Pendidikan

Yang perlu dilakukan sebelum hari pengumuman hasil: maksimalkan university clearing untuk peluang masuk kampus

×

Yang perlu dilakukan sebelum hari pengumuman hasil: maksimalkan university clearing untuk peluang masuk kampus

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: What to do before results day to get the most out of university clearing

jurnalistik.co.id – Menjelang hari pengumuman hasil pada Kamis, 13 Agustus, banyak calon mahasiswa masih membuka kemungkinan untuk melanjutkan studi lewat skema university clearing. Proses ini bisa menjadi jalan ketika rencana awal tidak berjalan sesuai harapan.

Dalam clearing, universitas dan perguruan tinggi yang masih memiliki kuota akan mengisi kursus yang tersisa. Selain itu, mahasiswa juga dapat mengubah pilihan program atau tempat belajar mereka setelah hasil diumumkan.

Apa itu university clearing dan kapan periode berjalannya

Clearing adalah mekanisme untuk mengisi slot yang masih kosong, sekaligus memberi kesempatan perubahan studi. Tahun ini, clearing berlangsung dari 2 Juli hingga 19 Oktober.

Mahasiswa bisa menggunakan clearing apabila memenuhi salah satu situasi berikut: mengajukan permohonan setelah 30 Juni, tidak mendapatkan tawaran apa pun atau tidak menerima tawaran yang tersedia, tidak memenuhi syarat pada tawaran yang sebelumnya diterima, menolak tempat studi utama melalui tombol “decline my place”, belum memegang tawaran dari universitas atau kampus mana pun tetapi kursusnya masih memiliki tempat, atau ingin mengambil pilihan “insurance” alih-alih “firm”.

Clearing juga relevan bila performa akademik ternyata lebih baik dari perkiraan sehingga ingin masuk ke universitas berbeda. Intinya, skema ini dirancang untuk menangkap peluang yang muncul setelah hasil resmi keluar.

Langkah yang bisa dilakukan sebelum hari pengumuman hasil

Persiapan sebaiknya dimulai sebelum keputusan benar-benar final. Seorang konsultan pendidikan dan kreator konten, Clementine Wade, menyarankan calon mahasiswa menuliskan seluruh kemungkinan skenario hasil, lalu menyiapkan alternatif untuk masing-masing skenario.

Contohnya, ia mengilustrasikan bahwa tergantung hasil, pilihan program bisa berbeda-beda—mulai dari memadankan jurusan dengan universitas tertentu bila target nilai tercapai, hingga menyesuaikan rencana bila nilai berada di rentang lain. Dengan cara ini, calon mahasiswa tidak mulai dari nol saat clearing dibuka.

Untuk mencari opsi yang masih menerima pendaftar, UCAS menyediakan alat pencarian kursus. Wade menekankan bahwa daftar kekosongan resmi adalah yang paling mutakhir, sehingga calon mahasiswa perlu memanfaatkan fitur tersebut untuk menyaring pilihan berdasarkan tahun studi, jenis program, serta ketersediaan clearing.

Jika calon mahasiswa ragu pada pilihan program yang ada, Wade juga mengingatkan pentingnya berdiskusi lebih dulu dengan penasehat tepercaya, seperti anggota keluarga atau guru. Ia menilai banyak orang yang masuk melalui clearing adalah pelamar pertama kali, sehingga perbincangan awal bisa membantu menentukan arah dengan lebih matang.

Pengalaman mahasiswa dan pelajaran dari proses clearing

Haadi Nasir, mahasiswa Universitas Manchester, termasuk yang memanfaatkan clearing setelah rencana semula berubah. Ia awalnya ingin mengambil gap year setelah A-levels, tetapi akhirnya terdorong untuk masuk kuliah setelah meraih “great grades” berkat dukungan keluarga dan teman.

Pada hari pelaksanaan, Nasir mengisi formulir UCAS dengan bantuan guru A-level. Ia kemudian mengajukan clearing untuk enam universitas dan memilih Universitas Manchester untuk belajar politik dan sejarah modern.

Nasir menyoroti salah satu keunggulan clearing: “The good thing about clearing is that you can apply to as many universities as you want, unlike with Ucas, where you are limited to five,” katanya. Ia menambahkan, “That was definitely stress-relieving,” sehingga menggambarkan clearing sebagai upaya yang lebih menenangkan ketika rencana awal tidak sesuai.

Bagi mereka yang masih bimbang, Nasir menyarankan untuk mengajukan permohonan UCAS “just in case” guna mengurangi tekanan pada hari pengumuman. Saran ini juga selaras dengan pandangan Wade.

