jurnalistik.co.id – Stacie Matthias, ibu dari tiga anak, menggambarkan pikirannya seperti ruang kerja yang tak pernah benar-benar kosong. “My head’s always full,” katanya, “I go to sleep with a mental to-do list.” Ia sedang membicarakan konsep “mental load”: beban perencanaan, pengorganisasian, mengingat, dan mengantisipasi hal-hal kecil agar rumah tangga tetap berjalan.
Dalam praktiknya, “mental load” bisa berupa mengingat jadwal kunjungan sekolah, memeriksa pembaruan di grup WhatsApp orang tua, mengenali bagian rumah yang perlu dibersihkan, memantau berapa jam tidur anak, merencanakan janji dokter, hingga membeli seragam sekolah. Menurut akademisi, dalam pasangan heteroseksual beban semacam ini cenderung lebih sering dipikul perempuan—terutama para ibu—bersamaan dengan sebagian besar pekerjaan rumah yang sifatnya fisik.
“It’s that feeling of always having something to remember, organise or worry about that makes this time of year particularly full-on,” ujar Stacie. Saat anak-anak di Inggris baru kembali ke sekolah setelah libur musim panas, ia mengatakan bulan September terasa lebih “padat” karena ada banyak hal yang harus terus dikelola.
Stacie juga menjelaskan dampak emosionalnya dengan metafora yang terdengar akrab bagi banyak keluarga. Ia membandingkan daftar tanggung jawab itu dengan baskom yang terus diisi sepanjang hari. “If someone’s not helping you remove those pots and pans, your water’s overflowing by the end of the day,” katanya, “and you’re at tipping point.”
Studi yang dikutip dalam laporan ini menelusuri “mental load” melalui survei yang melibatkan 3.000 orang tua di Amerika Serikat. Para akademisi dari University of Bath dan University of Melbourne (seperti disebut dalam teks) menemukan bahwa ibu menangani 71% tugas rumah tangga yang membutuhkan upaya mental—misalnya mengingat kapan seprai dan handuk harus dicuci, atau mengetahui kapan makanan di lemari es perlu dimakan sebelum kadaluarsa.
Di sisi lain, penelitian tersebut menyebutkan ayah lebih sering mengambil tugas yang oleh peneliti digambarkan sebagai “episodic”: hal-hal yang muncul lebih jarang, seperti mengingat kapan mobil perlu diservis. Dengan kata lain, pola yang terlihat bukan sekadar soal siapa yang “mengerjakan”, tetapi juga siapa yang terus berada dalam mode memikirkan semuanya.
Profesor Leah Ruppaner dari University of Melbourne menyebut “mental load” sebagai pekerjaan yang sifatnya tidak terlihat, bertahan lama, dan tanpa batas yang jelas. “You don’t bring your dishes to work, but you bring the mental load everywhere,” ujarnya. Bagi banyak perempuan, inilah alasan kelelahan muncul bukan hanya karena rutinitas, melainkan karena otak terus bekerja bahkan saat tubuh sudah beristirahat.
Topik ini juga ramai dibahas di forum seperti Reddit dan Mumsnet. Di sana, perempuan mencari cara untuk berbicara dengan pasangan tentang rasa lelah ketika harus menanggung begitu banyak tanggung jawab sekaligus. Dalam wawancara, beberapa ibu mengatakan mereka sering menjadi “default parent” di kelompok WhatsApp sekolah—misalnya untuk urusan hari tanpa seragam, rencana kunjungan sekolah, ulang tahun, dan barang yang hilang—sementara pasangan mereka tidak ikut bergabung.
Sophia, ibu berusia 35 tahun dari tiga anak di Portsmouth, menceritakan bahwa ia membayar tiket kunjungan sekolah dan memesan makan siang anak lewat aplikasi resmi sekolah. Namun ia mengatakan suaminya tidak pernah mengunduh aplikasinya. Sophia beberapa kali mencoba menjelaskan konsep “mental load” kepada suaminya, tetapi ia merasa suaminya belum benar-benar memahami dan meremehkan kekhawatirannya sebagai “quick tasks”.
