jurnalistik.co.id – Alexander Zverev menutup musim dengan momen yang selama ini ia dambakan di Amerika Serikat. Petenis unggulan Jerman itu mengalahkan Ben Shelton di final US Open 2026 untuk meraih gelar Grand Slam keduanya—dan mengunci statusnya sebagai kampiun mayor berulang di nomor tunggal.
Dalam pertandingan yang berlangsung penuh dinamika, Zverev menorehkan kemenangan 6-3, 7-6(7-2), 5-7, 6-2 atas Shelton. Hasil ini sekaligus memastikan Zverev meraih trofi US Open untuk pertama kalinya, enam tahun setelah kekalahannya pada final 2020.
Kemenangan tersebut terasa lebih bermakna karena Zverev datang ke New York setelah menjalani tahun yang “berubah arah” melalui capaian besar di Roland Garros. Ia merebut gelar mayor pertamanya pada US Open musim ini dari performa yang terus naik, lalu cepat menambahkan gelar kedua di Grand Slam yang sama hanya dalam beberapa bulan.
Di awal musim, muncul keraguan apakah petenis berusia 29 tahun itu masih akan mampu menjadi juara di level paling tinggi. Namun kini ia merayakan pencapaian yang menegaskan bahwa ia tetap mampu menguasai panggung-panggung besar, termasuk saat bersaing melawan daftar nama yang biasanya dianggap paling sulit ditaklukkan.
Lonjakan perjalanan Zverev juga tidak lepas dari konteks turnamen pada dua tahun terakhir. Jannik Sinner dan Carlos Alcaraz, yang pada 2024 dan 2025 saling bergantian mendominasi ajang mayor, sama-sama tidak hadir penuh di momen-momen kunci. Cedera menjadi faktor yang membantu jalur Zverev terbuka, sehingga ia bisa memaksimalkan peluang melawan pemain lainnya yang menempati posisi penantang.
Sementara itu, Shelton sejak awal dibaca sebagai figur yang berpotensi mengganggu siapa pun lewat tenaga pukulnya. Di final, ia tidak hanya membawa ambisi pribadi, tetapi juga harapan besar dari penonton tuan rumah. Shelton berstatus unggulan kedelapan dan tengah mengejar tonggak yang terasa historis: menjadi pemain putra Amerika pertama yang memenangi gelar mayor sejak Andy Roddick pada 2003.
Namun nada pertandingan berubah sejak set pertama. Saat final dimulai, Shelton langsung menghadapi tekanan dari servis dan tempo permainan Zverev yang lebih rapi. Poin krusial datang cepat ketika Zverev menembus servis Shelton di game pembuka, dan sejak saat itu kendali mulai beralih kepada petenis Jerman untuk mengamankan dua set awal.
Di dua set pertama, Zverev tampil terukur dengan mengendalikan ritme dan memanfaatkan momen ketika lawan mulai ragu mengambil keputusan. Shelton memang mencoba mengimbangi, tetapi ia sulit menemukan cara untuk mematahkan pola permainan Zverev dalam fase-fase penting.
Berita Terkait
- Kolom Danny Murphy: ‘Their intelligence and resilience was key’—Cara Man City meraih ‘statement win’ di Old Trafford
- Match of the Day 13/09/2026: Derby Manchester di Old Trafford & Coventry vs Brighton
- Derek McInnes: Rangers kompak dan intens, Tom English bedah kemenangan Old Firm atas Celtic di Ibrox
Perubahan besar justru muncul pada set ketiga. Ketika ketegangan memuncak, Shelton akhirnya mampu menekan servis Zverev dengan cara yang lebih serius. Tekanan itu tidak langsung menghasilkan angka besar, tetapi cukup untuk menciptakan pergeseran momentum.
Set ketiga menegaskan bahwa final tidak akan selesai mudah bagi siapa pun. Shelton mendapatkan kesempatan break dan memanfaatkannya menjadi dorongan yang berarti, memberi harapan baru kepada sekitar 24.000 penonton di Arthur Ashe Stadium. Gelora penonton menjadi energi tambahan ketika pertandingan beranjak ke fase penentu.
Meski demikian, Zverev tidak membiarkan situasi berlarut. Pada awal set keempat, ia kembali merebut pijakan permainan dan mengendalikan jalannya pertandingan dengan langkah yang lebih tegas. Ujung dari upaya Shelton di fase berikutnya tidak cukup untuk mengubah arah akhir, sehingga mimpi skuad tuan rumah kembali padam.
Menjelang akhir laga, momen penentu datang dari kilasan kecil yang mengubah seluruh cerita. Zverev tidak langsung menyadari bahwa kemenangannya sudah terkunci ketika Shelton melakukan pukulan balasan yang berakhir melebar pada championship point.
Baru setelah timnya mengonfirmasi skor, Zverev bereaksi dengan senyum lebar—campuran lega dan sedikit keterkejutan, seolah ia baru benar-benar menangkap bahwa pertarungan panjang itu sudah berakhir. Ekspresi tersebut menutup proses yang selama ini membebani pikirannya, terutama sejak pengalaman pahit pada final 2020.
Secara keseluruhan, kemenangan ini merangkum “transformasi” yang dibangun Zverev sepanjang tahun. Ia berhasil mengatasi keraguan di awal musim, memanfaatkan perubahan lanskap kompetisi, dan tetap menjaga kualitas saat tekanan datang dari pemain yang kuat menyerang seperti Shelton.
Bagi Shelton, kekalahan di final tidak menghapus fakta bahwa ia tampil sebagai penantang paling berbahaya di US Open kali ini. Namun bagi Zverev, trofi ini lebih dari sekadar tambahan satu gelar. Ia menjadi bukti bahwa pengalaman dan kedewasaan pertandingan dapat bekerja bersamaan dengan ketepatan eksekusi—dan saat peluang terbuka, ia mampu mengubahnya menjadi kemenangan yang layak dirayakan.
Kini, US Open 2026 meninggalkan satu nama yang menanjak: Alexander Zverev. Dengan skor 6-3, 7-6(7-2), 5-7, 6-2 atas Ben Shelton, ia mengunci gelar Grand Slam keduanya dan menegaskan bahwa puncak kariernya belum selesai.











