Pendidikan

Mengapa Ibu Lebih Sering Memikul “Mental Load” — dan Bagaimana Pasangan Membaginya

×

Mengapa Ibu Lebih Sering Memikul “Mental Load” — dan Bagaimana Pasangan Membaginya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why more women carry the 'mental load' - and how couples can share it

jurnalistik.co.id – Pada awal musim sekolah, banyak ibu merasa pikirannya tidak pernah benar-benar “kosong”. Di kepalanya, daftar tugas dan pengingat kecil—yang terus muncul—sering terasa seperti bekerja tanpa henti.

Konsep yang belakangan banyak dibicarakan adalah “mental load”: beban perencanaan, pengorganisasian, mengingat, dan mengantisipasi berbagai urusan agar rumah tangga tetap berjalan. Tugas semacam ini mencakup mengingat jadwal perjalanan sekolah, memantau pembaruan grup WhatsApp orang tua, memperhatikan bagian rumah yang perlu dibersihkan, memonitor jam tidur anak, menjadwalkan pemeriksaan dokter, hingga membeli seragam sekolah.

Menurut peneliti, dalam pasangan heteroseksual pekerjaan mental ini cenderung lebih sering dipikul oleh perempuan—terutama ibu—bersamaan dengan porsi kerja rumah fisik yang lebih besar. Memang setiap keluarga berbeda, tetapi pola yang terlihat dalam studi-studi memberi gambaran yang cukup konsisten.

Stacie Matthias, ibu dari tiga anak yang berusia 37 tahun dan tinggal di Stockport, mengatakan pikirannya sering terasa paling sibuk pada September. “Ini rasa bahwa selalu ada sesuatu untuk diingat, diatur, atau dikhawatirkan,” katanya, “yang membuat masa ini terasa sangat padat.”

Stacie menggambarkan daftar tanggung jawab itu seperti wadah kotor yang terus terisi air sepanjang hari. “Kalau tidak ada yang membantumu mengangkat panci dan alat masak itu, airnya akan meluap di akhir hari,” ujarnya. “Dan kamu berada di titik kritis.”

Dalam sebuah survei yang meneliti mental load dan melibatkan 3.000 orang tua di Amerika Serikat, akademisi dari University of Bath dan University of Melbourne menemukan bahwa para ibu memegang 71% tugas rumah tangga yang membutuhkan upaya mental. Contoh yang disebut mencakup mengingat kapan seprai dan handuk perlu dicuci, serta mengingat sejak kapan makanan di kulkas harus segera dimakan.

Studi itu juga menemukan bahwa para ayah lebih sering mengerjakan tugas yang bersifat “episodik”—urusan yang muncul lebih jarang, seperti mengingat kapan mobil perlu diservis. Dengan kata lain, tidak semua pekerjaan jatuh ke ukuran yang sama, dan “waktu berpikir” sering kali tidak dibagi merata.

Prof Leah Ruppaner dari University of Melbourne menyebut mental load sebagai pekerjaan yang tidak terlihat, bertahan lama, dan tidak mengenal batas. “Kamu tidak membawa piringmu ke tempat kerja, tapi kamu membawa mental load ke mana pun,” katanya.

Di ruang diskusi seperti Reddit dan Mumsnet, topik ini kerap muncul karena para perempuan mencari cara berbicara dengan pasangan mengenai kelelahan akibat harus menanggung banyak tanggung jawab sekaligus. Banyak ibu mengatakan mereka ditambahkan ke grup WhatsApp sekolah—tempat orang tua berdiskusi soal hari tanpa seragam, jadwal kunjungan, ulang tahun, hingga barang yang hilang—sementara pasangan mereka tidak pernah bergabung.

Sophia, ibu dari tiga anak berusia 35 tahun di Portsmouth, membiayai perjalanan sekolah dan memesan bekal lewat aplikasi sekolah di ponselnya. Ia mengatakan suaminya belum pernah mengunduh aplikasi tersebut. Sophia juga mencoba beberapa kali menjelaskan konsep mental load, namun merasa suaminya tidak memahami dan menganggap keluhannya sebagai “tugas cepat”.

