Pendidikan

Apa penyebab masih banyak warga kulit hitam di Inggris belum bisa berenang

×

Apa penyebab masih banyak warga kulit hitam di Inggris belum bisa berenang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why so many black Britons still don't swim

jurnalistik.co.id – Di balik pintu kolam, bau klorin langsung menyerang indra penciuman. Rasanya seperti peringatan lama yang kembali: alasan mengapa saya belum juga jadi orang yang pergi berenang, meski pelajaran pertama saya dimulai lagi setelah lebih dari 10 tahun. Begitu masuk ke air, saya melihat sekeliling: ada perempuan-perempuan kulit hitam lain yang ikut kelas renang, dengan kemampuan yang beragam—ada yang sudah bisa menempuh beberapa panjang, sementara yang lain masih berusaha merasa “rumah” di dalam air.

Pada usia 27 tahun, saya masih belum bisa berenang. Dan saya tidak sendirian. Kemampuan berenang ternyata tidak tersebar merata di populasi. Data yang dihimpun Swim England—lembaga pengatur olahraga renang—berdasarkan survei terhadap 4.500 orang, menunjukkan orang-orang dari kelompok tertentu jauh lebih kecil kemungkinannya mampu berenang. Kelompok itu mencakup masyarakat miskin, Muslim, orang keturunan Asia Selatan, serta anak-anak yang dikenal berada dalam sistem pengasuhan sosial.

Dalam pengalaman saya, angka-angka untuk komunitas kulit hitam selalu paling menonjol. Menurut Swim England, 67% perempuan kulit hitam dan 44% laki-laki kulit hitam di Inggris tidak bisa berenang 25 meter tanpa bantuan. Angkanya jauh lebih tinggi dibanding rata-rata nasional, apalagi jika dibandingkan dengan warga kulit putih: 17% perempuan kulit putih dan 12% laki-laki kulit putih tidak mampu berenang 25 meter tanpa bantuan. Publikasi itu dirilis pada 2022, dan di balik angka tersebut ada beragam cerita yang berbeda-beda.

Musim panas Inggris yang sangat panas juga ikut menghadirkan berbagai kabar duka akibat kecelakaan di perairan. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kematian tragis terjadi di danau, sungai, dan laut—dan tren itu berpotensi turut memengaruhi angka keseluruhan korban tenggelam tahunan di Inggris. Tidak ada data resmi untuk 2026, tetapi pada tahun-tahun sebelumnya, anak-anak dan orang dewasa kulit hitam kerap tercatat melebihi proporsi dalam statistik tenggelam, bersama kelompok lain yang juga disebut dalam data Swim England.

Dari sini muncul pesan yang terasa keras: belajar berenang itu penting. Secara umum, semua anak di Inggris diharapkan keluar dari sekolah dasar sudah mampu berenang. Namun pertanyaan yang kembali mengganjal adalah: mengapa masih banyak orang kulit hitam yang tidak bisa berenang?

Mitologi yang bertahan lama

Masalah ini bukan fenomena baru, tetapi tetap belum sepenuhnya dijelaskan. Ada salah satu mitos yang beredar sangat lama: anggapan bahwa orang kulit hitam memiliki tulang yang lebih padat sehingga lebih sulit mengapung. Kesimpulan semacam itu pernah jadi “penjelasan” yang berulang dari generasi ke generasi.

Pada 2023, University of Portsmouth, Royal National Lifeboat Institution (RNLI), dan Black Swimming Association (BSA) bersama-sama menguji mitos tersebut. Mereka ingin menelusuri klaim yang menyebut orang kulit hitam lebih sulit mengapung karena kepadatan tulang. Namun, studi di Portsmouth justru menemukan bahwa kepadatan tulang tidak bisa meramal kemampuan seseorang untuk mengapung.

Dalam studi yang melibatkan 101 peserta, 89 orang dapat mengapung tanpa bantuan selama dua menit. Dengan kata lain, kemampuan mengapung tidak dapat dijelaskan semata oleh faktor kepadatan tulang.

Menariknya, mitos itu punya akar panjang. Catatan Eropa yang muncul sejak abad ke-15 pernah menggambarkan sejumlah warga Afrika Barat sebagai perenang dan penyelam yang sangat terampil. Tetapi penyingkiran dan pengecualian akses ke kolam renang di beberapa negara—termasuk Amerika Serikat—membantu membentuk gagasan bahwa orang kulit hitam adalah perenang yang buruk.

