Pendidikan

Faktor yang Terlewat: Absensi Sekolah dan Krisis Obesitas Anak

×

Faktor yang Terlewat: Absensi Sekolah dan Krisis Obesitas Anak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: The overlooked factor driving the childhood obesity crisis

jurnalistik.co.id – Di ruang klinik spesialis obesitas anak, pola yang mencolok justru muncul di luar meja makan dan resep obat. Hampir semua pasien yang dirawat tidak bersekolah, sementara dokter menilai kehadiran di sekolah adalah aspek yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam perang melawan obesitas.

Kisah Ibbie menjadi gambaran paling ekstrem. Remaja berusia 16 tahun itu mengaku, “I loved school. I loved to learn.” Namun, ia selalu bergumul dengan berat badan, dan situasinya memburuk saat lockdown Covid-19. Ia mendapatkan perundungan karena ukuran tubuhnya, lalu di tahun pertama sekolah menengah pertama ia berhenti menghadiri sekolah sama sekali.

“When you are at home 24/7 it is very easy to go into the kitchen to get a snack. It’s not the same if you are at school,” kata Ibbie, yang berasal dari Doncaster. Ia menjelaskan bahwa saat berada di rumah setiap saat, kebiasaan mengambil camilan menjadi lebih mudah, sedangkan rutinitas sekolah memberi batas yang berbeda.

Akibat perubahan rutinitas itu, berat Ibbie meningkat drastis. Saat usia 12 tahun, ia sudah berbobot hampir 22 stone (140 kg) dan didiagnosis mengalami kerusakan hati. Ia juga mengatakan ia diberi tahu bahwa, “I was told that I might need to have a liver transplant if I didn’t lose weight. That was scary to hear.”

Kasus Ibbie adalah contoh yang sangat menonjol, tetapi bukan satu-satunya. BBC mencatat lebih dari 6.000 anak telah menjalani perawatan pada layanan penurunan berat badan untuk anak-anak dengan obesitas paling berat di Inggris. Layanan itu berbentuk Complications from Excess Weight (CEW) yang merupakan jaringan 39 pusat spesialis NHS di seluruh Inggris.

Anak-anak dengan obesitas berat, hampir semuanya absen dari sekolah

Di CEW, sebagian anak memiliki masalah kesehatan mental dan disabilitas belajar, sementara yang lain bersifat neurodivergen atau autis. Meski beragam latar belakangnya, hampir semua anak yang dirawat memiliki satu karakter yang menyatukan: mereka tidak menghadiri sekolah.

Gambaran ilmiahnya masih berkembang, tetapi dokter senior yang berbicara kepada BBC menyebut kehadiran sekolah sebagai faktor kunci yang “terlupakan” dalam upaya melawan obesitas anak. Pada tahun 2000-an, perdebatan publik menyoroti makanan tertentu yang dibeli di kantin sekolah—muncul anggapan bahwa anak menjadi gemuk karena membeli terlalu banyak turkey twizzlers. Kini, perhatian bergeser: para ilmuwan menunjuk bahwa keadaan “jauh dari sekolah” dapat menjadi masalah serius.

Lonjakan obesitas saat masa lockdown

Obesitas anak di Inggris meningkat selama puluhan tahun. Dalam banyak diskusi, penyebab paling sederhana yang biasanya disebut adalah bertambahnya konsumsi makanan cepat saji. Namun pada 2020, situasinya menjadi lebih rumit. Walau obesitas anak terus naik sebelum pandemi, tingkatnya meledak selama lockdown.

Proporsi anak usia 10 dan 11 tahun yang mengalami berat badan berlebih atau obesitas naik dari 35% menjadi 41% selama masa tersebut, dengan anak-anak dari kelompok ekonomi yang lebih rentan terdampak secara tidak proporsional. Meski angka obesitas kemudian turun, tingkatnya tidak kembali ke kondisi sebelum pandemi.

Data pemerintah paling baru menunjukkan satu dari 10 anak yang memulai sekolah di Inggris adalah obesitas. Angka itu meningkat menjadi satu dari lima ketika anak meninggalkan sekolah dasar.

Prof Ken Ong, dokter utama di klinik CEW Cambridge University Hospital, berpendapat bahwa obesitas anak yang tinggi saat ini berakar pada waktu sekolah yang terlewat selama pandemi. Ia menyatakan, “We do know that diets got worse. We do know that children did a lot less physical activity. We know that for many children, they became quite isolated being taken out of schools,” seraya menambahkan, “I think these are the same factors that are and have been contributing to overweight and obesity.”