“Itu terdengar tugas cepat kalau kamu hanya bisa mengerjakan tugasnya,” kata Sophia. “Tapi aku harus merencanakan tugas itu, mengantisipasinya, dan terus berada 10 langkah di depan.”

Sam Berry, wakil kepala sekolah sekaligus pembuat konten dan ayah dari dua anak di London, menceritakan bahwa saat istrinya pertama kali mengangkat ide mental load setelah anak sulung lahir, ia merasa belum benar-benar paham. Ia juga mengaku sempat defensif karena merasa ia sudah melakukan banyak hal: mengganti popok, memberi makan bayi, dan urusan lain. Sam mengatakan ia memang bertanya apa yang bisa ia bantu, tetapi tetap saja beban “memikirkan” berada di pihak lain.

Stacie merangkumnya dengan kalimat sederhana: “Aku selalu bilang kepada pasanganku, ‘Kalau aku harus meminta kamu melakukan sesuatu, itu berarti menambah mental load-ku.’” Ia menuturkan butuh beberapa bulan pembicaraan dan mendengarkan sampai Sam menangkap bahwa yang menjadi isu bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, melainkan cara berpikir di baliknya.

Clinical psychologist Natasha Wallace menjelaskan bahwa sebagian perempuan datang kepadanya dengan perasaan stres karena tekanan untuk mengatur rumah tangga. “Sering kali bukan satu sumber stres yang besar,” katanya. “Ini ketika mereka sadar ada ratusan tuntutan kecil di kepala—dan otak serta tubuh mereka tidak bisa mematikan semuanya.”

Wallace menambahkan banyak perempuan bergerak seperti mesin (autopilot), sehingga sering kali tidak menyadari seberapa besar beban kognitif yang mereka bawa. Stres yang konstan namun rendah intensitasnya itu bisa berdampak pada sistem saraf, yang pada akhirnya bisa memicu tidur yang buruk, mudah tersinggung, dan kelelahan mengambil keputusan.

Anita Cleare, ahli pola asuh dan penulis buku The Work/Parent Switch, mengatakan terkurasnya kemampuan kognitif secara keseluruhan merembet ke kehidupan kerja dan dapat berujung pada kelelahan yang tidak berkelanjutan (burnout). Ia juga menyinggung sebuah penelitian yang menemukan bahwa laki-laki dengan penghasilan lebih tinggi melakukan lebih sedikit kerja rumah yang berkaitan dengan fisik maupun kognisi. Namun ketika penghasilan perempuan meningkat, mereka mengurangi kerja rumah fisik, sementara jumlah kerja mentalnya tetap sama.

Cleare menekankan bahwa sangat sedikit perempuan merasa itu pilihan untuk “keluar” dari kehidupan berkeluarga. Pilihan yang sering dihadapi adalah memperlambat karier, bekerja paruh waktu, atau berhenti sepenuhnya. Ia menyebut, “Kalau beban domestik diturunkan, kalau mental load diturunkan, maka akan muncul energi, kapasitas, dan minat untuk melakukan kerja yang lebih banyak serta lebih baik.”

Soal mengapa kesenjangan itu terjadi, banyak perempuan yang diwawancarai BBC mengatakan mereka percaya hal itu bermula dari cuti melahirkan. Wallace mengaitkan dengan kenyataan bahwa perempuan umumnya mengambil cuti melahirkan jauh lebih lama dibanding ayah pada cuti ayah (paternity). Akibatnya, mereka menjadi “orang tua default” sejak sangat awal.

“Kalau kamu menjadi orang yang tahu semuanya, tahu di mana semuanya berada, dan di masa lalu sudah melakukan segalanya, semua orang akan mulai datang kepadamu untuk apa pun,” katanya. “Jadi meski kamu kembali bekerja, kamu tetap jadi pusat.”

Di Inggris, ibu bisa mengambil hingga 52 minggu cuti melahirkan yang sah, dengan 39 minggu di antaranya berbayar. Sementara ayah dapat mengambil hingga dua minggu cuti dengan gaji cuti ayah yang sah. Orang tua juga bisa mengambil shared parental leave. Cleare menilai tempat kerja bisa membantu dengan memberi contoh bahwa ayah mengambil cuti ayah, bukan hanya menawarkan program tersebut.