Pada 1974, hanya beberapa tahun setelah berakhirnya segregasi di AS, sebuah artikel dari dua dokter kulit putih di jurnal medis terkemuka mengajukan pertanyaan, “Can Blacks Float?” Mereka menyimpulkan orang kulit hitam “lebih kurang” buoyant atau daya apungnya lebih rendah. Padahal, hasil studi Portsmouth justru menolak hubungan sederhana antara kepadatan tulang dan kemampuan mengapung.

Menurut Alice Dearing—perenang Olimpiade yang juga merupakan co-founder BSA—sejarah di Amerika Serikat mungkin meninggalkan jejak yang ikut merembes ke sebagian budaya Inggris. Sebagian orang kulit hitam, katanya, memiliki keyakinan yang “tertanam” untuk berpikir mereka tidak bisa berenang.

Dearing juga menekankan bahwa pengalaman diskriminatif bisa membentuk cara seseorang memandang aktivitas air. Ia pernah menghadapi perlakuan yang menyakitkan ketika remaja: pada usia 17 tahun, seorang pelatih menggunakan hinaan rasial terhadapnya di hadapan peserta renang lain. Ia sempat mengadukan hal itu ke klub dan sekolah renangnya, tetapi akhirnya memilih tidak memperpanjang urusan tersebut.

Dalam kutipannya, Dearing mengatakan, “Why am I being victimised for swimming and for being black? It just didn’t make sense.” Pengalaman seperti itu, menurutnya, bisa membentuk bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri ketika berada di air.

Heather Massey, profesor fisiologi di University of Portsmouth yang terlibat dalam studi mengapung, menambahkan bahwa penting untuk menggugat mitos tersebut. Ia mengingatkan: jika orang percaya mereka tidak bisa mengapung, mereka mungkin menyingkirkan informasi yang sesungguhnya bisa menyelamatkan nyawa. Menurut Massey, masyarakat perlu memastikan pesan yang benar tersebar luas.

Pengaruh keluarga: dari siapa belajar

Bagi sebagian besar anak di Inggris, renang bermula dari keluarga. Ketika orang tua bisa berenang, anak-anak tumbuh dengan melihat air sebagai sesuatu yang akrab. Namun bila orang tua tidak pernah belajar berenang, anak-anak cenderung terlambat mulai ikut pelajaran renang.

Pola itu juga terlihat dalam kisah penulis BBC yang mengikuti kelas renang setelah lama vakum. Di lingkungan keluarganya, tidak ada yang bisa berenang. Ia mengatakan ia berasal dari keluarga yang seluruh anggotanya bukan perenang: dari lima saudara, tidak ada yang mampu berenang, demikian pula orang tuanya. Mereka tetap bisa menikmati hari-hari di pantai, tetapi bentuknya lebih banyak berjalan di tepi laut atau hanya bermain di bagian dangkal.

Hal serupa muncul dalam cerita Nathaniel Cole, co-founder Swim Dem Crew, kelompok renang yang mendorong lebih banyak orang berwarna untuk masuk ke air. Ia mengingat pernah melatih anak-anak ketika orang tua mereka tidak bisa berenang. Cole pun mendorong anak-anak untuk masuk ke kolam bersama orang tua setelah pelajaran.

Tetapi, pada akhirnya, orang tua tersebut berkata, “But then the parents would be like, ‘Well, I can’t swim’.” Bagi Cole, fakta orang tua tidak bisa berenang dapat membuat air terasa berbahaya. Ia menjelaskan, “Swimming underwater is something to be avoided. You don’t go in there, there’s danger. And unfortunately that’s driven from parents that can’t swim.”

Pengalaman Dearing berbeda. Ia menuturkan ibunya tumbuh besar berenang di lautan di Accra, Ghana. Ketika pindah ke Inggris, ibunya bertekad memastikan semua anaknya bisa berenang. Renang pun diwariskan di keluarga Dearing—sementara dalam cerita Cole, tidak semua keluarga memiliki pola yang sama.

Cole menilai, bagi mereka yang tidak belajar sejak kecil, memulai di usia yang lebih belakangan bisa terasa sangat “mengekspos”. Ia menggambarkan, menjadi perenang pemula membuat seseorang dibuat rendah hati di hadapan air, dan menuntut kerentanan yang nyata.

Perbedaan kelas dan jarak fasilitas

Penghalang untuk belajar berenang justru mulai jauh sebelum seseorang benar-benar berada di kolam. Bagi Kevin Hylton, emeritus professor kesetaraan dan keberagaman dalam olahraga di Leeds Beckett University, akar persoalannya bisa ditelusuri sejak kecil.

