi milik bangsa dan negara. Ia memposisikan mereka sebagai generasi penerus yang akan memikul tanggung jawab berat untuk membela negara dan bangsa, sekaligus meneruskan cita-cita para pendiri bangsa.

Perwira yang hadir saat rakyat menghadapi kesulitan

Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyampaikan kebanggaannya terhadap proses belajar para perwira muda. Ia mengatakan para perwira telah memahami bahwa untuk menjadi perwira berarti harus hadir ketika rakyat sedang menghadapi kesulitan.

Prabowo menyebut bahwa mereka juga telah terlibat dalam penanganan pascabencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. “Kita adalah tentara dan polisi rakyat. Kesulitan rakyat akan menjadi kesulitan Saudara,” kata Presiden RI, menekankan hubungan langsung antara tugas perwira dan kebutuhan warga.

Selain itu, ia menegaskan bahwa sumpah yang dibacakan bukan sekadar rangkaian kata. Prabowo menyatakan sumpah yang telah dinyatakan itu merupakan janji suci kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada bangsa dan negara, serta kepada seluruh rakyat Indonesia.

Dengan demikian, pelantikan 1.177 perwira remaja TNI-Polri pada tahun 2026 di Praspa tidak hanya memfinalkan proses pendidikan di Akmil dan Akpol, tetapi juga menetapkan arah pengabdian: mengelola amanah pangkat dengan integritas, menempatkan rakyat sebagai pusat tanggung jawab, serta menjadikan sumpah sebagai komitmen yang dijalankan sepanjang masa.

Rangkaian pelantikan tersebut juga menegaskan hubungan antara dasar hukum dan pelaksanaan tugas di lapangan. Keppres yang menjadi rujukan pengangkatan para taruna-taruni diposisikan sebagai landasan resmi bahwa pangkat yang diterima para capaja bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi dari proses pendidikan yang telah ditempuh.

Dalam arahan itu, Prabowo menggarisbawahi bahwa penugasan pertama yang menyertai pangkat awal harus dibaca sebagai tahapan yang menuntut kedisiplinan serta keberanian memikul tanggung jawab. Para perwira remaja diminta memaknai kedudukan mereka sebagai amanah yang harus dijaga melalui sikap dan tindakan yang selaras dengan sumpah yang telah diucapkan.

Pesan tentang “milikan” diri juga menempatkan perwira pada komitmen yang terus berjalan, melampaui masa upacara. Dengan menempatkan rakyat sebagai rujukan utama, para capaja diarahkan untuk merespons kesulitan warga sebagaimana telah dicontohkan dalam keterlibatan menghadapi pascabencana di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, sehingga setiap pelaksanaan tugas memiliki arah yang jelas dan berpijak pada kepentingan bangsa.