Politik & Parlemen

MP: Mengejek aksen daerah adalah bentuk diskriminasi yang “masih dapat diterima” terakhir

×

MP: Mengejek aksen daerah adalah bentuk diskriminasi yang “masih dapat diterima” terakhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Mocking regional accents is last form of acceptable discrimination, says MP

jurnalistik.co.id – Di Westminster Hall, anggota parlemen membahas bagaimana prasangka terhadap aksen daerah yang kuat dapat memengaruhi kesempatan seseorang untuk maju dalam kehidupan. Dalam forum itu, beberapa legislator menegaskan bahwa penilaian terhadap cara berbicara sudah berubah menjadi bentuk diskriminasi yang paling “dapat diterima”.

Ian Lavery, MP dari wilayah Northumberland dan mewakili Blyth and Ashington, menyatakan bahwa mengejek orang dengan aksen daerah yang kuat merupakan “last form of acceptable discrimination”. Ia menyebut pengamatannya bukan sekadar soal gaya bahasa, melainkan hambatan nyata yang muncul di ruang kerja. Menurutnya, stigma terhadap aksen semacam itu masih sering dijadikan alasan untuk menahan mobilitas sosial.

“Many people are forced between maintaining an accent they’re proud of or indeed ditching their accent to try to just even move on in life,” kata Lavery. Ia menambahkan, “It’s just not right – it’s the last form of acceptable discrimination in this country and it’s absolutely ridiculous.” Dalam penjelasannya, bias tersebut berkaitan dengan penanda sosial yang melekat pada cara seseorang berbicara.

Lavery juga menyinggung bahwa aksennya berasal dari lingkungan tambang batu bara dan membawa jejak identitasnya. Aksen, baginya, menunjukkan dari mana seseorang berasal dan siapa yang diwakilinya. Namun, ia menekankan ada stigma yang tetap bertahan—terutama dari pihak pemberi kerja—sehingga menjadi hambatan bagi anak-anak kelas pekerja.

Lebih jauh, Lavery mengatakan bahwa bias aksen berhubungan dengan “social markers, the local dialect, who you are, and where you should be in life, because of how you speak.” Ia menilai efeknya bisa sangat menentukan arah peluang seseorang sebelum orang tersebut sempat memperlihatkan kompetensi lainnya. Dengan kata lain, penilaian atas aksen sering terjadi terlalu cepat.

“Aksen langsung memberi sinyal inti jati diri”

Jo Platt, MP Labour untuk Leigh and Atherton, memimpin jalannya perdebatan Westminster Hall. Platt menjelaskan bahwa ada tekanan bagi banyak orang untuk mengubah cara berbicara agar bisa berkembang. Ia menilai kebutuhan untuk “terlihat” lebih sesuai standar tertentu sering mengaburkan kemampuan dan latar belakang asli seseorang.

Platt sepakat bahwa rintangan semacam ini tidak banyak dibahas. Ia menyatakan, “Long before we explain our politics, our profession, or our background, the moment we open our mouths our accents instantly signal a core part of who we are.” Menurutnya, sinyal itu kemudian dipakai untuk menilai kualitas seseorang, padahal penilaian tersebut tidak mencerminkan kemampuan.

Platt juga mengungkap pengalaman pribadinya sebagai perempuan dari kelas pekerja di Salford. Ia mengatakan pernah ada kekhawatiran bahwa melembutkan aksen akan membuatnya terdengar lebih kredibel, lebih profesional, dan lebih “Westminster”. Ia menambahkan, “I will admit there was a time when I wondered if softening my accent might make me sound more credible, more professional, more ‘Westminster’,” dan “I worried that the way I spoke would limit my prospects so I toned my accent down.”

Dalam perdebatan itu, Cat Eccles, MP Labour untuk Stourbridge, menyoroti bagaimana aksen Black Country kerap dipandang rendah. Ia mengatakan aksen tersebut sering diejek dan dinilai kurang berkelas. Padahal, menurut Eccles, aksen itu justru merupakan salah satu yang tertua dan paling terpelihara secara historis di Inggris.

Eccles juga menyampaikan pengalamannya tentang bagaimana stigma memengaruhi keyakinan seseorang. Ia mengatakan, “I remember my parents and teachers discouraging my accent due to biases and stigma, leading to beliefs that I could face discrimination or be seen as inferior in the working world,” lalu menegaskan, “We’re not inferior for how we speak and nor should we hide it.”

Marie Goldman, MP Lib Dem untuk Chelmsford sekaligus juru bicara perempuan dan kesetaraan, membawa contoh dari masa kecilnya di Devon. Ia mengatakan guru-gurunya pernah meminta agar ia menyesuaikan aksen West Country saat membaca di konteks pelajaran agama. Goldman mengingat bagaimana keluarganya juga terlibat dalam koreksi pengucapan yang ia dapatkan dari lingkungan sekolah.

Goldman menyebut kebiasaan orang tuanya, “My parents have always said ‘tuth’ rather than tooth and I remember being mocked about that, so I now say tooth, I’m slightly ashamed to say, because I corrected my accent.” Ia menggambarkan bahwa proses “pembetulan” aksen bukan tindakan netral, melainkan dapat melahirkan rasa malu dan keraguan terhadap cara berbicara sendiri.

Mims Davies, MP Konservatif untuk East Grinstead dan Uckfield sekaligus shadow Welsh Secretary, ikut menanggapi dengan pandangan terkait pendidikan dan latihan tutur. Ia menyebut bahwa ayahnya seorang petani Sussex dan ibunya berasal dari Stoke, namun keduanya juga menjalani les elokusi. Davies lantas mengaitkan pengalaman itu dengan dampak pendidikan massal dan koreksi pengucapan.

Davies mengatakan, “The rise of mass education and accent correction in favour of perceived better pronunciation has had an impact, otherwise I would be speaking more akin to the West Country accent and using the rhotic R, ”. Ia juga menilai bahwa ketiadaan aksen yang dianggap “tepat” masih terlalu sering menjadi penghalang bagi kemajuan seseorang. Davies menutup dengan menegaskan prinsip yang ingin ditegakkan: “A regional accent must never be seen as a badge of shame.”

Perdebatan ini muncul ketika Andy Burnham—yang lahir di Merseyside dan dibesarkan di Culcheth dekat Warrington—sedang menuju peran perdana menteri. Burnham telah mengusulkan program devolusi, termasuk rencana “No 10 North”, dan sejumlah MP menyatakan bahwa Inggris perlu mengembalikan kebanggaan atas kedalaman budaya yang terkandung dalam aksen daerah. Dalam konteks itulah, pembahasan tentang bias aksen diposisikan sebagai isu yang menyangkut martabat, kesempatan, dan cara masyarakat memandang identitas seseorang.