jurnalistik.co.id – Penelitian dari University of Surrey menyoroti durasi mandi yang dinilai ideal agar penggunaan air lebih efisien sekaligus tetap mendukung aspek kebersihan dan kesehatan. Studi itu menekankan perlunya batas waktu mandi agar konsumsi harian tidak melampaui kebutuhan dan tidak memperparah risiko krisis pasokan air di masa depan.
Peneliti ilmu lingkungan dari universitas tersebut, Dr. Pablo Pereira-Doel, menjelaskan bahwa ada rentang waktu yang sebenarnya cukup untuk membersihkan diri secara efektif. Ia juga mengingatkan pentingnya mengatur waktu mandi secara sadar agar sumber daya air tidak terbuang percuma.
Rekomendasi durasi mandi yang dinilai masuk akal
Dalam hasil risetnya, Pereira-Doel menyatakan, “Tiga menit adalah target yang masuk akal untuk mandi tubuh, dengan tambahan dua menit jika Anda mencuci rambut,”. Rekomendasi itu berangkat dari kebutuhan praktis agar proses pembersihan tetap tercapai tanpa membuat orang berlama-lama di bawah pancuran.
Peneliti menyoroti bahwa durasi yang disarankan bukan sekadar angka, melainkan target yang relevan dengan efisiensi. Ia menilai pengelolaan waktu mandi yang lebih terukur dapat menjadi langkah sederhana, tetapi dampaknya bisa terasa pada penggunaan air sehari-hari.
Temuan lain dalam data riset menunjukkan rata-rata durasi mandi rumah tangga saat ini mencapai 7,5 menit. Bahkan, beberapa orang ditemukan menghabiskan waktu hingga 40 menit di bawah kucuran air, durasi yang dinilai jauh dari batas efisien.
Menurut Pereira-Doel, kecenderungan orang mengulur waktu mandi tidak selalu berkaitan langsung dengan kebutuhan pembersihan. Ia menegaskan, “Sejauh mengapa orang berlama-lama… jawabannya adalah bagi sebagian besar waktu mandi, menjadi bersih bukanlah intinya”.
Kebiasaan yang memperpanjang waktu di kamar mandi
Selain durasi keseluruhan, peneliti juga menyoroti kebiasaan menggunakan sampo dua kali. Dalam penjelasan Pereira-Doel, penggunaan sampo dua kali dianggap sebagai pemborosan waktu dan air karena proses pembilasan menjadi lebih lama.
Ia menambahkan bahwa penggunaan produk pembersih yang berlebihan ikut berkontribusi pada lamanya durasi mandi. Produk yang digunakan terlalu banyak berpotensi menghasilkan lebih banyak busa sehingga membutuhkan waktu lebih panjang untuk dibersihkan.
Berita Terkait
“Gunakan sampo sekali saja, bukan dua kali. Ini adalah hal yang paling jelas dalam data kami dan merupakan salah satu perubahan termudah yang bisa dilakukan siapa pun,” tegas Pereira-Doel.
Di sisi lain, pakar psikologi lingkungan dari Swansea University, Profesor Ian Walker, menambahkan bahwa mayoritas orang melakukan aktivitas mandi secara otomatis tanpa memikirkan volume air yang terbuang. Menurutnya, kebiasaan ini sering berjalan sebagai rutinitas yang tidak diuji lagi efektivitas dan dampaknya terhadap konsumsi air.
Walker menggambarkan pola tersebut melalui kalimat, “Kami menyarankan agar kebanyakan orang memiliki rutinitas mandi mereka sendiri, yang cenderung mereka ulangi secara ‘autopilot’ setiap kali masuk ke kamar mandi,”. Ia memandang penting adanya kesadaran agar rutinitas yang berulang tidak otomatis mendorong penggunaan air yang berlebihan.
Melalui kampanye penghematan air, masyarakat didorong untuk membatasi waktu mandi menjadi maksimal 4 menit. Batas tersebut dimaksudkan agar kebiasaan sehari-hari tetap berada pada ukuran yang lebih aman bagi pengelolaan sumber daya air.
Ukuran air yang terpakai per menit
Secara teknis, setiap satu menit penggunaan pancuran air dapat menghabiskan sekitar 6 hingga 15 liter air. Karena itu, memperpanjang durasi mandi secara langsung berhubungan dengan peningkatan konsumsi harian yang semakin sulit diprediksi dan dikendalikan.
Riset juga menautkan kebiasaan mandi dengan target konsumsi air di masa depan. Dengan target konsumsi air harian sebesar 110 liter per orang pada tahun 2050, durasi mandi yang terlalu lama dikhawatirkan akan menghabiskan seluruh jatah anggaran air harian masyarakat.
Walker menegaskan bahwa pembentukan rutinitas mandi cenderung sangat personal dan berbeda antara satu orang dengan yang lain. Ia menyampaikan, “Rutin ini sering kali berakhir sangat berbeda dengan orang lain karena mandi sangat pribadi, artinya semua orang mengembangkan rutinitas mandi mereka tanpa mengetahui apa yang dilakukan orang lain, atau apa yang ‘normal’,”
Dengan demikian, perubahan yang diinginkan kampanye tidak hanya menyasar durasi semata, tetapi juga cara orang memandang kebiasaan yang selama ini dianggap wajar. Rekomendasi waktu 3 menit untuk mandi tubuh serta tambahan 2 menit saat mencuci rambut, diposisikan sebagai panduan praktis agar proses membersihkan diri tetap efektif tanpa membuat konsumsi air naik tidak terkendali.
Hasil kajian tersebut dirilis University of Surrey dan dikutip dari Daily Mail pada Minggu (6/9/2026). Intinya, studi mendorong kebiasaan mandi yang lebih terarah: lebih singkat, lebih efisien, dan lebih sadar terhadap dampak penggunaan air terhadap kebutuhan jangka panjang.












