jurnalistik.co.id – Thomas Pearce, remaja berusia 19 tahun dari Old Colwyn, Conwy, menceritakan bahwa keinginannya menjadi dokter lahir dari pengalaman langsung terhadap dokter-dokter yang pernah menanganinya.
Ia memiliki sindrom Pfeiffer, kondisi langka yang sejak awal mengubah pertumbuhan tulang tengkorak saat ia masih berada di dalam kandungan.
Menurutnya, justru rasa hormat pada para ahli bedah yang menolongnya membuat ia ingin membalasnya dengan memilih jalan medis.
Sindrom Pfeiffer yang dialami Pearce menyebabkan tulang tengkorak menyatu lebih cepat di dalam rahim, sehingga bentuk kepala dan wajah menjadi tidak seperti biasanya.
Ia menyebut Pfeiffer Syndrome Type 2 sebagai salah satu bentuk yang paling serius.
“Ini berarti tengkorak saya tidak tumbuh seakan-akan tumbuh secara normal seperti seharusnya sejak lahir,” ujarnya.
Dalam perjalanannya, Pearce menjalani 44 kali operasi yang sangat spesial di Alder Hey Children’s Hospital, Liverpool.
Ia menuturkan operasi diperlukan karena tengkoraknya tidak akan tumbuh sendiri untuk memberi ruang bagi otak.
“Itu berarti saya harus menjalani banyak operasi agar ada ruang bagi otak saya untuk tumbuh, karena tengkorak tidak akan tumbuh dengan sendirinya,” katanya.
Selain sindrom tersebut, Pearce juga mengalami hidrosefalus, yaitu penumpukan cairan di otak.
Ia mengatakan dirinya membutuhkan shunt, perangkat yang mengalirkan cairan agar tidak menumpuk di dalam kepala.
Perawatan dan kebutuhan medis itu juga menentukan ritme hidupnya sejak usia sekolah.
Ketika masih kecil, Pearce mengaku justru menjadi sasaran perundungan karena kondisi yang ia miliki.
“Saya pikir itu memberikan dampak pada kepercayaan diri saya… saya sangat pemalu dan tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan guru,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan ada masalah besar ketika harus melakukan kontak mata.
“Saya punya masalah besar dengan kontak mata—saya hanya tidak akan menatap siapa pun secara langsung,” katanya.
Meski menghadapi tekanan dari lingkungan sekolah, Pearce menyatakan kepercayaannya perlahan membaik saat masuk jenjang pendidikan menengah.
Ia menyampaikan terima kasih kepada para guru di St David’s College, Llandudno.
Baginya, perhatian yang ia terima membantu ia kembali berani terlibat di ruang kelas.
Menjelang ujian GCSE, Pearce mengatakan ia sempat absen lebih dari tiga bulan karena serangkaian operasi.
Menurutnya, guru-guru kemudian membantu agar pelajaran yang tertinggal bisa dikejar.
“Namun, guru-guru selalu membantu saya menyusul pelajaran, mereka meluangkan waktu setelah kelas untuk membantu,” tuturnya.
Pola kesulitan serupa, lanjut Pearce, ia rasakan pada awal Tahun 13.
Ia kembali harus menyeimbangkan kebutuhan medis dengan proses belajar yang tetap menuntut konsistensi.
Meski begitu, dukungan yang ia terima membuatnya tetap bergerak maju.
Ia juga mengisahkan satu operasi besar yang dijalani pada musim panas untuk membantu memperbaiki kondisi rahang.
Operasi itu dilakukan untuk mengoreksi underbite yang menurutnya sangat besar, sekaligus mendukung agar ia bisa makan dengan lebih baik.
Pearce menyebut operasi berlangsung selama 14 jam.
“Operasinya berlangsung 14 jam,” katanya.
Setelah operasi tersebut, ia tidak diperbolehkan mengunyah selama dua bulan.
Ia menjelaskan bahwa karena tindakan medis yang dilakukan begitu banyak, ia kehilangan berat badan sebanyak 9 kg, atau sekitar 1,4 stone.
“Saya tidak diizinkan mengunyah selama dua bulan setelah operasi karena mereka sudah melakukan banyak hal, jadi saya kehilangan 9 kg (1,4 stone) dalam berat badan,” ujarnya.
Pearce, yang baru saja menyelesaikan tahun pertama studi kedokterannya, kembali ke sekolah untuk menyampaikan terima kasih kepada para guru.
Langkah itu ia lakukan sebagai bentuk penghargaan atas dukungan yang membuatnya tetap bisa menuntaskan proses pendidikan, meski harus berulang kali menjalani perawatan.
Gambaran tentang dirinya juga disampaikan oleh kepala sekolah Andrew Russell.
Ia menyebut Pearce sebagai “pria muda yang inspiratif” dan menolak untuk membiarkan kondisi kesehatannya atau rangkaian operasi mendefinisikan dirinya.
“Dia tidak pernah membiarkan kekhawatiran atau masalah apa pun menjadi alasan,” kata Russell.
Bagi Pearce, perjalanan panjang melalui operasi dan perundungan tidak membuatnya menjauh dari harapan.
Ia memandang para dokter sebagai sosok yang membentuk arah hidupnya, mulai dari bagaimana ia memperbaiki kepercayaan diri hingga keputusan akhirnya untuk menempuh pendidikan kedokteran.
Dengan pengalaman yang ia jalani dan tekad yang ia bangun, ia kini memulai tahap baru: bekerja di bidang yang dulu memberinya harapan untuk pulih dan bertumbuh.