Ia juga menyarankan adanya ekspektasi yang jelas tentang kapan karyawan bisa dihubungi, serta dukungan untuk percakapan karier bagi perempuan. Di luar kebijakan formal, Cleare mengatakan peran tradisional juga bisa berpengaruh.

Zach Watson, ayah yang menikah dan memiliki tiga anak serta pelatih di Amerika Serikat yang membahas pembagian mental load, menceritakan pengalamannya bersama keluarga. Ia mengatakan kakeknya mungkin tidak pernah memasak dalam hidup pernikahannya, sedangkan ayahnya hanya melakukannya sedikit. Pada lima tahun pertama pernikahannya, istrinya lebih sering memasak. Saat Zach menawari diri, ia biasanya menanyakan apa yang diinginkan istrinya untuk makan. Namun pertanyaannya itu, menurutnya, bisa ikut menambah beban mental istri karena tetap menempatkan keputusan pada pihak yang lain.

Ia belajar mendekati masalah dengan opsi yang sudah dipersiapkan: ia melihat isi kulkas lebih dulu, lalu memberi beberapa pilihan menu. Jika istrinya ingin sepenuhnya tidak terlibat dalam pengambilan keputusan, Zach bisa menawarkan “default” tanpa menuntut istrinya kembali memikirkan semuanya. Dan ketika butuh bantuan, ia juga belajar tidak hanya bertanya “ketchup-nya di mana?”, melainkan ikut memahami kebutuhan lain yang saling terkait.

Afua Williams, 40 tahun, ibu dari dua anak di London, mengingatkan bahwa bila sebelumnya seseorang memegang lebih banyak mental load, pasangan mungkin akan menjalankan banyak hal dengan cara yang berbeda. “Mungkin tidak selalu berjalan mulus,” katanya.

Bagaimana membagi mental load secara lebih adil

Beberapa orang tua yang berbicara dengan BBC News membagikan cara agar pembagian mental load terasa setara. Mereka menekankan pentingnya komunikasi yang jelas tentang perasaan dan dampaknya, sehingga pasangan memahami apa yang sebenarnya ditanggung. Zach menyebut upaya “melabeli” beban yang tidak terlihat itu—membuat kerja kognitif dan emosional yang tadinya samar menjadi sesuatu yang bisa dikenali bersama.

Wallace menyarankan pembicaraan dilakukan saat keadaan tidak dipenuhi kemarahan atau kewalahan, karena bisa terdengar seperti menyalahkan atau mengkritik. Sebuah gagasan lain adalah “lihat apa yang bisa dialihkan”: misalnya, apakah kartu ulang tahun fisik benar-benar perlu diurus, atau apakah grup WhatsApp orang tua bisa dimatikan sementara cukup fokus pada surel resmi dari sekolah.

Rutinitas check-in juga disebut membantu: bisa harian, mingguan, atau mengikuti musim. Selain itu, membuat kalender bersama dapat memastikan semua orang mengetahui momen seperti ulang tahun, rapat sekolah, dan urusan penting lain tanpa harus “menghafal” sendirian. Wallace menekankan bahwa pengambilan tanggung jawab idealnya dilakukan dari awal sampai selesai, tanpa menunggu pengingat berulang.

Cleare mengingatkan agar tidak terjebak pada “efficiency trap”, yaitu menganggap solusi satu-satunya adalah menjadi lebih terorganisasi. Ia mengajak orang tua melihat kembali inti menjadi orang tua: momen kedekatan dengan anak lebih penting daripada detail kecil yang hanya berkutat pada aturan tertentu—seperti jenis sayur apa yang disajikan.

Pada akhirnya, ketika mental load diturunkan dan dibagi secara nyata, rumah tangga tidak hanya berjalan lebih rapi, tetapi juga memberi ruang bagi energi dan kapasitas yang lebih sehat—bagi ibu maupun pasangan.