Olahraga

Siya Kolisi Dorong Springboks Kuasai Jiwa Soweto Jelang Jamuan Selandia Baru Sabtu

×

Siya Kolisi Dorong Springboks Kuasai Jiwa Soweto Jelang Jamuan Selandia Baru Sabtu

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: South Africa vs New Zealand: Siya Kolisi urges Boks to seize spirit of Soweto

jurnalistik.co.id – Kapten Siya Kolisi menyerukan Springboks agar menggali inspirasi dari Soweto ketika menjamu Selandia Baru di laga yang berlangsung pada Sabtu. Ia menempatkan pertemuan ini sebagai momen bersejarah, sekaligus panggilan untuk tampil dengan semangat yang pernah membentuk Afrika Selatan.

Laga di Johannesburg itu akan digelar di Stadion FNB yang berkapasitas 94.736 penonton. Stadion tersebut menjadi tuan rumah pembuka Piala Dunia Sepak Bola, dan turnamen itu adalah satu-satunya kalinya kompetisi tersebut diselenggarakan di benua Afrika.

Kolisi juga menyinggung peristiwa Soweto Uprising pada 1976, yakni protes mahasiswa dan pelajar yang menjadi titik balik dalam perjuangan melawan apartheid. Menurutnya, gerakan itu terkait dengan segregasi rasial yang didukung negara, serta menandai perubahan besar dalam sejarah sosial Afrika Selatan.

“So many things that happened in Soweto helped shape the South Africa we have today,” kata Kolisi. Ia menambahkan, “So many heroes have come from there, and a lot of the football history of this country is from Soweto, so we know how special that is.”

Kolisi menegaskan bahwa mereka tidak boleh bersikap seolah lokasi ini tidak memiliki makna. “We’re not going to act like it’s not a special ground in a significant area. All of that gives us more to play for. We are also thankful for the people who came from there and fought for people like me and [assistant coach Mzwandile] Stick to be sitting here today.”

Dalam kutipan berikutnya, ia menutup pesan itu dengan penegasan tentang penghormatan kepada mereka yang telah berjuang. “They fought for the freedom we have now and never got to experience it, and giving our best tomorrow is part of us saying thank you.”

Soweto Uprising sendiri merupakan protes yang dilakukan anak sekolah dan mahasiswa terhadap kebijakan sekolah kulit hitam yang dipaksa mengajar dengan bahasa Inggris dan Afrikaans. Bahasa-bahasa itu, seperti disebut dalam laporan, terutama digunakan oleh populasi kulit putih di Afrika Selatan.

Ketika bentrokan berlanjut dan menyebar hingga wilayah Johannesburg, ratusan demonstran tewas akibat tindakan polisi. Setelah itu, kecaman internasional terhadap pemerintahan Afrika Selatan mengalir, seiring dunia menilai apartheid sebagai sistem yang harus diakhiri.

Perubahan besar akhirnya terjadi pada 1994, ketika apartheid berakhir lewat pemilihan umum pertama yang benar-benar demokratis di Afrika Selatan. Dengan latar inilah Kolisi menempatkan Soweto sebagai sumber energi moral bagi generasi yang hidup di zaman kebebasan.

Secara konteks pertandingan, Selandia Baru telah memenangi dua kunjungan sebelumnya ke Stadion FNB. Apabila mereka kembali meraih kemenangan pada laga ini, tim berjuluk All Blacks akan unggul 2-1 dalam seri, sekaligus mengulang pola skor dari kemenangan All Blacks dalam keberhasilan mereka yang disebut “Incomparables” pada 1996 di tanah Afrika Selatan.

Setelah laga di Johannesburg, pertemuan keempat dan terakhir dijadwalkan berlangsung di Baltimore pada 12 September. Setelah itu, rangkaian pertemuan kedua tim akan mencapai penutupnya di kota Amerika tersebut.

Pertandingan ini juga digelar sebagai double-header bersama pertemuan tim nasional putri. Laga tersebut merupakan pengulangan dari kemenangan Black Ferns 46-17 pada perempat final Piala Dunia Rugby Putri 2025.

Untuk pesta pertandingan ganda tersebut, Wallace Sititi dan adiknya, Amarante Sititi, masing-masing mendapat penugasan di bench pemain pengganti. Keduanya menggunakan nomor punggung 20 untuk tim mereka pada hari yang sama.

Jika keduanya benar-benar masuk lapangan, mereka akan menjadi pasangan kedua dari saudara kandung yang bermain untuk Selandia Baru pada tanggal yang sama. Sebelumnya, catatan tersebut pernah terjadi ketika Xavier dan Annaleah Rush menghadapi Australia di Sydney Football Stadium pada 29 Agustus 1998.

Dalam laporan yang sama, disebutkan bahwa ayah Wallace dan Amarante, Semo Sititi, yang pernah bermain untuk Borders dan Newcastle serta pernah menjadi kapten Samoa, ikut melakukan perjalanan ke Johannesburg untuk menyaksikan laga.

Amarante menyampaikan bahwa menjadi bagian dari tim ini adalah kehormatan. “Representing this country is a privilege but doing it alongside my brother is something special. I will always hold it in my heart,” katanya.

Ia juga menggambarkan momen itu terasa nyata meski masih sulit dipercaya. “It’s pretty surreal. I’m still buzzing out that I get to be here with my brother but it’s really cool and I’m so grateful.”

Di sisi Afrika Selatan, Kolisi disebut berada dalam kondisi yang diragukan karena cedera menjelang laga. Meski demikian, nama-nama yang diturunkan untuk awal pertandingan tetap disusun dengan formasi berikut: Kolbe; Arendse, Kriel, de Allende, Hooker; Feinberg-Mngomezulu, Reinach; Nche, Marx, Louw, Etzebeth, Nortje, Kolisi, PS du Toit, Wiese.

Cadangan untuk Springboks adalah: Fourie, Steenekamp, T du Toit, De Jager, Esterhuizen, Hanekom, Van den Berg, Libbok.

Adapun Selandia Baru memulai pertandingan dengan susunan: McKenzie; Jordan, Tupaea, J Barrett, Carter; Love, Roigard; Bower, Aumua, Lomax, Vaa’I, Darry, Lakai, Jacobson, Savea.

Untuk bangku cadangan, All Blacks menyiapkan pemain: Taukei’aho, Numia, Newell, Holland, Sititi, Preston, Lienert-Brown, Moorby.

Pesan Kolisi tentang Soweto pada akhirnya diarahkan pada satu tujuan: memastikan Afrika Selatan memegang kendali makna dari lapangan yang mereka pijak. Ia mengaitkan sejarah Soweto, perjuangan apartheid, hingga kebebasan yang diraih, lalu mengubahnya menjadi dorongan untuk memberi yang terbaik pada hari pertandingan.

Dengan Soweto sebagai rujukan, dan Stadion FNB sebagai saksi momen-momen besar, pertemuan Springboks vs All Blacks pada Sabtu ini menjadi lebih dari sekadar laga seri. Bagi Kolisi, ada tanggung jawab untuk menghormati mereka yang memperjuangkan kebebasan, sekaligus membawa semangat itu ke permainan di lapangan.