Bisnis & Ekonomi

Paramount dan Warner Bros menentang merger mega US$110 miliar, dihadang 12 negara bagian AS

×

Paramount dan Warner Bros menentang merger mega US$110 miliar, dihadang 12 negara bagian AS

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Paramount and Warner Bros sued to block $110bn mega merger

jurnalistik.co.id – Dua belas negara bagian di Amerika Serikat mengajukan gugatan untuk menghentikan rencana merger Paramount dan Warner Bros senilai US$110 miliar. Langkah hukum ini diposisikan sebagai upaya mencegah konsolidasi media terbesar di Hollywood yang dinilai berisiko meredam persaingan serta menaikkan harga bagi konsumen.

Gugatan tersebut dipimpin oleh negara bagian California dan bergabung dengan negara bagian lain dalam sebuah koalisi pengacara umum. Dalam dokumen gugatan, mereka menilai transaksi itu akan mengubah lanskap industri hiburan dan mempersempit pilihan pasar bagi penonton.

Jaksa Agung California Rob Bonta menyatakan merger pada akhirnya akan merugikan publik luas. Ia menegaskan, “audiences on every sofa and movie theater seat in the US”. Pernyataan itu mencerminkan kekhawatiran negara bagian terhadap dampak jangka panjang pada biaya hiburan serta kualitas layanan.

Jika kesepakatan berjalan, perusahaan hasil penggabungan disebut akan menguasai lebih dari seperempat perilisan film-film besar. Klaim berikutnya menyebutkan, bersama konglomerat lain seperti Disney, Universal, dan Sony, hanya empat grup yang nantinya mengendalikan 86% pangsa pasar film tersebut.

Selain persoalan persaingan, negara bagian menyoroti implikasi terhadap dinamika industri. Penggabungan Paramount dan Warner Bros juga dipandang mengakhiri “seratus tahun” rivalitas sengit antara dua rumah produksi besar Hollywood yang selama ini bersaing ketat dalam merilis karya-karya populer.

Di antara waralaba yang disebut dimiliki oleh kedua grup terdapat Harry Potter, Batman, Mission: Impossible, dan Top Gun. Mereka juga mengoperasikan jaringan televisi berpengaruh seperti CNN, MTV, dan Nickelodeon, yang membuat isu konsolidasi tidak hanya menyentuh bioskop, tetapi juga tayangan layar kaca.

Gugatan ini muncul di tengah proses regulasi yang sebelumnya telah bergerak. Pada bulan Juni, Departemen Kehakiman AS (US Department of Justice) menyetujui merger, namun koalisi jaksa agung meminta perusahaan menghentikan transaksi sembari menunggu peninjauan oleh pengadilan.

Koalisi tersebut juga menegaskan ancaman berupa kemungkinan perintah penahanan sementara (temporary restraining order) bila perusahaan tidak memenuhi permintaan untuk menunda. Di sisi lain, mereka menilai tantangan regulasi saat ini merupakan hambatan besar bagi raksasa hiburan yang berupaya menyatukan operasi.

Dalam pandangan Rob Bonta, transaksi ini akan berdampak pada harga, kualitas, dan ketersediaan konten. Ia kembali menekankan bahwa merger “would lead to higher prices, lower quality, and less content for film and television, harming movie theaters, basic cable distributors, and ultimately, audiences on every sofa and movie theater seat in the US”.

Gugatan berfokus pada tiga area utama: rilis film layar lebar, gelombang film ber-skala blockbuster, serta kanal televisi kabel. Negara bagian berargumen bahwa hilangnya persaingan akan mengurangi posisi tawar bioskop dan jaringan televisi, sehingga ekosistem penayangan berpotensi menghadapi biaya yang lebih mahal.

Menurut argumen gugatan, saat ini jika satu studio menuntut harga yang dianggap tidak wajar, distributor masih memiliki opsi untuk berpindah dan bernegosiasi dengan pihak lain. Namun, tanpa opsi tersebut, bioskop dan jaringan TV dinilai bakal menghadapi biaya yang lebih tinggi—biaya yang pada akhirnya dapat dibebankan kepada konsumen melalui tiket yang lebih mahal, tagihan kabel yang meningkat, serta pilihan yang lebih terbatas.

Gugatan itu juga menuliskan, “Nothing justifies these substantial harms to competition,” sebagai penegasan bahwa dampak yang dikhawatirkan tidak dapat dibenarkan. Frasa tersebut menjadi bagian dari dasar argumentasi koalisi negara bagian dalam menentang penggabungan.

Meski demikian, pihak pendukung merger menyampaikan pandangan berbeda terkait kondisi industri. Mereka menilai dunia media tradisional sedang menghadapi krisis, terutama karena audiens televisi kabel terus menyusut dengan cepat.

Kondisi bioskop juga disebut berada di bawah tekanan yang berkelanjutan dari dominasi raksasa teknologi dan platform streaming. Dalam narasi pendukung transaksi, skala yang lebih besar dinilai menjadi kebutuhan ekonomi untuk bertahan di ekosistem hiburan yang berubah cepat.

Paramount merespons gugatan dengan menyatakan keberatan tersebut dinilai keliru. Dalam pernyataan resminya, Paramount menyebut gugatan “fundamentally flawed” dan “wrong”, serta menegaskan perusahaan akan “vigorously defend the transaction”.

Perusahaan juga menambahkan bahwa penundaan transaksi justru dapat merugikan pekerja hiburan yang sebelumnya sudah terdampak berbagai perubahan teknologi. Paramount menyatakan bahwa teknologi telah mengganggu mata pencaharian dan “cost California tens of thousands of entertainment jobs”.

Dengan langkah koalisi negara bagian ini, rencana konsolidasi dipastikan memasuki fase peninjauan yang lebih ketat. Jika disetujui, gabungan Paramount dan Warner Bros disebut akan mengendalikan hampir sepertiga pasar film teater AS dan pemrograman basic cable, sehingga keputusan pengadilan berpotensi menjadi penentu bagi arah industri dalam periode berikutnya.