“They are quick tasks if you could just do the task,” jelas Sophia, “but I have to plan for the task, I have to anticipate the task, I have to be 10 steps ahead all the time.” Ia menegaskan bahwa bagian yang paling berat bukan hanya menyelesaikan pekerjaan, melainkan proses merancang, mengantisipasi, dan memastikan semuanya tidak terlewat sebelum hari H.
Sam Berry, wakil kepala sekolah, pembuat konten, dan ayah yang menikah dengan dua anak di London, juga mengaku pernah berada di posisi yang sama. Saat istrinya pertama kali mengangkat gagasan “mental load” setelah kelahiran anak sulung, ia mengatakan ia “didn’t really get it” dan “a bit defensive” karena ia merasa sudah banyak membantu—mulai dari mengganti popok, memberi makan bayi, dan aktivitas lainnya.
Berry menyatakan ia sempat menanyakan apa yang bisa ia lakukan untuk membantu. Tetapi menurutnya, pendekatan itu tetap membuat beban pemikiran kembali pada pihak lain. Ia kemudian memahami bahwa membantu bukan hanya soal menyelesaikan tugas yang diminta, melainkan menyerap konteks dan keputusan di balik tugas tersebut.
Seperti yang dijelaskan Stacie, ia selalu menyampaikan pada pasangannya: “If I have to ask you to do something, that’s just adding to my mental load.” Ia mengatakan butuh waktu—beberapa bulan—untuk Sam mengerti bahwa soal inti bukan hanya menyelesaikan pekerjaan rumah, melainkan “thinking around it”: tidak hanya memasak makan malam, tetapi memastikan apa yang ada di rumah, merencanakan menu, dan mengurus belanja.
Clinical psychologist Natasha Wallace menjelaskan bahwa sebagian perempuan datang dengan stres yang terasa menekan. “It’s often, for them, not one enormous stressor,” katanya, “It’s when they realise that they have hundreds of tiny demands on them and their brains and bodies just can’t switch off.” Ia menambahkan bahwa banyak perempuan berjalan dengan mode otomatis, sehingga sering tidak menyadari seberapa besar beban kognitif yang mereka bawa.
Wallace juga mengaitkan stres berlevel rendah yang konstan dengan dampak pada sistem saraf. Ia menyebut kondisi ini bisa berujung pada tidur yang buruk, menjadi mudah kesal, dan kelelahan membuat keputusan. Dalam narasi yang sama, beban mental yang terus dipikul disebut dapat menumpah ke area kerja.
Berita Terkait
Anita Cleare, pakar parenting dan penulis The Work/Parent Switch, menyatakan “overall cognitive drain” bisa merembet ke kehidupan kerja lalu mengarah pada burnout yang tidak berkelanjutan. Ia mengutip penelitian yang menemukan bahwa laki-laki dengan penghasilan lebih tinggi cenderung melakukan lebih sedikit kerja fisik dan kognitif terkait rumah tangga. Namun ketika penghasilan perempuan meningkat, mereka memang melakukan lebih sedikit pekerjaan rumah fisik, tetapi tetap membawa jumlah kerja kognitif yang sama.
Cleare menekankan bahwa perempuan sangat jarang merasa pilihan untuk keluar dari kehidupan keluarga benar-benar tersedia. Karena itu, “choice” lalu berubah menjadi apakah mereka melambatkan karier, bekerja paruh waktu, atau berhenti bekerja dan tinggal di rumah—sebagian besar perempuan akhirnya membuat keputusan itu, menurutnya, karena struktur yang memaksa.
“If you lower the domestic load, if you lower the mental load, you will create energy, capacity, interest in being able to perform more and better at work,” ujar Cleare. Ia merangkum hubungan antara pembagian beban di rumah dan kemampuan perempuan untuk berfungsi optimal di tempat kerja.
Menurut banyak ibu yang diwawancarai, ketimpangan sering bermula dari cuti melahirkan. Wallace menyebut bahwa karena perempuan biasanya mengambil waktu cuti melahirkan yang lebih lama daripada ayah mengambil cuti ayah, mereka lebih cepat menjadi “default parent”. “If you become the person who knows everything, knows where everything is and has in the past done everything, everybody starts coming to you for everything,” kata Wallace, “so you remain that central person even if you return to work.”
