jurnalistik.co.id – JAKARTA — Saham-saham perbankan jumbo kompak bergerak melemah pada penutupan perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, seiring dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat menguat di sesi pertama namun akhirnya ditutup tipis di zona merah. Pergerakan itu membuat tekanan pada saham big banks terlihat merata, terutama di tengah suasana pasar yang cenderung hati-hati menjelang long weekend.
IHSG sebelumnya sempat melesat 87,69 poin atau 1,43% ke level 6.217,88 pada sesi pertama. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan hingga akhir perdagangan. Pada penutupan sesi Jumat, indeks justru terkoreksi 2,8 poin atau 0,05% ke level 6.127,38. Dalam kondisi seperti itu, mayoritas bank berkapitalisasi besar pun ikut ditutup di zona merah dengan tekanan jual yang cukup dalam.
Pengamat pasar modal Elandry Pratama menilai koreksi pada saham-saham big banks lebih banyak dipengaruhi aksi profit taking jangka pendek, setelah beberapa hari sebelumnya sektor perbankan sudah rebound cukup signifikan. “Jadi wajar kalau menjelang weekend sebagian pelaku pasar memilih locking profit terlebih dahulu,” kata Elandry kepada CNBC Indonesia, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, kondisi pasar global yang masih bercampur juga ikut memengaruhi sentimen investor. Ia menyoroti arah suku bunga Federal Reserve, pergerakan yield obligasi AS, dan pelemahan rupiah yang membuat risk appetite investor asing sedikit lebih berhati-hati di akhir sesi. Dengan latar belakang itu, tekanan pada saham bank-bank besar dinilai bukan hal yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kehati-hatian pasar yang lebih luas.
Elandry juga melihat adanya rotasi dana yang mulai bergerak ke beberapa saham konglomerasi dan cyclical yang belakangan lebih aktif. Dari situ, menurut dia, ada capital flow sementara yang keluar dari big banks. Meski begitu, ia menegaskan koreksi yang terjadi masih tergolong normal dan belum mengubah outlook sektor perbankan secara fundamental.
“Namun sejauh ini saya melihat koreksinya masih relatif normal dan belum mengubah outlook sektor perbankan secara fundamental, karena likuiditas dan kualitas aset bank-bank besar masih cukup solid,” kata Elandry. Ia menambahkan, “Jadi untuk investor menengah-panjang, kondisi ini menurut saya masih lebih ke healthy consolidation dibanding perubahan tren besar,” lanjutnya.
Dari data perdagangan, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) menjadi saham bank dengan penurunan terdalam. Saham emiten tersebut ambles 5,22% ke level 1.270. Di bawahnya, tekanan jual juga terlihat pada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang turun 4,60% ke posisi 5.700. Saham BBCA juga mencatat nilai transaksi jumbo mencapai Rp5,82 triliun, menegaskan bahwa minat pasar pada saham ini tetap tinggi meski tekanan jual membesar.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut melemah 3,91% ke level 2.950 dengan nilai transaksi mencapai Rp3,19 triliun. Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkoreksi 3,65% ke posisi 3.700. Tekanan juga terjadi pada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang turun 1,21% ke level 4.080. Tidak hanya bank-bank pelat merah, saham bank swasta seperti PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN), PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN), dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII) juga sama-sama ditutup di zona merah.
Di tengah pelemahan sektor perbankan, hanya segelintir saham yang masih mampu bertahan di jalur penguatan. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menjadi yang paling menonjol setelah naik 2,59% ke level 1.980. Diikuti PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang menguat 0,97%, serta PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) yang naik tipis 0,31%.
Jika dilihat dari daftar saham bank dengan penurunan terbesar pada perdagangan hari ini, BBTN menempati posisi pertama dengan pelemahan 5,22% ke 1.270. BBCA berada di urutan berikutnya setelah turun 4,60% ke 5.700, disusul BBRI yang terkoreksi 3,91% ke 2.950, lalu BBNI yang turun 3,65% ke 3.700. Posisi kelima diisi BBDM? Tidak, sesuai data perdagangan yang tercatat, PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) turun 1,69% ke 4.660.
Pergerakan ini memperlihatkan bahwa tekanan pada saham big banks bukan hanya terjadi pada satu atau dua emiten, melainkan menyebar ke hampir seluruh pemain besar di sektor perbankan. Meski demikian, pasar masih memberi ruang pada sebagian saham untuk menguat, terutama BRIS, BNLI, dan BNGA, yang justru bergerak berlawanan arah ketika tekanan jual di bank-bank jumbo meningkat.
Situasi menjelang long weekend tampaknya menjadi salah satu faktor yang membuat pelaku pasar memilih bersikap lebih defensif. Setelah penguatan yang cukup kuat dalam beberapa hari sebelumnya, aksi ambil untung menjadi pilihan yang dinilai wajar oleh pelaku pasar. Di saat yang sama, sentimen global yang belum benar-benar solid ikut mempertegas kehati-hatian investor, sehingga saham-saham perbankan besar akhirnya menjadi salah satu yang paling terdampak pada akhir perdagangan Jumat tersebut.












