jurnalistik.co.id – Saham SpaceX kini diperdagangkan di bawah harga debutnya, kurang lebih sebulan setelah perusahaan melantai di pasar saham.
Pada Rabu, harga satu lembar saham perusahaan roket, satelit, dan teknologi AI milik Elon Musk turun menjadi $132,62 (£98,24), lebih rendah dari harga pencatatan awal sebesar $135 pada Juni.
Penurunan ini terjadi setelah lonjakan pasca-penawaran umum yang sempat mendorong harga berada di puncak sesudah melantai. Jika tren tersebut bertahan, atau bahkan melemah lebih jauh, investor yang membeli saham sekitar waktu flotasi berpotensi menghadapi kerugian di investasi mereka.
Sepanjang pergerakan terbarunya, saham SpaceX juga bergerak volatil. Dibandingkan puncak harian sejauh ini, harga saham kini turun 41%—menggambarkan respons pasar yang tidak stabil sejak mulai diperdagangkan.
Sementara itu, pada hari yang sama Nasdaq bergerak melemah tipis. Indeks Nasdaq yang menjadi tempat saham SpaceX terdaftar hanya turun 0,2%, tetapi saham SpaceX justru jatuh lebih dari 2% pada Rabu.
Pasar menilai ulang cerita awal di balik IPO
Di awal, antusiasme investor sempat sangat tinggi. Dalam periode awal perdagangan, valuasi SpaceX bahkan dipersepsikan lebih besar daripada Amazon dan Microsoft, sebelum harga mulai bergeser ke arah yang lebih rendah.
Bagi sebagian pelaku pasar, SpaceX pada masa awal dipandang sebagai peluang pertama untuk berinvestasi pada perusahaan berorientasi AI. Penilaian ini kemudian terhubung dengan langkah SpaceX yang juga makin dekat dengan ekosistem kecerdasan buatan.
Awal tahun ini, SpaceX mengakuisisi startup AI milik Elon Musk, xAI, yang kemudian berganti nama menjadi SpaceXAI. Akuisisi tersebut disebut sebagai langkah pertama perusahaan dalam membangun bisnis yang lebih fokus pada AI.
Berita Terkait
xAI dikenal lewat chatbot Grok yang sempat menuai kontroversi. Melalui akuisisi itu, SpaceX dikatakan menyewakan kapasitas pusat data kepada perusahaan-perusahaan teknologi lain.
Bisnis roket dan Starlink tetap jadi penopang utama
Di luar lini AI, bisnis utama SpaceX tetap berfokus pada pembuatan dan peluncuran roket serta layanan satelit telekomunikasi melalui Starlink.
Ketika Starlink menyatakan melakukan pemotongan harga di wilayah Memphis, Tennessee, dengan latar kekhawatiran setempat terkait proyek pusat data berskala besar, saham SpaceX sempat turun 8%. Peristiwa seperti ini menunjukkan bagaimana sentimen pasar dapat berubah cepat saat aspek komersial berhubungan langsung dengan biaya dan permintaan.
Pandangan analis juga menyoroti minimnya katalis baru yang mampu mengangkat kembali minat pasar. Steve Sosnick, analis pasar utama di Interactive Brokers, mengatakan kepada Reuters: “There hasn’t been anything that lately to remind people of some of the catalysts for why they bought SpaceX.”
Menurut jadwal yang disebut, SpaceX diharapkan merilis laporan keuangan publik pertamanya pada Agustus. Bagi investor, momentum berikutnya akan sangat bergantung pada bagaimana perusahaan menjelaskan kinerja dan prospek setelah fase awal debutnya.
Sosnick juga menambahkan: “The fact that a stock has fallen a couple of dollars below its IPO price in itself is not a tragedy, but SpaceX is heavily watched and has an important role in investor psyche.”
Dalam konteks IPO, SpaceX mencatat tonggak penting karena penawaran umumnya turut mengantarkan Elon Musk menjadi orang pertama di dunia yang menyandang status triliuner. Namun, satu bulan setelah melantai, harga saham yang berada di bawah $135 memperlihatkan bahwa penerimaan pasar terhadap cerita jangka pendek tidak berlangsung lurus.
SpaceX juga disebut tidak segera menanggapi permintaan komentar. Dengan kondisi harga yang masih bergejolak dan pasar menunggu laporan keuangan pertamanya, bulan berikutnya menjadi penentu apakah pelemahan tersebut hanya koreksi awal atau berlanjut lebih lama.












