Otomotif

Daihatsu Tetap Fokus Pembeli Mobil Pertama Hadapi Mobil China di Bawah Rp 300 Juta

×

Daihatsu Tetap Fokus Pembeli Mobil Pertama Hadapi Mobil China di Bawah Rp 300 Juta

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Strategi Daihatsu Hadapi Mobil China di Bawah Rp 300 juta

jurnalistik.co.id – Persaingan pasar mobil di segmen harga di bawah Rp 300 juta kian ketat seiring makin banyaknya merek asal China yang menawarkan beragam model baru. Pasar semakin ramai bukan hanya dari sisi variasi kendaraan, tetapi juga dari teknologi dan tampilan yang dipromosikan kepada konsumen.

Di tengah dinamika itu, Daihatsu menyatakan tidak mengubah arah strateginya. Perusahaan tetap memusatkan perhatian pada pembeli mobil pertama, yakni konsumen yang sebelumnya umumnya menggunakan sepeda motor.

Pernyataan tersebut disampaikan Rokky Irvayandi, Marketing Director & Corporate Function Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Ia ditemui di GIIAS 2026, di ICE BSD City, Tangerang, belum lama ini.

Rokky menilai kehadiran pemain baru justru memberi sinyal positif bagi perkembangan industri otomotif nasional. Menurutnya, bertambahnya brand akan mendorong ekosistem industri bergerak lebih dinamis, sehingga persaingan tak semata dipahami sebagai ancaman.

“Sebenarnya Daihatsu, kalau kita sih melihat ada brand-brand baru, ya bagus lah, berarti ya, buat industri otomotif Indonesia,” kata Rokky.

Dalam penjelasannya, Daihatsu tidak memposisikan diri untuk langsung berbenturan di seluruh segmen. Pabrikan asal Jepang itu memilih fokus pada segmen yang dinilai berbeda karakter pelanggannya.

“Daihatsu sendiri gimana? Daihatsu sebenarnya kita fokus ke segmen yang berbeda. Kita tuh main di first car buyer . Orang-orang yang membeli mobil pertama kali, yang naik dari sepeda motor. Sekitar 90 persen step up dari sepeda motor,” ujarnya.

Alur “naik kelas” dari sepeda motor ke mobil pertama itu membuat kebutuhan pelanggan tidak berhenti pada spesifikasi kendaraan saja. Peralihan dari penggunaan dua roda ke mobil biasanya menuntut dukungan yang lebih menyeluruh, terutama terkait kemudahan kepemilikan dan penggunaan harian.

Rokky juga menautkan arah strateginya dengan peta persaingan saat ini. Sebagian besar merek China di rentang harga di bawah Rp 300 juta dikaitkan dengan pilihan kendaraan listrik, sementara mayoritas pembeli mobil listrik di Indonesia selama ini berasal dari kalangan yang telah memiliki mobil sebelumnya.

Dengan demikian, lanskap kendaraan listrik cenderung ditempati mobil kedua atau bahkan ketiga dalam sebuah keluarga. Pola kepemilikan seperti itu berbeda dengan konteks first car buyer yang sedang mencoba masuk ke dunia mobil untuk pertama kalinya.

Rokky menegaskan bahwa karakter pembeli mobil pertama tidak sama dengan konsumen yang sekadar membandingkan fitur dan spesifikasi. Menurutnya, konsumen segmen ini memandang kendaraan sebagai bagian dari kebutuhan jangka panjang.

“Nah, orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak hanya mempertimbangkan mobilnya aja. Harga, iya. Mobil harga, iya. Harga harus terjangkau. Tapi setelah itu sendiri, harus bisa memberikan kemudahan,” katanya.

Dari sudut pandang tersebut, pertimbangan “mudah” menjadi kata kunci. Rokky menjelaskan bahwa kemudahan bukan hanya soal harga awal, melainkan juga akses yang luas ketika kendaraan mulai dipakai dalam keseharian.

“Belinya juga harus mudah. Mudah tuh gimana? Ada di mana-mana outlet-nya. Harganya terjangkau. Kemudian, pilihan finansialnya, ya, program-program finansinya juga cukup fleksibel,” ujarnya.

Ia menempatkan strategi Daihatsu pada kebutuhan menyeluruh itu, termasuk bagaimana perusahaan membantu konsumen menghadapi tahapan kepemilikan setelah transaksi dilakukan. Bagi first car buyer, transisi dari perencanaan belanja hingga biaya operasional menjadi bagian dari pertimbangan yang tidak bisa dipisahkan.

Karena itu, Daihatsu tidak hanya mengandalkan angka harga yang kompetitif. Rokky juga menyebut pentingnya menjaga biaya kepemilikan agar tetap terjangkau selama kendaraan digunakan.

Dalam implementasinya, Daihatsu memanfaatkan jaringan diler dan bengkel sebagai salah satu penopang utama agar pelanggan merasakan layanan yang mudah dijangkau. Ketersediaan suku cadang yang luas juga diposisikan sebagai nilai tambah agar perawatan kendaraan berjalan lebih lancar.

Melalui pendekatan tersebut, perusahaan mencoba menjaga pengalaman kepemilikan yang konsisten sejak awal pembelian. Fokus pada akses layanan, kemudahan pembelian, serta fleksibilitas program finansial dipandang menjadi kunci untuk menjawab kebutuhan pembeli mobil pertama.

Dengan pasar yang makin ramai, Daihatsu menekankan bahwa pilihan segmen tetap menjadi strategi inti. Bagi perusahaan, persaingan di bawah Rp 300 juta tidak otomatis mengubah arah bisnis, selama karakter konsumen yang dibidik masih membutuhkan ekosistem kepemilikan yang praktis dan terukur.

Pada akhirnya, Daihatsu menempatkan dirinya sebagai pemain yang menyasar konsumen “step up” dari sepeda motor dengan pendekatan yang menekankan kemudahan, akses layanan, serta biaya kepemilikan yang tetap bersahabat. Di tengah munculnya merek baru, perusahaan berharap fokus pada first car buyer dapat menjaga relevansi penawaran dalam lanskap yang terus berubah.