jurnalistik.co.id – Mantan murid unit rujukan pendidikan di Gwynedd menceritakan pengalaman pelecehan dan kekerasan yang mereka alami saat masih anak-anak. Dalam rangkaian klaim kompensasi, mereka menyebut tindakan yang menurut mereka dilakukan bukan sebagai hukuman, melainkan “hiburan” staf.
Brendon Williams, BBC Wales, dan BBC melaporkan bahwa salah satu kesaksian berasal dari Rhiannon Evans yang saat itu berusia 10 tahun dan kini berusia 27 tahun. Sementara itu, Levi Lewis menceritakan pengalamannya sebagai anak berusia empat tahun. Peristiwa tersebut dikaitkan dengan Canolfan Brynffynnon di Y Felinheli, yang ditutup pada 2014 setelah tuduhan perlakuan buruk oleh staf.
“Dibuat makan biskuit anjing” dan minuman blackcurrant
Rhiannon mengatakan ia dipaksa makan biskuit anjing dari lantai. Ia juga menceritakan bahwa satu pint jus blackcurrant dituangkan ke kepala. Ia menuturkan, “I was sticky all afternoon” dan mengatakan setelah pulang ke rumah, neneknya langsung memandikannya. Menurutnya, bau blackcurrant tertinggal “for a good few days”.
Ia menyebut tindakan tersebut bagian dari pola yang lebih luas di unit tersebut. Rhiannon mengatakan, “Every day there was something going on, from kids dragged down a corridor to kids being made to eat dog biscuits from a floor,” dan menambahkan bahwa ia mengingat detail biskuit yang dilempar: “It was a Bourbon chocolate biscuit.”
Ia juga mengaitkan pengalaman masa kecilnya dengan rasa takut yang masih membekas hingga dewasa, termasuk dampak emosional jangka panjang. Rhiannon menggambarkan dirinya sebagai “an innocent child serving a prison sentence” dan menyebut, “I don’t think that damage can ever be undone – ever. The emotional trauma will never leave me, unfortunately.”
Rhiannon menyatakan, saat ia pertama kali dikirim ke Brynffynnon, ia berasal dari Caernarfon dan ditempatkan di sana karena “behavioural issues” di sekolah dasar. Ia menyebut bahwa kehidupannya berbeda karena ia diasuh oleh kakek-nenek, dan ia merasa menjadi sasaran perundungan.
Perilaku disiplin lain: toilet gelap, hidung berdarah, dan permainan yang melukai
Kesaksian Rhiannon juga menyebut mekanisme disiplin yang ia gambarkan sebagai pengalaman menakutkan, termasuk penguncian di toilet gelap. Ia mengatakan anak-anak yang menunjukkan kemajuan di unit tersebut dapat kembali mengunjungi sekolah utama, tetapi bila laporan di sekolah membawa kabar buruk, mereka “punished” saat kembali ke Brynffynnon.
Di bagian ini, Rhiannon menuturkan contoh perlakuan yang ia sebut sebagai hukuman: “And that could be from getting locked in a bathroom with the light switched off,” lalu ia menambahkan cara lain yang ia gambarkan terjadi saat jam-jam setelahnya: “we would get tyres stacked on us with only our heads stuck out, and then they would kick footballs at our heads – like rock hard solid footballs.”
Levi Lewis, yang pada 2009 dikirim ke unit tersebut dari tempat penitipan anak (nursery) saat berusia empat tahun, menggambarkan bahwa beberapa bulan pertama tampak “okay”. Namun ia mengatakan, “Then things started happening,” dan ia menyebut bahwa ingatan paling awal mengenai kekerasan adalah “being made to eat dog biscuits” sejak awal perubahan buruk tersebut.
Levi mengatakan ia masih mengingat bentuk dan warna biskuit itu, sehingga ketika melihatnya lagi di toko ia merasa mual. Ia juga menceritakan ia kerap mengalami kekerasan fisik lain, termasuk diseret di koridor dengan rambut dan dikurung di toilet gelap selama “hours and hours”.
