Olahraga

Billie Jean King Cup: Inggris Raya siap menghadapi ujian berat melawan Republik Ceko

×

Billie Jean King Cup: Inggris Raya siap menghadapi ujian berat melawan Republik Ceko

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Billie Jean King Cup: Great Britain prepare for tough Czech Republic test

jurnalistik.co.id – Inggris Raya bersiap menjalani satu duel yang tidak mudah di Billie Jean King Cup Finals. Pada Selasa, tim “Great Britain” akan bertemu Republik Ceko pada babak perempat final di Shenzhen, China.

Berangkat dengan komposisi yang sudah disiapkan matang, skuad GB kali ini terdiri dari Harriet Dart, Katie Boulter, Sonay Kartal, Mika Stojsavljevic, dan Jodie Burrage. Meski perjalanan mereka ke tahap Finals terbilang kuat, lawan yang dihadapi jelas membawa beban tantangan tersendiri.

Republik Ceko bukan sekadar peserta yang dapat disepelekan. Mereka datang sebagai tim dengan rekor 11 kali juara, serta memiliki susunan pemain yang menonjol di turnamen ini. Di antaranya, hanya Ceko yang menampilkan dua petenis peringkat 10 besar di ajang Finals.

Di lini tunggal, nama-nama Ceko yang menjadi sorotan adalah Linda Noskova dan Karolina Muchova. Keduanya membawa momentum dari musim yang sedang berjalan: Noskova merupakan juara Wimbledon, sementara Muchova adalah lawan yang juga muncul dalam final sesama petenis Ceko pada periode musim ini.

Marie Bouzkova juga menjadi bagian penting dari persiapan Ceko. Petenis berusia 28 tahun itu belum mencapai puncak serupa di final besar seperti yang ditunjukkan rekan-rekannya, tetapi tetap menunjukkan progres lewat performa musim ini dengan meraih dua gelar WTA. Salah satu di antaranya datang di Nottingham, termasuk di turnamen rumput.

Selain itu, Sara Bejlek membawa cerita kebangkitan yang cepat. Usianya 20 tahun, dan musim ini menghadirkan terobosan: ia menorehkan gelar pertamanya serta mengukir kemenangan atas nama-nama seperti Aryna Sabalenka dan Madison Keys.

Untuk nomor ganda, kombinasi Bouzkova dan Noskova pernah tampil meyakinkan. Mereka bekerja sama untuk meraih kemenangan di Cincinnati pada bulan Agustus. Meski begitu, Katerina Siniakova kemungkinan akan menjadi sorotan tersendiri karena ia berpeluang tampil sebagai petenis dengan peringkat tertinggi di nomor ganda putri sekaligus memiliki 12 gelar Grand Slam.

Secara peringkat tunggal, Ceko juga unggul dari sisi komparasi. Semua anggota tim Ceko yang diproyeksikan tampil berada di peringkat yang lebih tinggi dalam klasemen tunggal dibandingkan seluruh pemain GB.

Underdog yang tetap menargetkan kejutan

Dari pihak Inggris Raya, Katie Boulter mengakui status mereka sebagai “underdog”. Ia mengatakan, secara alami mereka memang berada dalam posisi yang lebih sulit, namun justru dari situlah tim berusaha menciptakan momen istimewa. Menurutnya, tekanan lebih banyak berada di sisi lawan, sementara GB memilih keluar lapangan tanpa membebani diri dengan ekspektasi berlebih.

“Kami tidak boleh meremehkan mereka,” demikian nada sikap yang tercermin dari pernyataannya. Boulter juga menyinggung bahwa turnamen ini berulang kali memperlihatkan kemungkinan terjadinya kejutan, sehingga tim siap menjadikan hal tersebut sebagai arah strategi.