Pengaruhnya tidak hanya soal lockdown panjang. Bahkan periode singkat ketika anak tidak berada di sekolah—seperti liburan musim panas—juga tercatat dapat menaikkan berat badan. Sejak pandemi, jumlah anak di Inggris yang benar-benar tidak menghadiri sekolah pun semakin berkurang.

Pada 2019, sekitar 10% murid di sekolah negeri Inggris dikategorikan sebagai “persistently absent”, yaitu mereka tidak menghadiri setidaknya 10% kelas. Kini angkanya menjadi 18%. BBC menekankan belum ada data resmi khusus Inggris yang secara spesifik melacak kaitan obesitas dengan ketidakhadiran sekolah, tetapi penelitian internasional sebelumnya telah menyarankan hubungan tersebut.

Metaanalisis yang dipublikasikan pada 2017—menganalisis riset dari tujuh negara—menyimpulkan bahwa anak dengan obesitas 54% lebih berisiko absen dari sekolah dibandingkan anak dengan berat badan sehat.

Makanan, aktivitas, dan rutinitas yang hilang

Belum banyak penelitian luas di Inggris yang menelusuri mengapa ketidakhadiran sekolah bisa berujung pada obesitas, tetapi dokter yang berbicara kepada BBC memiliki beberapa teori.

Salah satunya berkaitan dengan pola makan. Sejak tahun 2000-an—ketika empat pemerintahan Inggris menerapkan regulasi agar makan siang sekolah lebih sehat—makanan yang tinggi gula atau tinggi lemak menjadi lebih sulit ditemukan di banyak kantin. Namun, batasan semacam itu tidak berlaku di lingkungan rumah.

Hingga 2010, beberapa tahun setelah aturan baru diterapkan, studi dari University of Leeds menemukan bahwa hanya 1,1% bekal makan siang yang dipersiapkan di rumah memenuhi persyaratan nutrisi yang seharusnya berlaku untuk makan yang dibeli oleh seorang anak di sekolah.

BBC juga mengutip studi dari Amerika yang menemukan bahwa obesitas anak meningkat di negara bagian yang program makan siang sekolah gratis universal ditarik pada 2022—dengan asumsi bahwa penarikan tersebut memengaruhi pola makan anak ketika berada di rumah.

Keith Godfrey, profesor epidemiologi dari University of Southampton, merangkum perbedaan ini: “While school food is not as good as it should be, there are some regulations around it,” katanya. “Whereas in the home environment, it’s much more variable in terms of what children receive.”

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah aktivitas fisik. Studi Inggris pada 2014, yang mengukur jumlah langkah dengan sensor elektronik, menemukan bahwa sebagian besar anak lebih aktif pada hari sekolah dibanding saat akhir pekan.

Dr Catherine Falconer, peneliti terkemuka yang menelaah hubungan antara kesehatan anak dan ketidakhadiran sekolah (serta bekerja untuk UK Health Security Agency), menyatakan bahwa terdapat bukti yang cukup kuat bahwa pergi ke sekolah berdampak besar bagi kesehatan. Ia menambahkan, “The very act of leaving the house and walking to school is beneficial.”

Ilmu pengetahuan, tentu saja, belum sepenuhnya final. Hubungan sebab-akibat sulit dipisahkan: ketidakhadiran sekolah bisa mendorong obesitas, tetapi obesitas juga mungkin membuat anak absen. Namun, para dokter menekankan bahwa ketidakhadiran sekolah—jika memang menjadi pemicu—hanya salah satu dari banyak penyebab.

Dampaknya meluas: dari kesehatan sampai kesejahteraan

Prof Simon Kenny, direktur klinis nasional untuk anak-anak dan orang muda di NHS England, adalah pihak yang meluncurkan klinik CEW pertama pada 2021. Ia menegaskan, “School attendance is key.” Ia menambahkan bahwa ia tidak menyadari besarnya tingkat ketidakhadiran anak, bukan hanya dari sekolah, melainkan dari kehidupan sosial. “You don’t see them in the street or youth clubs or sports centres. They are outside of society.”