Ia menceritakan dibesarkan dalam keluarga Karibia kelas pekerja, di mana berenang bukan kegiatan yang dilakukan. Ia menyebut hampir tidak ada waktu luang untuk berkumpul dalam aktivitas keluarga, dan kegiatan seperti berenang umumnya ditempuh melalui sekolah.

Ketiga anaknya memiliki pengalaman yang berlainan. Pada saat itu, ia dan pasangan memiliki pendapatan yang lebih longgar dan tinggal lebih dekat dengan fasilitas renang. Menurut Hylton, bedanya bukan semata soal etnis, tetapi soal kelas, juga lokasi serta kedekatan akses ke fasilitas renang.

Ia menilai kesenjangan itu tercermin dalam data. Menurut Sport England, 47% anak dan remaja di wilayah dengan kondisi paling tidak mampu bisa berenang 25 meter, sementara di wilayah yang paling tidak tertinggal angkanya 69%. Akses kolam yang terbatas dapat membuat jurang itu lebih sulit ditutup.

Sejak 2010, lebih dari 500 kolam renang publik ditutup di seluruh Inggris. Swim England dan ukactive—organisasi sektor gym dan pusat rekreasi—mencatat hampir setengah penutupan terjadi sejak 2020. Badan amal juga menggolongkan seperlima otoritas setempat sebagai “water deprived”, yang berarti mereka tidak memiliki cukup ruang kolam renang untuk menyesuaikan populasi.

Hambatan khas pada komunitas kulit hitam

Namun, bahkan ketika faktor kelas diperhitungkan, persoalan khusus tetap muncul di kalangan orang kulit hitam. Pada 2022, Swim England juga melihat kondisi warga di lingkungan yang paling tidak mampu. Rata-rata, 73% orang dewasa di wilayah yang lebih miskin mampu berenang 25 meter. Tetapi untuk orang dewasa kulit hitam di lingkungan tersebut, angkanya hanya 38%.

Selain hambatan akses, ada faktor budaya yang kerap menjadi “duri” tersendat. Dalam survei 2023 oleh BSA yang melibatkan lebih dari 1.400 orang, 33% responden kulit hitam di Inggris menyebut masalah terkait rambut sebagai penghalang untuk masuk kolam.

BSA menuliskan bahwa “traditional aquatic headwear”, seperti penutup kepala renang, tidak dirancang untuk anak-anak dengan rambut afro yang lebih panjang dan lebih tebal. BSA juga menyebutnya tidak mengakomodasi gaya rambut tradisional kulit hitam, termasuk kepang (braids), dreadlocks, dan twis dengan tambahan ekstensi.

Perubahan saat mulai bisa

Kembali ke kelas renang, ketakutan penulis belum langsung hilang. Tetapi sesuatu berubah perlahan. Ia mulai bisa mengapung—pertama di posisi telentang dan kemudian juga terlentang. Ia mengerjakan hal-hal yang dulu tidak ia pikirkan bisa dilakukan. Entah bagaimana, ia justru menikmati prosesnya.

Rasa takutnya berawal sejak pelajaran renang yang bersifat wajib di sekolah dasar. Ia datang membawa “anti-drowning armour” yang ia sebut sendiri: armband, pelampung, kacamata renang, dan topi renang. Namun perlengkapan itu tidak cukup membuatnya merasa aman. Ia menggambarkan di kolam ada banyak anak dengan level berbeda-beda, tetapi yang ia rasakan lebih dekat pada rasa kewalahan, bukan bimbingan yang benar-benar mengajar.

Renang akhirnya menjadi sesuatu yang identik dengan ketakutan. Tetapi di kelas, instruktornya—Omie Dale—memberi penyemangat ketika penulis mulai bisa mengapung. Omie berkata, “See, you can do it, you’re floating,” dengan nada bangga.

Penulis menegaskan bahwa renang berbeda dari olahraga lain: keterampilan yang tidak dipelajari bisa berdampak jauh melampaui sekadar kehilangan kesempatan berolahraga. Database Kematian Anak Nasional Inggris menemukan bahwa anak-anak kulit hitam memiliki risiko tenggelam lebih dari tiga kali dibanding anak-anak kulit putih pada periode 2019 hingga 2025.

Dengan berbagai temuan, dari mitos yang telah diuji hingga hambatan keluarga, kelas, lokasi, dan faktor budaya, satu kesimpulan yang terasa kuat adalah kebutuhan untuk memberi informasi yang tepat dan akses yang lebih adil agar kemampuan berenang tidak menjadi hak istimewa bagi sebagian kelompok saja.