Olahraga

Billie Jean King Cup: Inggris Siap Hadapi Ujian Berat vs Ceko di Shenzhen

×

Billie Jean King Cup: Inggris Siap Hadapi Ujian Berat vs Ceko di Shenzhen

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Billie Jean King Cup: Great Britain prepare for tough Czech Republic test

jurnalistik.co.id – Tim putri Inggris di Billie Jean King Cup bersiap menghadapi laga perempat final yang tidak mudah ketika mereka menghadapi Republik Ceko di Shenzhen, China, pada Selasa pukul 10:00 BST. Pertemuan ini menjadi ujian yang mereka pahami benar-benar akan menghadirkan tekanan besar, terutama karena Ceko datang dengan komposisi yang sangat kuat.

Dalam pertandingan yang disiarkan melalui BBC Sport, situs dan aplikasi BBC Sport serta BBC iPlayer, Inggris akan turun dengan formasi Harriet Dart, Katie Boulter, Sonay Kartal, Mika Stojsavljevic, dan Jodie Burrage. Skuad ini berangkat dengan kepercayaan diri, namun juga kesadaran bahwa kualitas lawan berada pada level yang sulit ditandingi.

Harriet Dart sendiri menegaskan sikap tim saat mengantisipasi pertandingan dengan menolak anggapan meremehkan. “It’s best not to underestimate us,” katanya, sebuah pengingat bahwa Inggris juga menilai laga ini layak dimenangkan dengan fokus dan eksekusi yang tepat.

Di sisi lain, Ceko merupakan tim 11 kali juara dan sekaligus tercatat sebagai satu-satunya tim yang memiliki dua pemain peringkat 10 besar pada turnamen Finals. Linda Noskova dan Karolina Muchova menjadi wajah utama Ceko, dengan Noskova berstatus juara Wimbledon serta Muchova sebagai lawan dari final sesama pemain Ceko pada musim panas ini.

Komposisi Ceko juga diperkokoh oleh Marie Bouzkova yang meski belum pernah mencapai puncak sebesar itu pada ajang mayor hingga kini, mampu meraih dua gelar WTA pada tahun ini, termasuk gelar di Nottingham di lapangan rumput. Sara Bejlek, pemain berusia 20 tahun, juga mencatat musim terobosan lewat satu titel dan sejumlah kemenangan atas nama-nama seperti Aryna Sabalenka serta Madison Keys.

Untuk nomor ganda, Bouzkova dan Noskova sempat bekerja sama dan meraih kemenangan di Cincinnati pada bulan Agustus. Namun, Katerina Siniakova diperkirakan akan tampil di Billie Jean King Cup, mengingat posisinya sebagai petenis ganda dengan peringkat teratas putri saat ini, dengan koleksi 12 Grand Slams atas namanya.

Secara peringkat tunggal, seluruh anggota tim Ceko berada di peringkat lebih tinggi dibanding setiap petenis dari skuad Inggris. Karena itu, ketidakseimbangan kekuatan terasa jelas di atas kertas, meski Inggris memilih untuk tetap menganggapnya sebagai peluang pertunjukan terbaik mereka di laga ini.

Inggris mengakui status underdog, tapi menargetkan “sesuatu yang istimewa”

Katie Boulter, yang saat ini menempati peringkat dunia 54, menyebut timnya secara alami berada dalam posisi underdog. “I think naturally we are definite underdogs,” ucapnya kepada BBC Sport. Menurut Boulter, tugas Inggris adalah menciptakan momentum sejak awal dan menghadirkan permainan yang benar-benar berbeda. “We are the ones that are going to have to make something happen, something special.”

Boulter juga menilai tekanan besar justru berada pada pihak Ceko, seraya mengingatkan bahwa di turnamen ini kejutan bisa muncul. “But that being said, a lot of pressure is on them,” katanya, sambil menambahkan, “and we’ve seen in this tournament before that people can make upsets, and I think that’s what we’ll be looking to do.”

Ia kemudian menegaskan bagaimana Inggris mencoba menjaga kepala tetap dingin. “I think we have no pressure ourselves, and we’re just going to go out there with no expectations.” Strategi itu sejalan dengan cara tim mendekati pertandingan: tanpa beban berlebihan, namun tetap siap menghadapi tempo dan kualitas lawan.

