jurnalistik.co.id – Gubernur Gusnar Ismail menegaskan bahwa pengembangan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Amai Gorontalo perlu selalu membaca perubahan yang terjadi di sekelilingnya. Penekanan itu disampaikan saat penandatanganan nota kesepahaman antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan UIN Sultan Amai Gorontalo, Jumat (4/9/2026).
Menurut Gusnar, yang dimaksud dengan lingkungan strategis mencakup keseluruhan kondisi, situasi, maupun faktor internal serta eksternal yang dapat memengaruhi kelangsungan hidup dan arah pengembangan UIN. Lingkupnya tidak hanya terbatas pada skala lokal, melainkan juga mencakup nasional, regional, hingga global.
Gusnar memandang dinamika lingkungan strategis yang bergerak cepat akan berdampak langsung pada pengelolaan perguruan tinggi. Karena itu, UIN tidak boleh berjalan dengan asumsi yang statis, tetapi harus menyesuaikan strategi dan rencana sesuai perkembangan zaman.
“Tantangan kita ke depan yakni membawa UIN Sultan Amai bisa eksis dan menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo. Oleh karena itu kita harus mengamati dan memperhitungkan lingkungan strategis agar bisa bersaing hingga tingkat nasional bahkan global,” kata Gusnar.
Dalam kesempatan tersebut, Gusnar juga meminta seluruh civitas akademika menyiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan serta perkembangan zaman. Ia menekankan agar langkah yang diambil tidak hanya berangkat dari tren sesaat, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan yang benar-benar terbentuk di masyarakat dan arah kebijakan yang sedang berjalan.
Gusnar kemudian mencontohkan satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang dialokasikan untuk Provinsi Gorontalo. Program tersebut memiliki nilai investasi hingga Rp1,4 triliun, yaitu pembangunan hilirisasi ayam.
Gusnar menilai momentum seperti hilirisasi ayam seharusnya mendapat respons dari UIN melalui penataan program akademik yang selaras. Ia menyatakan UIN perlu membuka fakultas peternakan atau kesehatan hewan sebagai bagian dari upaya menjawab kebutuhan program nasional di daerah.
Berita Terkait
“Argumentasinya ke pusat akan lebih mudah karena kita memiliki program nasional hilirisasi ayam terintegrasi. Saya mengajak UIN untuk melompat, jangan biasa-biasa saja,” ujarnya.
Penandatanganan nota kesepahaman tersebut dirangkaikan dengan kuliah umum yang disampaikan oleh Kepala BPIP, Yudian Wahyudi. Kuliah umum diikuti oleh para guru Pancasila dan Kewarganegaraan, kepala sekolah dan madrasah, guru agama, serta mahasiswa.
Adapun tema yang diangkat dalam kuliah umum itu adalah “Menggali Nilai-Nilai Pancasila dan Moderasi Beragama sebagai Inspirasi Bernegara.” Melalui tema tersebut, peserta diajak untuk menempatkan nilai Pancasila serta moderasi beragama sebagai rujukan dalam cara pandang dan langkah bernegara.
Gusnar berharap, kerja sama BPIP dan UIN Sultan Amai tidak berhenti pada penandatanganan dokumen semata. Kolaborasi itu diharapkan menjadi dorongan nyata untuk memperkuat kapasitas akademik, memperluas daya respons institusi, serta mendorong peran kampus dalam menjawab agenda-agenda pembangunan di Gorontalo.
Dengan arah tersebut, penguatan UIN Sultan Amai diarahkan agar benar-benar mampu berdiri sebagai institusi yang relevan, bersaing, dan dapat menghadirkan kontribusi yang terasa bagi masyarakat. Visi untuk menjadikan kampus sebagai kebanggaan Gorontalo menjadi penegasan atas perlunya pembacaan lingkungan strategis secara berkelanjutan.
Nota kesepahaman tersebut juga diposisikan sebagai langkah awal yang membuka ruang diskusi dan koordinasi berkelanjutan antara BPIP dan UIN. Dengan kerangka kerja sama yang jelas, kolaborasi diharapkan tidak hanya menjadi seremonial, tetapi juga menghasilkan tindak lanjut yang terukur bagi arah penguatan kelembagaan kampus.
Dalam konteks itu, Gusnar menekankan bahwa penyiapan kapasitas tidak berhenti pada penyelarasan materi akademik, melainkan juga pada kesiapan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pendekatan yang dipilih pun perlu mempertimbangkan kebutuhan yang benar-benar tumbuh, sekaligus selaras dengan agenda kebijakan yang sedang berjalan.
Gusnar pun mengaitkan gagasan tersebut dengan momentum nasional yang sedang diupayakan pemerintah, termasuk investasi program hilirisasi ayam di Gorontalo senilai Rp1,4 triliun. Ia berharap UIN mampu membaca peluang tersebut melalui penataan program studi yang lebih relevan, sehingga kontribusi kampus dapat terasa langsung dan mendukung ekosistem pembangunan daerah.












