jurnalistik.co.id – Di awal Juli 2026, Kota Mataram menjadi titik temu berbagai komunitas literasi saat Kemah Literasi NTB 2026 berlangsung. Di Kompleks Pramuka Jaka Mandala, tenda-tenda berdiri rapi dan suasana riuh terasa sejak pagi hingga malam, ketika para peserta saling berkenalan, bercengkerama, dan mengisi waktu bersama selama tiga hari.
Kegiatan ini tidak berhenti pada agenda formal. Dalam bingkai kebersamaan, peserta merasakan langsung bagaimana ruang diskusi dan permainan dapat menjadikan literasi bagian dari keseharian, bukan sekadar aktivitas yang dibatasi ruang kelas atau pertemuan sekali waktu.
Kemah Literasi NTB 2026 dilaksanakan 3 hingga 5 Juli 2026. Acara dibuka secara resmi dan dihadiri Gubernur NTB serta bunda literasi (Arpusda NTB), menegaskan bahwa tema literasi sedang didorong sebagai gerakan yang melibatkan banyak unsur di tingkat wilayah.
Melalui kemah ini, inisiatif Bunda Literasi Provinsi NTB memunculkan sejumlah program strategis yang saling melengkapi. Sejumlah agenda yang diperkenalkan meliputi Gerakan Hibah Sejuta Buku (HIBAH SAKU), Deklarasi Relawan GELITRA NTB, serta penyerahan simbolis donasi buku.
Bunda Literasi Provinsi NTB, Sinta M. Iqbal, menekankan bahwa keberhasilan gerakan literasi tidak dapat dicapai tanpa kerja relawan yang konsisten. Menurutnya, para pegiat literasi telah menunjukkan kepedulian yang besar terhadap masa depan anak-anak NTB, mulai dari keterlibatan hingga upaya mendekatkan kegiatan literasi ke berbagai penjuru.
“Ternyata memang teman-teman relawan ini luar biasa bergeraknya. Saya kalau dapat laporan ada relawan yang di ujung desa sudah melakukan kegiatan, rasanya saya suka pengen nangis. Betapa memang teman-teman ini mencintai generasi muda NTB dengan hati,” ujar Sinta dengan suara bergetar haru.
Berita Terkait
Ia juga mengakui bahwa perhatian publik terhadap isu literasi belum sebanding dengan besarnya tantangan yang perlu dijawab. Karena itu, Kemah Literasi 2026 diarahkan untuk menyatukan langkah penggerak, mulai dari level provinsi hingga kabupaten/kota, agar bergerak dalam satu visi yang sama.
“Hari ini kita ingin menyamakan langkah, kita ingin bergerak bersama agar teman-teman tidak pernah merasa sendiri,” tegasnya.
Salah satu fokus utama dalam kegiatan tersebut adalah peluncuran Gerakan Literasi Tradisional, yang dikenal sebagai GELITRA. Program ini hadir sebagai jawaban atas situasi nyata yang dihadapi, termasuk kesenjangan antargenerasi yang makin terasa di tengah derasnya arus transformasi digital.
GELITRA tidak diposisikan semata-mata sebagai ajakan membaca buku. Gerakan ini menempatkan buku sebagai teman dalam perjalanan, diskusi sebagai ruang untuk bertukar pikiran, serta budaya lokal sebagai media belajar yang dapat dibuat lebih dekat dan menyenangkan bagi anak-anak.
Dalam praktiknya, kemah menjadi salah satu cara untuk memperlihatkan bagaimana literasi tradisional dapat hidup bersama peserta. Selama tiga hari kegiatan berlangsung, nuansa kebersamaan tampak dari cara peserta saling menyapa dan berbagi pengalaman, seolah literasi juga dapat hadir dalam bentuk aktivitas yang hangat dan tidak kaku.
Melalui rangkaian program yang diluncurkan di kemah ini, literasi di NTB diarahkan agar terus bertumbuh menjadi gerakan bersama. Dengan adanya deklarasi relawan, hibah buku, dan dukungan yang dikuatkan secara simbolis, harapannya upaya pelibatan masyarakat dapat berjalan lebih terarah dari tingkat provinsi hingga ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Pada akhirnya, Kemah Literasi NTB 2026 menegaskan bahwa “lilin-lilin” literasi tetap perlu dijaga agar tidak padam oleh perubahan zaman. Di tengah dominasi informasi instan dan teknologi digital, semangat GELITRA memberi ruang agar nilai budaya lokal dan kebiasaan berdiskusi tetap menjadi bagian penting dari proses belajar generasi muda.