Ia menuturkan bahwa bila ia berbuat “misbehaved”, staf akan membawanya ke kantor, kadang bahkan di dalam kelas dan di depan orang lain. Levi menyebut tindakan “flick my nose so hard to the point where it just started pouring with blood,” serta mengatakan ia hingga kini masih menghadapi masalah ketika hidungnya berdarah “just randomly”.
Levi juga menyebut ia takut pada bola sepak karena ia pernah dilempar dan mengenai kepala. Ia mengatakan kukunya pernah ditekan ke kepalanya (knuckles dug into his head). Ia menambahkan, “I still get night terrors sometimes,” dan menggambarkan bahwa pada usia sekitar 11 atau 12 tahun, kejadian itu bisa hampir setiap malam, membuatnya bangun dengan keringat dingin dari mimpi buruk tentang apa yang dilakukan kepadanya.
Klaim 21 orang, pengacara Katherine Yates, dan penyelesaian senilai ÂŁ10.000
Menurut laporan yang sama, pengacara Katherine Yates menyampaikan bahwa 21 orang saat ini sedang memperjuangkan klaim. Dalam proses tersebut, dua orang dilaporkan menyepakati settlement sebesar ÂŁ10.000 dengan otoritas setempat untuk perawatan yang mereka katakan alami dari staf.
Katherine Yates juga disebut mewakili pihak-pihak lain dalam perkara terkait, termasuk dalam kasus yang menyoroti Neil Foden.
Perkara hukum terhadap staf dan kasus Neil Foden
Terkait proses pidana, pada 2016 dua mantan staf Brynffynnon dilaporkan menghadapi dakwaan cruelty terhadap anak, namun dakwaan tersebut akhirnya dijatuhkan. North Wales Police menyebut bahwa jaksa penuntut umum menilai kasus tidak lagi memenuhi ambang batas untuk persidangan pidana. Levi dan pihak-pihak terkait menyebut bahwa para terdakwa terus menolak tuduhan dan menunjuk pada penghentian perkara pidana tersebut.
BBC juga menempatkan cerita ini dalam konteks perkara lain yang lebih luas. Pada kasus terpisah, Neil Foden—yang dalam pemberitaan digambarkan sebagai kepala sekolah dengan catatan kejahatan seksual terhadap anak—dijatuhi hukuman penjara 17 tahun pada 2024. Ia dinyatakan bersalah atas pelecehan seksual terhadap empat anak perempuan selama periode empat tahun. Foden disebut pernah memimpin dua sekolah Gwynedd lain, dan sebuah tinjauan kemudian menemukan lebih dari 50 kesempatan yang terlewat untuk melakukan intervensi dan menghentikan tindakan tersebut.
Permintaan inquiry dan respons Cyngor Gwynedd
Dalam pernyataannya, Cyngor Gwynedd mengakui adanya pelecehan yang dialami para murid. Council meminta maaf kepada korban dan menyebut, “No child should have to suffer abuse of any kind, and although these cases go back several years, we extend our sympathies to the victims and apologise to them.”
Cyngor Gwynedd juga menyatakan bahwa tinjauan baru telah dipesan untuk memastikan pelajaran yang didapat pada waktu itu terus diterapkan hingga saat ini. Mereka menyebut seluruh aspek pengaturan perlindungan anak di Gwynedd “completely reviewed and strengthened” sejalan dengan rekomendasi laporan “Our Bravery Brought Justice” yang diterbitkan pada 2025.
Dalam tindak lanjut klaim, council dilaporkan menerima 10 klaim formal, dan sembilan di antaranya telah diselesaikan. Juru bicara juga menyebut bahwa dalam beberapa kasus, klaim kompensasi dapat disepakati agar korban menghindari proses pengadilan yang tidak perlu. Disebutkan pula bahwa penanggung independen bertanggung jawab untuk menyelidiki klaim kompensasi dan memutuskan langkah berikutnya sesuai hukum.