Dalam konteks Inggris, ibu dapat mengambil hingga 52 minggu cuti melahirkan berbayar, dengan 39 minggu di antaranya bisa dibayar. Ayah dapat mengambil hingga dua minggu cuti dengan statutory paternity pay. Orang tua juga bisa memakai shared parental leave, sementara sebagian pemberi kerja menawarkan cuti tambahan—meski umumnya banyak orang tetap mendapat penghasilan lebih rendah saat berada dalam masa cuti melahirkan atau ayah, sehingga memengaruhi berapa lama ayah mengambil cuti.
Cleare menyarankan tempat kerja bisa membantu dengan menampilkan contoh ayah yang benar-benar mengambil cuti ayah, bukan hanya “menyediakan” skemanya. Ia juga menyarankan adanya ekspektasi yang jelas tentang kapan karyawan bisa dihubungi dan dukungan untuk percakapan karier bagi perempuan. Ia menyebut bahwa faktor lain juga bisa terkait peran tradisional yang dianggap sudah “baku” dalam keluarga.
Zach Watson, ayah dari tiga anak yang sudah menikah dan pelatih di Amerika Serikat tentang berbagi “mental load”, menceritakan cerita keluarganya. Menurutnya, kakeknya mungkin tidak pernah memasak dalam kehidupan pernikahan, sementara ayahnya hanya melakukannya sedikit. Pada lima tahun pertama pernikahannya, istrinya yang lebih sering memasak; jika ia menawarkan diri, ia akan bertanya apa yang istrinya inginkan, dan Watson mengatakan pertanyaan semacam itu bisa saja menambah beban mental istrinya.
Watson belajar ia bisa mendatangi istrinya dengan opsi makan malam yang sudah ia cek dari isi lemari es, lalu memberi “default” bila istrinya ingin sepenuhnya keluar dari pengambilan keputusan. Namun jika ia perlu bantuan, bukan hanya bertanya “Where’s the ketchup?”, ia mengatakan ia bisa mencari cara yang lebih mengurangi kebutuhan pihak lain untuk terus berpikir dari awal.
Afua Williams, 40, ibu dari dua anak di London, juga mengingatkan realitas pembagian beban. “if you traditionally hold more of the mental load, you might need to accept that your partner may do things very differently, and it might not always go smoothly,” katanya. Bagi banyak pasangan, pergeseran kebiasaan itu bisa terasa canggung sebelum akhirnya menjadi lebih seimbang.
Tips meringankan beban
Beberapa narasumber BBC News membagikan pendekatan agar “mental load” lebih terbagi. Wallace menekankan komunikasi yang jelas tentang perasaan dan dampak beban mental yang dipikul. Zach menyebutnya “labelling”, yaitu membuat tenaga kognitif dan emosional yang biasanya tidak terlihat menjadi sesuatu yang bisa dikenali.
Wallace juga mengingatkan agar percakapan tidak dilakukan saat sedang marah atau kewalahan, karena bisa terasa seperti menyalahkan atau mengkritik pihak lain. Ana Catalano Weeks, co-author sebuah studi tentang bagaimana “mental load” memengaruhi pekerjaan, menyarankan, “See what you can offload”.
Gagasan “offload” bisa berarti menimbang ulang kebutuhan mengurus kartu ulang tahun fisik untuk teman-teman anak, atau mematikan notifikasi dari grup WhatsApp orang tua lalu fokus pada email sekolah yang bersifat resmi. Selain itu, lakukan check-in rutin dengan pasangan—bisa harian, mingguan, atau musiman—agar keputusan tidak selalu menumpuk di satu orang.
Membangun kalender bersama juga membantu semua orang mengetahui ulang tahun, pertemuan sekolah, dan urusan lain yang relevan. Wallace menambahkan bahwa tanggung jawab sebaiknya diambil sampai tuntas, dari awal hingga selesai, tanpa perlu menunggu pengingat terus-menerus.
Cleare memperingatkan agar tidak terjebak “efficiency trap”, yaitu mengira solusi cukup dengan menjadi lebih terorganisir. “Remember that what matters most as a parent are moments of connection with your child – not eating certain vegetables,” ujarnya, sehingga standar yang terlalu kaku tidak lagi menghabiskan energi mental yang seharusnya dipakai untuk hal-hal penting.