Keterasingan tersebut juga dapat berujung pada ketidakbahagiaan. Prof Julian Hamilton-Shield, konsultan dokter anak di Bristol Royal Hospital for Children, mengatakan anak-anak dengan obesitas berat yang ia tangani adalah “the most unhappy children I have come across”.

Ibbie, yang ditangani di klinik CEW Sheffield, mengingat masa-masa kelam. Ia berkata, “The bullying got so bad… there was physical bullying as well as verbal,” dan menambahkan, “I had suicidal thoughts. It got to the stage where I actually tried to take my own life.”

Langkah perbaikan: membawa rencana kesehatan ke sekolah

Lalu, bagaimana masalah ini dapat diperbaiki? Salah satu pendekatan adalah menempatkan tenaga kesehatan di sekolah untuk menyampaikan rencana kesehatan yang dipersonalisasi. Klinis CEW pernah mencoba gagasan serupa.

Tessa Saunders, terapis keluarga di klinik CEW Cambridge, menyebut bahwa dalam beberapa kasus sekolah perlu memberi ruang agar anak mengikuti rencana diet mereka sendiri, bahkan jika itu berarti melanggar aturan sekolah tertentu. Ia mengatakan anak yang mengalami obesitas bisa diberikan waktu tambahan di kantin agar mereka memperlambat proses makan, sehingga tubuh memiliki waktu lebih lama untuk merasa kenyang.

Saunders juga menyatakan bahwa anak dapat ditawari tambahan camilan pada sore hari agar tidak tergoda untuk makan berlebihan saat kembali ke rumah. Ia mengakui langkah itu mungkin tampak “aneh”, tetapi memiliki alasan: “there’s a reason behind it. It’s not the mum trying to make her kid the special one.”

Ia menambahkan bahwa guru juga dapat memantau dengan cermat asupan air anak yang mengalami obesitas. Menurutnya, kadang saat anak merasa lapar, yang sebenarnya mereka butuhkan adalah minum karena rasa haus bisa meniru kelaparan.

Dr Falconer berpendapat persoalan ini tidak seharusnya diperlakukan semata-mata sebagai masalah di lingkungan sekolah. Ia mengatakan, “I think in this country we have been focused on school attendance being a school problem,” sebelum menegaskan, “School absence should be treated as a public health issue.”

Ia juga memandang bahwa upaya untuk membalik penurunan tenaga perawat sekolah dapat membantu mendeteksi anak yang rentan lebih cepat. Menurutnya, ada potensi besar agar sekolah menjadi tempat memperoleh layanan kesehatan dalam beberapa bentuk: “whether it’s around healthy eating, vaccinations or dental care.”

Obat penurun berat badan—peluang, tetapi tidak menggantikan akses sekolah

Memulihkan anak untuk kembali menghadiri sekolah setelah lama absen tentu membutuhkan usaha. Beberapa orang tua yang datang ke klinik berharap solusi menjadi lebih mudah, misalnya melalui obat penurun berat badan seperti Mounjaro dan Ozempic yang dikenal sebagai GLP-1s.

Namun, obat tersebut hanya berizin untuk anak usia 12 tahun ke atas, dan tidak direkomendasikan secara rutin untuk siapa pun yang berusia di bawah 18 tahun berdasarkan pedoman National Institute for Health and Care Excellence (NICE) di Inggris. Prof Ong menyebut ia pernah bertemu orang tua di kliniknya yang ingin akses suntikan penurun berat badan sebagai alternatif yang mungkin lebih mudah daripada mengembalikan anak ke sekolah.

Sejumlah dokter juga melihat potensi obat tersebut. Mereka menekankan bahwa obesitas pada anak bisa menjadi kondisi yang berpotensi mengancam jiwa jika tidak ditangani selama bertahun-tahun. Prof Julian Hamilton-Shield mengatakan ia telah melihat obat penurun berat badan memberi efek yang mentransformasi rasa percaya diri pada remaja dengan obesitas berat.

Di balik debat pengobatan, benang merah yang ditekankan para dokter tetap sama: pada beberapa kasus, ketidakhadiran sekolah bukan sekadar gejala, tetapi dapat menjadi faktor penyebab yang berperan besar. “School attendance is key,” kata Prof Simon Kenny, sambil mengingatkan bahwa ketidakhadiran berarti anak menghilang dari kehidupan sosial—bukan hanya dari ruang kelas.