Internasional

Netanyahu Klaim Kemenangan Bersejarah atas Iran usai MoU Damai AS-Teheran, Dikritik dalam Negeri

×

Netanyahu Klaim Kemenangan Bersejarah atas Iran usai MoU Damai AS-Teheran, Dikritik dalam Negeri

Sebarkan artikel ini
Klaim Menang atas Iran, Netanyahu Langsung Dikeroyok Kritik Domestik Global 16 Juni 2026
Ilustrasi: Klaim Menang atas Iran, Netanyahu Langsung Dikeroyok Kritik Domestik

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengklaim kemenangan bersejarah atas Iran setelah Amerika Serikat (AS) dan Teheran menyepakati nota kesepahaman (MoU) damai pada 14/6/2026. Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam konferensi pers yang disiarkan televisi pada 15/6/2026.

Dalam konferensi pers tersebut, Netanyahu menyatakan kampanye militer Israel bersama AS dan Israel terhadap Iran telah “menyelamatkan Tel Aviv dari nuklir.” Klaim ini ia tekankan dengan argumentasi bahwa kesepakatan tersebut membawa konsekuensi langsung bagi keselamatan warga Israel.

Netanyahu menegaskan, “Dan apa artinya itu? Itu berarti jutaan warga Israel akan berada dalam bahaya mengerikan dari kematian massa dan kami telah menjauhkan dari kami, selama bertahun-tahun, bahaya pemusnahan penduduk Israel ini.” Ia menyampaikan pandangannya sebagai pembenaran atas proses yang mengarah pada kesepakatan damai AS-Teheran.

Klaim kemenangan beradu dengan respons publik dan analis di Israel

Meski Netanyahu memposisikan hasil tersebut sebagai langkah besar, klaimnya justru berbanding terbalik dengan respons analis dan publik Israel. Di dalam negeri, banyak penilaian yang menyebut MoU damai itu sebagai pukulan telak bagi Israel.

Para analis menilai kesepakatan damai tersebut tak sejalan dengan janji-janji muluk Netanyahu. Mereka menyinggung bahwa tujuan yang disebut-sebut dalam konteks perang—mulai dari pergantian rezim di Teheran, penghancuran program nuklir, hingga pelumpuhan kemampuan rudal balistik Iran—dinilai masih jauh dari apa yang dijanjikan.

Kritik juga tidak lepas dari perhatian pada peristiwa di awal konflik. Pada hari pertama perang, serangan militer Israel disebut menggugurkan Ayatollah Ali Khamenei, yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Di mata sebagian pengamat, fakta tersebut memperkuat argumen bahwa pencapaian perang belum berujung pada hasil yang dianggap menentukan.

Oposisi menyerang Netanyahu, sementara pro-konflik menilai kesepakatan tak melindungi

Respons keras kemudian dimanfaatkan politisi oposisi untuk menyerang Netanyahu, terutama menjelang pemilu Israel yang dijadwalkan berlangsung sebelum Oktober mendatang. Yair Golan, pemimpin partai tengah-kiri The Democrats, menuduh Netanyahu telah membiarkan pencapaian militer terhapus begitu saja.

Senada dengan Golan, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett—yang disebut menjadi salah satu penantang utama dalam pemilu mendatang—menilai Netanyahu tidak mampu mencapai kemenangan. Bennett juga menyatakan kebijakan Netanyahu justru menjebak Israel, tanpa merinci perubahan yang ia harapkan selain mengkritik arah yang diambil setelah kesepakatan.

Kritik tidak berhenti pada oposisi. Sejumlah penolakan datang pula dari internal kabinet koalisi sayap kanan Netanyahu, yang mempersoalkan posisi Israel dalam proses tersebut. Salah satu poin yang mencolok adalah keberatan bahwa Israel tidak dilibatkan dalam negosiasi MoU.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyampaikan penolakannya melalui saluran Telegram. Dalam tulisannya, Ben-Gvir menyatakan, “Kami bukan bagian dari perjanjian ini. Ini tidak melindungi keamanan kami.” Pernyataan itu mencerminkan keberatan dari kubu yang menginginkan jaminan keselamatan yang lebih kuat dan mempersoalkan validitas manfaat yang diklaim dari kesepakatan.

Isu Lebanon: Netanyahu disebut ogah menarik mundur pasukan dalam waktu dekat

Di sisi lain, kesepakatan sementara antara AS dan Iran tampaknya secara eksplisit mencakup gencatan senjata di Lebanon. Namun, Netanyahu disebut ogah menarik mundur pasukannya dalam waktu dekat, sehingga memunculkan ketegangan antara narasi “kemenangan” yang ia sampaikan dan langkah-langkah lanjutan yang diambil terkait situasi di lapangan.

Bagi para pengkritik, sikap itu menjadi salah satu alasan untuk mempertanyakan kesepakatan yang diumumkan. Mereka berpendapat bahwa pengendalian risiko yang dikaitkan Netanyahu dengan klaim “menyelamatkan Tel Aviv dari nuklir” belum terlihat sebanding dengan perubahan kebijakan yang dinilai perlu, baik dari sisi sasaran perang maupun dari sisi perlindungan keamanan Israel.

Konfrontasi antara klaim Netanyahu dan kritik domestik menunjukkan bahwa MoU damai AS-Teheran masih menjadi medan pertarungan politik di Israel. Pada saat yang sama, perdebatan mengenai apa yang benar-benar tercapai—serta bagaimana Israel ditempatkan dalam proses—terus memengaruhi penilaian publik menjelang agenda politik yang akan datang.