Otomotif

Pemilik Jaecoo J7 Curhat Setelah Setahun Pakai: Tenaga Instan, Suspensi Terasa Keras

×

Pemilik Jaecoo J7 Curhat Setelah Setahun Pakai: Tenaga Instan, Suspensi Terasa Keras

Sebarkan artikel ini
Curhat Pemillik Jaecoo J7 Pakai 1 Tahun: Tenaga Instan Suspensi Keras Otomotif 20 Juni 2026
Ilustrasi: Curhat Pemillik Jaecoo J7 Pakai 1 Tahun: Tenaga Instan Suspensi Keras

jurnalistik.co.id – Setelah hampir satu tahun mengandalkan Jaecoo J7 SHS di Medan, Andrew membagikan pengalaman yang ia nilai apa adanya: ada bagian yang benar-benar memuaskan, namun tidak sedikit pula yang membuatnya perlu beradaptasi.

Jaecoo J7 SHS sendiri mulai menarik perhatian sejak resmi meluncur di pasar otomotif Tanah Air pada pertengahan 2025. Andrew mengaku ia termasuk pemilik awal dari Medan, sehingga ulasan ini lahir dari pemakaian harian yang rutin, bukan sekadar sensasi setelah test drive.

Ia juga menuturkan konteks penting sebelum beralih ke Jaecoo J7. Andrew sebelumnya terbiasa menggunakan Toyota Innova diesel lansiran 2012 yang sudah dimodifikasi berat di sektor mesin, serta Toyota Harrier tahun 2011. Karena itu, Jaecoo J7 SHS menjadi “kendaraan PHEV pertama” baginya dan otomatis menghadirkan karakter yang berbeda saat dikendarai.

Sensasi “tenaga instan” dan respons yang terasa seperti EV

Dari sisi kelebihan, Andrew paling menyoroti performa yang ia rasakan responsif sejak injakan awal. Ia menyebut setir terasa enteng, sementara karakter tenaganya memberi sensasi yang mirip kendaraan listrik murni.

Andrew merangkum pengalamannya dengan kalimat yang tegas: “Jadi memang kalau dari segi plusnya itu setirnya itu enteng, dan untuk tenaganya itu benar-benar dia bisa seperti mobil EV, bisa langsung jambak gitu dia. Jadi kalau misalnya untuk nyalip mobil di tanjakan bisa lebih gampang lah,” ujar Andrew kepada Kompas.com, Kamis (18/6/2026).

Menurutnya, respons tersebut bukan hanya terasa “enak”, tetapi juga terbukti dalam penggunaan nyata. Ia bahkan menilai performa standar Jaecoo J7 SHS mampu mengalahkan Innova diesel miliknya yang dulu sudah dimodifikasi ekstrem, termasuk ganti mesin dan turbo.

Tak berhenti di karakter tenaga, Andrew juga melihat efisiensi bahan bakar sebagai salah satu lompatan terbesar berkat sistem plug-in hybrid. Ia menilai, saat digabung dengan bantuan tenaga listrik, konsumsi yang didapat memiliki potensi mendekati angka yang ia harapkan.

“Perkiraan itu harusnya lebih kurang di 50-an (kilometer) per liter sih harusnya, kalau kita gabung dengan tenaga listriknya,” kata Andrew.

Dalam kondisi baterai penuh dan tangki BBM terisi penuh, Andrew mengungkap bahwa mobil dapat bertahan hingga tiga minggu tanpa perlu ke SPBU, dengan catatan jarak tempuh harian sekitar 20-30 kilometer.

Suspensi terasa keras dan rasa “menggigit” berkurang saat kecepatan tinggi

Meski banyak poin positif, Andrew mencatat kekurangan yang paling terasa ada pada kenyamanan berkendara atau ride quality. Ia menilai bantingan Jaecoo J7 SHS cenderung kaku ketika melewati kondisi jalan yang menurutnya tidak mulus.

Andrew menggambarkan sensasinya sebagai berikut: “Bantingannya agak stiff gitu, kesannya seperti mobil-mobil Eropa ya yang agak keras gitu. Cuman, kurang padat gitu dia mobilnya, jadi kurang berat aja rasanya,” jelas Andrew.

Untuk penggunaan di Kota Medan, ia merasakan karakter tersebut makin jelas saat mobil menghadapi variasi permukaan jalan. Di satu sisi, ia memahami bahwa setelan yang kaku bisa memberi feedback saat berkendara, namun dari pengamatannya, bobot dan rasa “mengunci” terasa tidak sekuat yang ia harapkan.

Efek dari kombinasi suspensi yang kaku dan bobot setir yang ia nilai ringan turut memunculkan sensasi berbeda saat laju mobil meningkat, terutama di jalan tol. Ketika kecepatannya melesat, Andrew menyebut muncul handling yang kurang meyakinkan bagi dirinya.

“Kita nyalip tuh, itu kayak dia enggak ngegigit di aspal gitu kesannya,” ungkap Andrew. Ia menilai karakter tersebut berbeda jauh dibanding Toyota Harrier miliknya yang ia rasakan lebih lembut di bantingan, namun tetap terasa menapak kokoh di jalan.

ADAS terlalu intrusif untuk lalu lintas kota

Kekurangan lain yang tidak luput dari catatan Andrew datang dari fitur keselamatan aktif atau Advanced Driver Assistance Systems (ADAS). Menurutnya, fitur-fitur tersebut terasa terlalu intrusif untuk konteks lalu lintas Medan yang ramai dan dinamis.

Karena alasan kenyamanan saat bermanuver, Andrew bahkan memilih untuk mematikan fungsi rem otomatis atau Autonomous Emergency Braking (AEB). Baginya, gangguan yang muncul dari sistem ini membuat aktivitas harian terasa kurang luwes.

Ia menjelaskan keputusan tersebut dengan gamblang: “Kalau saya matiin fitur yang rem sendiri, yang dari depan maupun ke belakang (mundur). Cuman karena risih juga ketika mau keluar dari parkiran pas mundur itu ada orang lewat dan sebagainya, tiba-tiba langsung ngerem gitu,” katanya.

Dari uraian Andrew, inti persoalannya bukan pada kemampuan sistem semata, melainkan timing dan sensitivitas ketika situasi berubah cepat di sekitar area parkir maupun saat mobil berinteraksi dengan pejalan kaki.

Secara keseluruhan, Andrew seolah menarik garis tegas antara dua pengalaman yang saling bertolak belakang. Jaecoo J7 SHS terasa menawarkan tenaga yang responsif, sensasi mengemudi yang mendekati karakter EV, serta potensi efisiensi yang dapat dirasakan dalam pemakaian jarak menengah harian. Namun, ride quality yang keras dan rasa handling yang kurang “menggigit” pada kecepatan tinggi, ditambah ADAS yang ia anggap intrusif, menjadi catatan yang membuatnya berharap pengguna lain turut menilai kebutuhan kenyamanan sebelum memutuskan.