Harriet Dart memberi perspektif serupa, terutama setelah menyoroti bahwa hasil pertandingan memang terlihat berat dari sisi matchup. “I think even though the match-up on paper here is pretty rough for us, at the same time I know how well this team can play.” Ia menambahkan bahwa keyakinan internal tim tetap kuat. “We have strong belief within ourselves and within our own team that we can do well in this competition.”

Secara perjalanan musim, Boulter menyebut ada peningkatan dalam performanya tahun ini. Ia menilai musim 2026 “an improvement,” termasuk ketika ia meraih gelar WTA keempat di Ostrava dan mengalahkan petenis nomor satu dunia baru Elena Rybakina di Queen’s. Meski demikian, ia juga mengakui bahwa melawan petenis dari Ceko bukan hal yang mudah.

Rekor Boulter melawan pemain Ceko sebelumnya cukup rumit. Ia kalah 6-3 7-5 dari Muchova di Miami pada bulan Maret, lalu menghadapi kekalahan yang lebih tegas pada US Open putaran kedua awal bulan ini—dengan kemenangan hanya satu game dalam “bad day at the office”. Ia juga kalah 6-3 6-3 saat bertemu Noskova di Cincinnati pada bulan Agustus.

Namun, Boulter tetap menemukan bahan kepercayaan diri dari pertemuan sebelumnya. Ia pernah mengalahkan petenis Ceko dalam dua set langsung saat bermain di Osaka pada Oktober 2025. Tentang menghadapi Noskova dan Muchova, Boulter menilai keduanya sangat istimewa. “They are both incredible players, both extremely good at what they do,” katanya.

Pemain Inggris itu menekankan tantangan utama bukan sekadar meniru pola permainan lawan yang peringkatnya lebih tinggi, melainkan menjaga fokus terhadap bola yang datang. “Their base level is so high, you can’t play the same way that you would normally play if you were to play someone ranked a lot lower.” Ia menambahkan, “I think you have to give them respect, but also play the ball that’s coming at you at the same time. That’s my challenge, to focus on the ball coming at me and try and impose my own game.”

Menurut Boulter, cara menemukan poin adalah melalui apa yang ia lakukan sendiri, bukan menunggu lawan keliru. “I think there are ways I’m going to try and win points, and that’s through what I’m doing, not what they’re doing.”

Untuk Harriet Dart, perjalanan yang ia lalui juga menguatkan kesiapan tim. Ia tercatat pernah kalah 6-2 6-2 dari Bouzkova pada US Open putaran kedua. Meski begitu, Dart tetap menjaga cara pandang yang memosisikan timnya sebagai pihak yang bisa tampil maksimal saat pertandingan dimulai.

Inggris sendiri berhasil melaju ke Shenzhen untuk kali keempat dalam lima tahun melalui kemenangan mengejutkan atas Australia di Melbourne pada April. Di skuad sebelumnya, Boulter dan Kartal sempat tidak bermain—termasuk dengan absennya Emma Raducanu yang kembali absen karena cedera. Kembalinya keduanya memperkuat komposisi tim yang dipimpin kapten Anne Keothavong.

Langkah berikutnya: potensi lawan dari Kazakhstan atau Spanyol

Jika Inggris mampu menciptakan kejutan dan mengalahkan Ceko, mereka akan menantang pemenang dari pertandingan perempat final lain yang mempertemukan Kazakhstan dan Spanyol pada Jumat mendatang. Perlu dicatat bahwa Kazakhstan tidak diperkuat Rybakina.

Keothavong menilai tekanan sebagai elemen yang justru harus dipahami dengan bijak ketika tim sudah berada di tahap Finals. “I think pressure is a privilege, isn’t it? I think whoever you’re drawn against in this competition, particularly when you’ve made it through to the Finals, there are no easy matches.”

Ia juga menekankan bahwa sejarah pertandingan menunjukkan para pemain mampu tampil lebih baik saat membela negara. “We’ve seen over the years how people are able to rise to the occasion when they represent their nation. I’ve seen it from the players here beside me.”

Keyakinan itu ditutup dengan pesan yang sederhana namun tegas. “Anything is possible.”