Catatan pertemuan: Boulter mencari cara menembus “level” tinggi Ceko

Untuk Boulter, persiapan juga dibarengi refleksi dari perjalanan musim 2026. Ia menilai musimnya membawa “perbaikan”, termasuk ketika ia meraih gelar WTA keempat di Ostrava, serta mengalahkan petenis peringkat satu dunia baru, Elena Rybakina, di Queen’s. Kendati demikian, ketika berhadapan dengan petenis Ceko, Boulter mengaku beberapa kali tersendat.

Di Miami pada bulan Maret, Boulter kalah dari Karolina Muchova dengan skor 6-3 7-5. Pada awal bulan ini, saat berlaga di US Open, ia mengalami kekalahan yang lebih tegas di babak kedua, hingga hanya mampu memenangkan satu gim dalam “hari yang buruk.”

Boulter juga pernah menghadapi Noskova di Cincinnati pada bulan Agustus dan kalah 6-3 6-3. Meski begitu, ia tetap membawa satu pegangan percaya diri: ia pernah mengalahkan petenis Ceko tersebut dalam dua set langsung saat bermain di Osaka pada Oktober 2025.

Pada kesempatan lain, Boulter menegaskan bahwa kemampuan Noskova dan Muchova sangat tinggi. Ia menyebut kedua pemain memiliki kualitas yang luar biasa, sampai-sampai sulit menampilkan pola permainan yang sama seperti saat menghadapi lawan dengan peringkat jauh di bawah. Tantangan utama baginya adalah memusatkan fokus pada bola yang datang sekaligus berusaha menekan ritme permainan sendiri.

Dalam pandangannya, poin-poin kemenangan akan lahir dari apa yang ia lakukan, bukan dari strategi yang semata-mata mengandalkan langkah lawan.

Dart: matchup memang berat, tapi GB punya keyakinan internal

Harriet Dart juga menyoroti kondisi pertandingan dari perspektif tim. Ia mengingat bahwa pada US Open babak kedua, ia kalah 6-2 6-2 dari Bouzkova. Meski demikian, Dart tetap menyatakan keyakinannya bahwa di atas kertas memang terlihat sulit, namun ia percaya bagaimana GB mampu bermain dalam kompetisi ini.

Ia menekankan adanya kepercayaan kuat di dalam tim—baik terhadap kemampuan individu maupun soliditas skuad dalam memperebutkan hasil.

Jalan GB menuju Shenzhen dan kemungkinan langkah berikutnya

Inggris Raya mengamankan tempat di Shenzhen lewat performa yang mengejutkan. Mereka berhasil lolos ke Billie Jean King Cup Finals untuk keempat kalinya dalam lima tahun setelah mengalahkan Australia di Melbourne pada April.

Di skuad yang membawa GB ke Finals, Boulter dan Kartal termasuk nama yang sebelumnya tidak ikut, antara lain karena absensi dari skuad tersebut juga memuat Emma Raducanu yang kembali absen akibat cedera. Dengan kembalinya keduanya, tim kini merasa punya tambahan kekuatan untuk menyokong strategi sang kapten, Anne Keothavong.

Keothavong sendiri menilai tekanan adalah bagian yang tidak terhindarkan ketika tim sudah mencapai tahap Finals. Ia menyebut bahwa pada level kompetisi seperti ini, tidak ada pertandingan yang benar-benar mudah. Menurutnya, sejarah turnamen menunjukkan bahwa pemain yang mampu “naik” ketika tampil mewakili negaranya sering menjadi pembeda.

Jika GB mampu menciptakan kejutan dan menundukkan Ceko, langkah berikutnya akan menunggu pada Jumat. Dalam skenario tersebut, mereka akan menghadapi pemenang laga perempat final antara Kazakhstan dan Spanyol. Kazakhstan datang tanpa Rybakina, sementara pemenangnya akan menentukan lawan berikutnya untuk GB.

Keothavong menutup pandangannya dengan keyakinan bahwa apa pun bisa terjadi ketika turnamen memasuki fase-fase krusial. Untuk GB, pertemuan Selasa di Shenzhen menjadi momen untuk menguji batas, mengukur detail kecil, dan membuktikan bahwa status underdog tidak selalu berarti tidak ada harapan.