Wade menegaskan bahwa proses clearing menuntut adanya “referee”, sehingga hal tersebut perlu dikerjakan lebih awal. Ia menjelaskan, “You will need a referee, which is why I’d suggest doing it now.” Dalam situasi ketika perlu menghubungi guru untuk menambahkan referensi, Wade menyebutkan bahwa pengiriman ke UCAS baru bisa dilakukan setelah seluruh bagian terkumpul.

Nasir juga menyatakan ia berharap lebih siap sejak awal. Karena itu, ia menyarankan calon mahasiswa menuliskan catatan tentang lokasi, akomodasi, dan biaya untuk setiap universitas yang akan dihubungi. Ia menekankan pentingnya mengecek kelayakan sebelum menelepon, termasuk memastikan persyaratan spesifik seperti nilai A-level yang dibutuhkan agar tidak membuang waktu.

Cara kerja clearing pada hari pengumuman hasil

Pada hari results day, UCAS melakukan pembaruan pada pukul 08:00. Karena itu, sebagian orang bisa mengetahui status diterima pada pilihan utama mereka sebelum hasil resmi benar-benar dipahami sepenuhnya.

Meski demikian, Wade menyarankan calon mahasiswa menahan diri untuk tidak langsung membuka UCAS. Ia mengatakan, “I would say try and steer away from the temptation, get your results in hand and then look at your Ucas track, because then you can action that decision as opposed to having 90 minutes of freak-out.”

Jamie Bradford, kepala future students di Leicester De Montfort University, menambahkan bahwa percakapan mengenai clearing akan lebih mudah bila calon mahasiswa sudah memegang hasil. Ia menjelaskan bahwa sebelum menambahkan pilihan clearing di UCAS, calon mahasiswa harus menghubungi universitas atau kampus terlebih dahulu dan memberikan clearing number serta personal ID agar pihak kampus dapat menemukannya.

Bradford juga menilai masih ada banyak siswa yang ternyata tidak membahas kursus atau tempat belajar dengan detail. Ia mengingatkan bahwa keputusan ini berdampak besar karena menyangkut perjalanan studi yang panjang: “All they want is just the offer – ‘I’ve got these grades, can you take me?’ – in reality, it’s three or more years of your life. The university is a big decision.”

Karena itu, Bradford menyarankan mahasiswa menanyakan hal-hal yang berkaitan langsung dengan pengalaman sehari-hari, kondisi kampus, serta ketersediaan akomodasi. Ia juga menganjurkan membuat daftar prioritas, karena tujuannya bukan sekadar mendapatkan tawaran, melainkan memastikan kecocokan antara mahasiswa dan program yang dipilih.

Menyusun strategi pertanyaan dan menentukan keputusan dengan tenang

Wade menyarankan calon mahasiswa menyiapkan daftar alternatif dan, setelah menerima tawaran serta membahas student finance bersama pihak kampus, memberikan jeda untuk berdiskusi dengan orang yang dipercaya. Ia menekankan bahwa keberanian untuk menelepon universitas itu penting.

Ia menyampaikan, “I know it feels scary, but you are the client, you do get to ask these questions.” Ia juga memberi contoh pendekatan yang lebih sederhana: “You don’t even need to ring this university to say, ‘Can I get into this course, please?’ You could say, ‘Hey, what course could you offer me?’ Because you know what, universities need these students.”

Beberapa universitas, termasuk Leicester De Montfort, menjalankan clearing lewat telepon dan juga WhatsApp. Informasi kanal komunikasi semacam ini dapat menjadi nilai tambah agar calon mahasiswa bisa merespons cepat dan tetap terarah.

Berapa lama waktu yang tersedia untuk menerima tawaran

Tawaran clearing bisa bergerak cepat, terutama untuk program yang populer. Bradford menekankan bahwa banyak siswa “can’t afford” untuk berpikir berhari-hari karena kursus bisa segera penuh.

Wade menambahkan bahwa setiap universitas memiliki durasi berbeda untuk menerima tawaran pada hari results day. Ia menyarankan calon mahasiswa menanyakan secara langsung berapa waktu yang tersedia, serta memahami bahwa universitas yang lebih selektif cenderung memberi waktu lebih singkat.

Secara umum, Wade mengusulkan untuk “sleep on it”. Ia menyebut kebanyakan universitas biasanya memberi sejumlah waktu, tetapi pertanyaan tersebut tetap perlu diajukan di telepon agar keputusan dibuat dengan informasi yang tepat.